Ilmuan Peringatkan Wuhan Tidak Tergesa-gesa Mencabut Lockdown

Wuhan
Pekerja memberi disinfeksi ruang tunggu di stasiun kereta api Wuhan, yang telah ditutup sejak Januari 2020. Foto: Reuters

Perita Baru, Internasional – Para ilmuan mengatakan bahwa pencabutan aturan pembatasan sosial, menghindari kontak fisik, dan penutupan sekolah di Wuhan merupakan tindakan yang terlalu cepat karena dapat memicu gelombang kedua pandemi virus korona di akhir tahun, kata para ilmuwan.

Sebuah penelitian yang diterbitkan di Lancet menunjukkan pencabutan aturan terkait tindakan pencegahan penyebaran COVID-19 pada bulan Maret akan menyebabkan peningkatan jumlah kasus, terutama puncaknya pada bulan Agustus. Kemudian, jika pencabutan itu dilakukan pada bulan April, maka akan menunda puncak gelombang kedua pandemi virus korona pada Oktober. Ini akan kembali menyulitkan terutama pada layanan kesehatan di bulan-bulan berikutnya.

Penelitian ini bertujuan untuk mengingatkan bahwa tidak ada jalan pintas untuk keluar yang cepat dan mudah dari karantina wilayah yang sudah diberlakukan di banyak negara.

Peneliti juga mengatakan, model yang digunakan dalam penelitian ini tidak secara langsung berlaku untuk negara lain, namun kesimpulan keseluruhan mungkin berlaku di mana-mana.

“Langkah-langkah untuk menerapkan aturan menjauhkan kontak fisik sangat berguna. Kita perlu penyesuaian untuk mencabut aturan itu dengan hati-hati. Tujuannya agar bisa menghindari gelombang pandemi berikutnya ketika para pekerja dan anak sekolah kembali pada rutinitas normal mereka,” ujar Yang Liu, seorang peneliti di London School of Hygiene and Tropical Medicine dan sebagai co-author penelitian.

Yang Liu juga menambahkan, “jika gelombang itu datang terlalu cepat, itu bisa menyulitkan sistem kesehatan.”

Berita Terkait :  Positif Covid-19, Kanselir Jerman Mengkarantina Diri
“Saya tidak pernah merasa begitu bahagia”: Hubei mencabut aturan pembatasan sosial setelah diberlakukan karantina wilayah

Penelitian ini sejalan dengan dokumen yang diterbitkan oleh scientific advisory group for emergencies atau Sage (kelompok penasihat ilmiah untuk keadaan darurat) pemerintah Inggris. Penelian dari Sage menyatakan bahwa langkah-langkah pembatasan fisik secara efektif perlu dilakukan setidaknya selama setengah. Dan pencabutan aturan itu harus dilakukan secara bertahap agar mengurangi kemungkinan adanya dampak gelombang pandemi virus korona selanjutnya.

Dengan menggunakan data terbaru tentang penyebaran COVID-19 di Wuhan dan di seluruh Cina, penelitian ini menganalisis berbagai skenario untuk melakukan pencabutan langkah-langkah kontrol intensif yang diberlakukan di Wuhan pada pertengahan Januari, di mana sekolah ditutup dan hanya sekitar 10% dari tenaga kerja telah bekerja (pekerja itu kira-kira hanya petugas kesehatan, polisi dan staf pemerintah dan pekerjaan penting lainnya).

“Kami menemukan bahwa penerapan pembatasan kontak cenderung menunda puncak epidemi secara substansial dan mengurangi jumlah virus korona (COVID-19) di Wuhan. Jika pembatasan ini dicabut pada bulan Maret 2020, puncak kasus kedua mungkin terjadi pada akhir Agustus 2020. Puncak seperti itu dapat ditunda 2 bulan jika pembatasan dilonggarkan sebulan kemudian, pada bulan April, 2020.” Tulis penelitian yang berjudul The Effect of Control Strategies To Reduce Social Mixing On Outcomes Of The Covid-19 Epidemic In Wuhan, China: A Modelling Study.

Sang Penyelamat Kucing Wuhan: pria yang menyelamatkan hewan peliharaan yang ditinggalkan selama pandemi virus korona – video

Kiesha Prem, yang juga dari London School of Hygiene and Tropical Medicine dan penulis utama, mengatakan: “Langkah-langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya telah dilakukan oleh kota Wuhan, termasuk mengurangi pembatasan sosial di sekolah dan tempat kerja. Langkah-langkah itu telah membantu mengendalikan wabah. Namun, kota ini sekarang harus benar-benar berhati-hati untuk mencabut aturan itu, karena pencabutan secara prematur itu dapat menyebabkan puncak gelombang pandemi selanjutnya. Tetapi jika mereka mencabut langkah-langkah itu secara bertahap, ini kemungkinan akan menunda dan meredakan puncaknya.”

Berita Terkait :  Menkeu Siapkan Aturan Realokasi APBN dan APBD Untuk Penanganan COVID-19

Tim penelitan menggunakan pemodelan matematika untuk mensimulasikan dampak dari memperluas atau mengurangi tindakan pembatasan kontak fisik di Wuhan.

Tim Colbourn, seorang ahli epidemiologi dari University College London yang tidak terlibat dalam penelitian ini, mengatakan temuan ini memiliki implikasi penting bagi pembuat kebijakan. Penelitian ini dapat membantu pemerintah tiap-tiap negara untuk menghitung cara meredakan pembatasan kontak fisik atau pembatasan sosial dari waktu ke waktu.

“Mengingat banyak negara yang sedang berperang dengan pandemi virus korona, sekarang mereka berada fase pertama dari karantina wilayah. Karena itu, negara juga harus mulai mengidentifikasi cara-cara yang aman untuk keluar dari situasi karantina wilayah,” ujar Coulbourn.


SumberThe Guardian

Tinggalkan Balasan