Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Industri Jamu Indonesia Hadapi Krisis Bahan Baku

Industri Jamu Indonesia Hadapi Krisis Bahan Baku



Berita Baru, Jakarta – Pendiri Acaraki Jamu, Jony Yuwono mengungkapkan bahwa saat ini industri jamu di Indonesia menghadapi krisis bahan baku. Hal itu diakibatkan banyaknya petani yang lebih memilih menanam kopi atau teh sebagai komoditi untuk diperdagangkan.

“Para petani rempah sebagai penyedia bahan baku dari jamu itu cenderung lebih memilih menanam kopi dan teh. Jika ini berlanjut, jangan sampai rempah kita malah dibudidayakan oleh negara tetangga kita,” kata pengusaha Jony, dikutip dari Antara, Rabu (11/8).

Dalam acara diskusi daring, Selasa (10/8), bertajuk “Telusur Jalur Rempah: Melihat Pengaruhnya pada Kuliner Nusantara” itu, Jony menuturkan, alasan banyaknya petani memilih kopi atau teh karena permintaan dan penjualannya lebih konsisten dibandingkan rempah-rempah.

“Rempah-rempah permintaannya tidak konsisten dan tidak ada bagian penting. Kalau misalnya, industri kopi dan teh ada sortir, kualitas bagus jelek atau bagaimana, sedangkan untuk rempah biasanya digabung saja, tidak disortir mana yg kualitas bagus, sedang atau bawah, sehingga ketika digabung, harga jualnya jadi pukul rata,” terangnya.

Jony juga menyebut, berdasarkan data Riset Tanaman Obat dan Jamu di Indonesia (Ristoja) milik Kementerian Kesehatan tahun 2012, telah dilakukan 209 survei dari 1.068 suku yang ada di Indonesia dan tercatat 15.773 resep jamu berasal dari 1.740 spesies tanaman yang berbeda.

“Jadi artinya 30.000 tanaman obat di Indonesia adalah data base sumber obat atau sumber kesehatan untuk mencegah penyakit masa depan. Jadi tugas kita adalah untuk melestarikan,” kata Jony.

Jony pun menegaskan bahwa generasi saat ini harus ikut berpartisipasi untuk terus melestarikan jamu agar resep dari jamu-jamu yang telah menjadi obat turun temurun tidak menghilang.

Jony mengungkapkan data Ristoja pada Tahun 2015 yang menyatakan 49,5 persen dari pelaku pengobatan tradisional yang meresepkan jamu-jamu tersebut itu sudah berumur 60 tahun ke atas dan hanya sepertiga yang memiliki murid.

“Ketika pensiun, siapa yg akan mengolah? Jika tidak ada yang mengolah, bagaimana dengan resep jamu tersebut? Kalau resep itu hilang, bagaimana dengan budi daya terhadap tanaman-tanaman tersebut?” ujar Jony.

Dalam acara tersebut, Pakar kuliner William Wongso ikut menegaskan bahwa sudah saatnya Indonesia untuk lebih memperkenalkan rempah-rempah yang dimiliki melalui berbagai sektor.

“Sudah saatnya kita perlu mengenalkan rempah melalui prosedur, proses edukatif dari SMK, akademisi pariwisata, juru masak profesional. Bukan lagi cuma meminta lada atau pala. Harus tahu lada terbaik berasal dari mana, pala yang terbaik dari mana. Hal-hal ini kita harus kenal,” katanya.

Menurut William, Indonesia telah menjadi negara penghasil rempah yang sudah dikenal di berbagai negara dunia sejak zaman dahulu, hingga mendapatkan julukan negara Spices Island.

Rempah-rempah yang menjadi bagian dari bumbu, lanjutnya, adalah sebuah keunikan Indonesia yang menjadi bagian dari budaya kuliner dan cerminan kearifan lokal yang berbeda antara satu pulau dengan pulau lainnya.

“Mereka harus diperkenalkan oleh rempah gitu. Rempah-rempah ini komposisi dalam kandungan bumbu harus diperkenalkan dari daerah lain. Harus saling memperkenalkan daerah bumbu dari satu daerah ke daerah lain,” tukas William.