Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Hujan Abu Lebat Akibat Meletusnya Gunung Anak Krakatau
(Foto: Info Publik)

Hujan Abu Lebat Akibat Meletusnya Gunung Anak Krakatau

Berita Baru, Jakarta – Gunung Anak Krakatau meletus pada Jumat (10/4/2020) pukul 22.35 WIB, menurut laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Peningkatan aktivitas di gunung yang terletak di Selat Sunda antara Pulau Jawa dan Sumatera ini terekam oleh stasiun observasi di Gunung Anak Krakatau.

Menurut informasi yang disajikan magma.vis.esdm.go.id estimasi kolom abu mencapai ketinggian 657 m di atas permukaan laut. Dikatakan berdasarkan rekaman CCTV di sekitar kawah abu vulkanis menyebar ke timur, abu vulkanis hitam dan abu-abu setebal 500 m membumbung dari dasar kawah.

Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimal 40 mm dan aktivitas seismik ditandai erupsi yang berkelanjutan.

Sebelumnya stasiun pemantauan juga merekam aktivitas erupsi Anak Krakatau pada pukul 21.58 WIB. Seismogram mencatat erupsi terjadi selama 72 detik dengan amplitudo maksimum 40 mm.

Ketinggian kolom abu disebut 357 m di atas permukaan laut. Debu vulkanis pada letusan ini bergerak ke selatan.

Lebih lanjut PVMBG Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) menyatakan, erupsi pada 10 April 2020 material batuan pijar sudah terbawa ke permukaan dengan intensitas yang belum signifikan, jauh lebih kecil dibandingkan rangkaian erupsi pada periode Desember 2018 – Januari 2019.

Sementara potensi bahaya dari aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini adalah lontaran material lava, aliran lava dan hujan abu lebat di sekitar kawah dalam radius 2 km dari kawah aktif. Sementara itu, hujan abu yang lebih tipis dapat terpapar di area yang lebih jauh bergantung pada arah dan kecepatan angin.

Selain itu, potensi bahaya lainnya adalah aktivitas vulkanik berupa erupsi tipe Strombolian saat ini, lontaran material pijar hanya tersebar di sekitar kawah (masih dalam batas kawasan rawan bencana yang direkomendasikan). Erupsi menerus berpotensi terjadi, namun tidak terdeteksi adanya gejala vulkanik yang menuju kepada intensitas erupsi lebih besar.

Meski demikian, berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental serta potensi bahaya G. Anak Krakatau selama Januari hingga 10 April 2020, PVMBG menyimpulkan tidak ada peningkatan ancaman. Tingkat aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau masih tetap pada Level II (Waspada).