Kapasitas Rumah Sakit Jakarta akan Penuh pada Awal Minggu Keempat September

Rumah Sakit di Jakarta Penuh
Tangkapan layar Social Resilience Lab Nanyang Technological University, Sulfikar Amir, dalam konferensi pers Proyeksi RS Kolaps di Jakarta yang diselenggarakan secara daring oleh LaporCovid-19.

Berita Baru, Jakarta – LaporCOVID-19 bersama tim Social Resilience Lab Nanyang Technological University, melaporkan proyeksi ‘Kapan Rumah Sakit Kolaps’. Tujuan dari proyeksi ini adalah untuk memprediksi kapan kapasitas rumah sakit Jakarta penuh dalam menangani pasien Covid-19 dan menganalisa dampaknya pada jumlah kematian. 

Proyeksi ini menggunakan pendekatan model matematika yang ditunjang dengan studi literatur dan data jumlah tempat tidur (TT) ICU, Bed Occupancy Rate (BOR), serta data Covid-19 di DKI Jakarta.

Jumlah kasus positif aktif yang dirawat dikorelasikan dengan keterpakaian TT ICU. Korelasi keduanya digunakan untuk memprediksi jumlah maksimum pasien yang bisa dirawat.

Jumlah pasien aktif maksimum berkisar 5.500 pasien di rumah sakit. Proyeksi ini menggunakan skenario terbaik dan terburuk selama 1 hingga 2 bulan ke depan melalui model Gaussian. 

Hasilnya, kapasitas di rumah sakit akan penuh pada awal minggu keempat September. Pandemi ini juga akan mengakibatkan jumlah kematian total mencapai 3.000 orang pada akhir Oktober jika disertai dengan penambahan jumlah kasus positif yang terus meningkat.

Berita Terkait :  Pro Pemilihan Langsung, Jokowi: Sebaiknya Tidak Usah Ada Amandemen

Social Resilience Lab Nanyang Technological University, Sulfikar Amir mengatakan bahwa kebijakan ekonomi dan kesehatan tidak bisa berjalan bersamaan saat pandemi Corona. Sementara itu, pemerintah Indonesia mencoba menaikan pertumbuhan ekonomi pada saat yang bersamaan dengan memprioritaskan sektor kesehatan tentu sulit dilakukan. 

Sudah terbukti secara empirik pada triwulan kedua pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah -5,32. “Jadi ini juga satu kebijakan yang sangat tidak mungkin dilakukan dan mungkin melanggar prinsip-prinsip universal dari public health,” kata Sulfikar, dalam konferensi pers LaporCovid-19, Rabu (9/9).

Sulfikar menyarankan agar saat ini dibutuhkan intervensi sosial yang sangat ketat agar terjadi penurunan jumlah kasus. Menurutnya, satu-satunya cara untuk membuat kurva ini membelok adalah dengan melakukan intervensi sosial pada level kolektif.

Jika kemudian angkanya sudah mencapai tingkat yang relatif terkontrol atau terkendali, “barulah kemudian kita bisa mengandalkan semata-mata intervensi sosial pada level individu yakni protokol kesehatan,” ujar Sulfikar.

Proyeksi ini merekomendasikan dua hal untuk menghindari kolapsnya rumah sakit sekaligus melindungi warga DKI Jakarta dari ancaman infeksi dan kematian akibat Covid-19. Pertama, pemerintah Provinsi DKI Jakarta harus memberlakukan kembali PSSB dengan menutup setidaknya 70% aktivitas dan sarana publik setidaknya selama enam minggu dengan masa evaluasi per 3 minggu.

Berita Terkait :  RUU Omnibus Law Ciptaker Ditarget Selesai Sebelum 17 Agustus

Kedua, pemerintah Provinsi DKI Jakarta harus mengambil langkah lebih tegas lagi untuk memberlakukan kembali bekerja dari rumah, atau work from home (WFH) bagi para pelaku bisnis dan perkantoran. Hanya pelaku usaha di bidang esensial saja yang diperbolehkan beroperasi. 

Rekomendasi ini sekaligus merespon bertambah banyaknya kasus positif Covid-19 yang ditemukan di perkantoran di wilayah DKI Jakarta akibat dibukanya perkantoran dan unit usaha.

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan