Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Bangun Kerja Sama, Indonesia Pesan Pesawat Tempur dan Kapal Selam dari Prancis

Bangun Kerja Sama, Indonesia Pesan Pesawat Tempur dan Kapal Selam dari Prancis



Berita Baru, Internasional – Indonesia akan menjadi salah satu klien senjata terbesar Prancis di kawasan Indo-Pasifik. Laporan itu muncul usai Presiden Prancis, Emmanuel Macron, sesumbar tentang kerja samanya bersama Indonesia dalam bidang militer mulai dari pesawat tempur hingga kapal selam. Kerja sama tersebut dibahas di sela-sela KTT Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di Bangkok pada 17 November 2022.

Pada bulan Februari, kedua negara (Indonesia-Prancis) menyepakati kerja sama senilai $8,1 bagi Indonesia untuk mengakuisisi 42 jet tempur Rafale, yang diproduksi oleh Dassault Aviation. Indonesia juga memesan dua kapal selam kelas Scorpnene. Kapal serang diesel-listrik dikembangkan bersama oleh Grup Angkatan Laut Prancis dan perusahaan Spanyol Navantia. Kesepakatan lain antara negara-negara tersebut berkaitan dengan pengadaan satelit dan produksi amunisi.

Pembahasan mengenai kapal selam sangat sensitif bagi Prancis setelah kerugian besar bernilai miliaran dolar dalam kemitraan AUKUS pada September 2021 oleh Australia, AS, dan Inggris. . Pada saat itu, inisiatif pertama yang diumumkan di bawah pakta AUKUS adalah penciptaan teknologi kapal selam bertenaga nuklir untuk Angkatan Laut Australia, yang mendorong pemerintah Australia membatalkan perjanjian senilai $66 miliar dengan perusahaan Grup Angkatan Laut Prancis untuk pembangunan pembangkit listrik diesel.

Prancis mengecam langkah Australia sebagai bentuk pengkhianatan. Australia akhirnya menyetujui kesepakatan kompensasi senilai € 555 juta ($ 584 juta) dengan produsen kapal selam Prancis, Naval Group, untuk mengakhiri kontrak dan menarik diri dalam pakta.

Pada bulan Februari, ketika ditanya apakah perkembangan seputar aliansi AUKUS dan pembelian kapal selam yang gagal berdampak pada kesepakatan dengan Indonesia, juru bicara Kementerian Pertahanan Prancis mengatakan kepada media:

“Saya kira tidak, tidak dalam satu atau lain cara Kami memiliki strategi Indo-Pasifik, kami memiliki tekad untuk mempertahankan industri pertahanan kami dan dengan demikian mengekspor.”

Seperti dilansir dari Sputnik News, Presiden Indonesia Joko Widodo memuji kesepakatan dengan Prancis, dengan mengatakan:

“Saya berharap kemitraan pertahanan tidak hanya terfokus pada pembelian amunisi, tetapi juga dengan memperhatikan pengembangan dan produksi bersama, transfer teknologi, dan investasi di industri pertahanan.”

Juga pada hari Kamis, Presiden Prancis Emmanuel Macron dikutip mengindikasikan bahwa kesepakatan pembangunan kapal selam untuk Australia bukan tentang konfrontasi dengan China.

Ketegangan di Laut China Selatan meningkat setelah pengumuman pakta keamanan baru. Meskipun tidak menyebut nama China, aliansi itu dipandang sebagai bagian dari strategi untuk mengimbangi pengaruh China yang semakin besar di kawasan itu. Beijing pada saat itu mengecam pakta keamanan tiga arah sebagai tindakan yang sangat tidak bertanggung jawab. “Aliansi itu berisiko, sangat merusak perdamaian regional dan mengintensifkan perlombaan senjata,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian.