Komik Strip Panji Koming : Mengenang Dwi Koen

Komik Strip Panji Koming
Komik Strip Panji Koming, karya Dwi Koen.

Berita Baru, Jakarta – Hari minggu, adalah hari yang paling di tunggu oleh saya yang masih duduk di bangku sekolah. Bukan hanya karena dihari itu sekolah libur. Saya akan tetap bangun pagi tapi bukan untuk pergi sekolah, melainkan untuk mengambil koran dan membuka halaman yang ada komik strip nya. Ya, menjadi pembaca pertama komik strip koran di rumah adalah suatu kesenangan dan kebanggaan tersendiri sewaktu kecil. Begitulah, keseharian sewaktu kecil. Komik strip yang ada di koran cukup memuat senang jiwa kanak-kanak saya.

Komik strip karya Dwi Koen adalah yang paling berkesan. Komik strip Panji Koming garapannya sering membuat saya senyum-senyum sendiri. Walau ada kalanya membuat bingung sehingga saya harus bertanya kepada orang tua, dan setelah dijelaskan maksud dari komik tersebut barulah saya tertawa sambil berucap: “oooh ini toh..”

Panji Koming, merupakan komik strip yang terbit di harian kompas edisi minggu sejak 14 Oktober 1979. Komik ini menceritakan kehidupan sang tokoh utama Panji Koming yang lugu dan peragu, Ia hidup di jaman kerajaan Majapahit. Arti ‘Panji’ sendiri adalah segala sesuatu yang lebih berhubungan pada kebenaran dan kebaikan, sendangkan arti ‘Koming’ adalah singkatan dari ‘Kompas Minggu’, selain itu ‘Koming’ juga berarti bingung atau gila. Selain tokoh Panji Koming, di dalam komik terdapat pula tokoh Ni Woro Ciblon, Pailul, Ni Dyah Gembili, Mbah, serta Denmas Arya Kendor yang membuat komik semakin ‘hidup’.

Berita Terkait :  Komik Eggnoid Resmi Dijadikan Film, Berikut Ulasannya

Meskipun berlatar era kerajaan Majapahit, komik Panji Koming selalu up to date dengan kondisi teraktual yang terjadi di Indonesia. Komik ini mampu mengangkat permasalahan yang terjadi, dan menyindir dengan halus tanpa menginggalkan kesan lucu di akhir bagi para pembacanya. Satir yang berkelas.

Komik strip Panji Koming lahir dari tangan Dwi Koen atau yang bernama asli Dwi Koendoro Brotoatmodjo yang lahir di Banjar, Jawa Barat pada tanggal 13 Mei tahun 1941. Bakat menggambarnya sudah terlihat sejak Ia masih kecil. Untuk memenuhi keinginannya sebagai pelukis, Dwi Koen dewasa pun hijrah ke Yogjakarta dan belajar di Akademi Seni rupa Indonesia (ASRI). Tujuh tahun Ia belajar disana.

Sambil kuliah, Ia juga berkerja mengerjakan ilustrasi komik atau kartun di Harian Kedaulatan Rakyat dan koran Minggu Pagi Yogyakarta pada tahun 1958. Setamat kuliah Dwi Koen lalu bekerja di Televisi Eksperimentil Badan Pertelevisian Surabaya, hingga pada tahun 1972 Ia memutuskan untuk bekerja di Jakarta sebagai ilustrator dan kartunis di Penerbit PP Analisa, dan mulai bekerja di gramedia di tahun 1976. Tiga tahun kemudian lahirlah komik Panji Koming, yang dimuat secara rutin di harian Kompas edisi Minggu sejak tahun 1979.

Lewat karya-karyanya Dwi Koen telah memenangkan berbagai penghargaan. Ia menjadi Pemenang Pemenang I pada Festival Mini Dewan Kesenian Jakarta (1974) , Pemenang II pada Festival Mini Dewan Kesenian Jakarta (1975), Juara I dan II pada Festival Film Iklan Indonesia (1976), Memenangkan Piala Citra untuk kategori Film Dokumenter pada Festival Film Indonesia 1981, Pemenang I Lomba Cipta Iklan Pariwara 1989. Selain dari dalam negeri Dwi Koen juga meraih penghargaan tingkat internasional pada International Animation Festival Hiroshima 1994. Bahkan, karakter Panji Koming terpilih untuk dicetak menjadi gambar perangko Indonesia di tahun 1999.

Berita Terkait :  3 Founder Pendiri Connectoon, Resmikan Pop Culture Hub

Kamis 22 Agustus 2019 yang lalu, komikus Dwi Koen sang pencipta komik strip Panji Koming telah berpulang. Ia menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Premier Bintaro pada pukul 03.14 WIB. Selamat jalan Pak Dwi Koen, terimakasih sudah mengisi dan menjadikan masa kecil saya ceria lewat komik Panji Koming. [Soe]

Tinggalkan Balasan