Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Gletser
Ilmuwan Teliti Gletser di Pegunungan Alpen Timur Austria/Doc. Reuters

Ilmuwan Ungkap Gletser Austria Terlambat Untuk Diselamatkan

Berita BaruPara ilmuwan mengungkapkan bahwa gletser di Pegunungan Alpen Timur Austria telah terlambat untuk diselamatkan.

Menurut para ilmuwan kondisi gletser saat ini telah melewati titik tidak bisa kembali dan akan hilang sepenuhnya dalam beberapa dekade mendatang.

Dilansir dari Reuters, sebelumnya para ilmuwan menjelajah di dalam gua es di bawah gletser Austria untuk mempelajari mengapa mereka mencair lebih cepat dari yang diharapkan, dan memahami nasib yang akan menimpa gletser di tempat lain jika perubahan iklim tidak dihentikan.

Gua-gua biru yang menakutkan di bawah gletser menyimpan petunjuk tentang bagaimana es yang terbentuk selama ribuan tahun, meleleh selama beberapa dekade dan runtuh jauh lebih cepat dari yang diperkirakan.

“Kita tidak bisa melakukan apa-apa lagi untuk gletser Alpen timur. Tapi di sini kita bisa melihat apa yang terjadi jika kita tidak melakukan apa-apa untuk gletser lain,” kata Andrea Fischer, yang membawa seorang fotografer ke gua-gua di bawah gletser Jamtalferner di Pegunungan Alpen Tyrolean yang menjulang di atas perbatasan Austria dengan Swiss.

Jamtalferner adalah salah satu dari 30 gletser terbesar di Austria dan salah satu dari 10 glatser yang selalu dilakukan pegukuran oleh para ilmuwan dengan sangat tepat setiap tahunnya untuk mendokumentasikan penurunan yang terjadi hingga sekarang dikatakan tidak dapat diubah.

Menurut mereka terdapat lubang-lubang yang mengikis gletser dari dalam, karena udara yang lebih hangat dan air lelehan yang bersentuhan dengan es-es disekitarnya, sampai runtuh.

“Lubang-lubang ini adalah tanda khas keruntuhan yang kami amati. Ini juga merupakan alasan mengapa hal itu terjadi begitu cepat ,  es benar-benar terkikis dan proses ini tidak terlihat dari permukaan, lalu tiba-tiba semuanya meledak,” kata Fischer, yang juga merupakan penjabat direktur Institut Penelitian Gunung Interdisipliner Akademi Ilmu Pengetahuan Austria, dikutip Berita Baru, Rabu (20/10/21).