Cicit Gandhi Hadiri Protes UU Kewarganegaraan India

(Foto : The Guardian)

Berita Baru, Internasional – Pekan lalu 25.000 pemrotes berkumpul di Mewat, di negara bagian Haryana, India, untuk melakukan perjalanan lima mil bersejarah ke desa Ghasera. Di situlah, 72 tahun yang lalu Mahatma Gandhi melakukan perjalanan yang sama selama kekacauan, mengunjungi daerah itu dengan janji kehidupan yang bermartabat bagi umat Islam setempat.

Sementara jutaan orang menelusuri kembali langkah-langkah Gandhi sebelumnya, kali ini terlihat berbeda. Ribuan orang yang melakukan long march ke Ghasera merupakan aksi protes terhadap Undang-Undang Kewarganegaraan (Amandemen) baru (CAA) yang disahkan oleh parlemen India minggu lalu, yang diyakini sebagai tindakan diskriminatif terhadap umat Islam.

Citra dan spirit perjuangan Gandhi yang dikenal sebagai ‘bapak India’ itu telah terwariskan dalam beberapa protes yang terjadi di India, termasuk yang baru saja terjadi, merupakan protes paling besar setelah empat dekade.

Di seluruh India, orang-orang menyuarakan kekhawatirannya atas undang-undang yang disahkan oleh Perdana Menteri Narendra Modi minggu lalu. Pengesahan itu dianggap sebagai hal beresiko yang akan membawa India menjadi sekuler, dan menghancurkan pluralisme India yang dipersembahkan Gandhi selama hidupnya.

Di antara jutaan orang yang turun ke jalan untuk membela visi inklusif Gandhi tentang India, hadirlah cicit Gandhi ditengah-tengah mereka, Tushar Arun Gandhi. “Untuk pertama kalinya di India yang merdeka, hukum atau sistem diberlakukan dengan cara membedakan, yang membedakan, berdasarkan agama.” Kata Thusar.

Tushar Gandhi telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk mewarisi kakek buyutnya, mendirikan dan mengelola Yayasan Mahatma Gandhi di Mumbai. Ia mengatakan, dengan munculnya pengesahan undang-undang kewarganegaraan baru, sesuatu telah berubah.

“Setiap orang memiliki titik balik dalam kehidupan mereka. Jika diusir dari kereta adalah titik balik dalam kehidupan kakek buyut saya, saya pikir masalah ini mencoba mengubah jiwa bangsa saya yang merupakan titik balik dalam hidup saya. Dalam 10 tahun, negara ini tidak akan menjadi India lagi. Ini akan menjadi kediktatoran fasis. Dan, ingatlah, itu akan menjadi kediktatoran yang menggunakan proses demokrasi, dan itu bahkan lebih berbahaya.” Jelasnya.

Di bawah undang-undang baru, semua migran Hindu, Kristen, Jain, Buddha, dan Sikh yang tiba dari Bangladesh, Pakistan, dan Afghanistan sebelum 2014 akan diizinkan untuk mengklaim diri berkewarganegaraan India.

Namun, hal yang sama tidak berlaku untuk imigran Muslim, di mana setiap orang di India harus menunjukkan dokumen untuk membuktikan garis keturunan India mereka.  Undang-undang baru itu secara tidak langsung menyatakan bahwa hanya Muslim di India yang didefinisikan sebagai ‘penyusup’ yang dideportasi atau dimasukkan ke pusat-pusat penahanan.

Tushar mengaku bangga kepada jutaan pemrotes yang memperjuangkan keadilan masyarakat untuk India, mengingatkan pada gerakan Gandhi 90 tahun yang lalu.

“Lihatlah tentang bagaimana pemikiran Ghandi pada tahun 1930, ketika dia diminta untuk mengirimkan pesan kepada umat manusia, dia menulis, ‘Saya ingin simpati dunia dalam pertempuran kanan melawan kekuatan ini,’ dan hari ini kita kembali berperang dengan kekuatan melawan kekuatan, jadi sangat wajar jika dia (Gandhi) menjadi ikon bagi para pemrotes.”

“Harus ada perdebatan tentang konsekuensi (CAA) secara internasional. Ini menyangkut setiap demokrasi dan menyangkut semua orang yang percaya pada inklusivitas dan ideologi liberal.” Kata Thusar menyudahi.

Sumber : TheGuardian
Facebook Comments
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini