Antologi Theologia Inchoativa | Puisi Yudho Sasongko

Antologi Theologia Inchoativa
PuisiYudho Sasongko

Soteriologi

Tolakan terhadap jalan religius
Upaya yang selalu bertemu sua
Antara Tuhan dan manusia
Terbakar emosi yang dibuat-buat
Hiruk pikuk yang sensual
Iman terpasang akal dan moralitas

Keanekaragaman teologi
Tampak tolol di mata realitas
Katanya agama berasal dari bahasa
Permulaan teologi yang renyah
Kebudayaan jalan pembukanya
Teologi terbangun histeris dan mistis

Simbol, adat, mitos
Kidung dan legenda
Ramaikan persembayangan

Metakosmis mendasar ceruk-ceruk
Kadang gemilang, kadang kerontang
Ajaran keselamatan dan juru selamat
Kuat merekat dan bersekat-sekat

Membidani agama-agama dan animisme
Asia, Afrika, Oceania, berpeyoratif indah
Agama kosmis, agama metropolis dan itu
Sikap hidup homo religius

Tentang psikologis mengigis
Dan yang menggigil
Mencari panas, api, angin
Gempa, dan tentu kelamin
Terbentuk dari purba dan kekinian
Katanya soteriologis

Tentang daya di seberang
Dia yang di seberang sana
Pembebas segala rasa
Gelisa, takut, ribut, carut
Hingga dosa kentut

Dengan jalan cinta dan kasih
Dan rindu tanpa dendam
Pembebas kuasa-kuasa dunia
Harta, tahta, harta lagi
Dan tahta lagi

Berita Terkait :  Ingatan di Puhsarang | Puisi Aditya Ardi N

Agape, jalan cinta kasih itu
Menerima segala penebusan
Uang, nyawa, tetes darah luka
Dan pusara cinta
Kuasa dunia yang terbebas
Merdeka katanya

Gnostik yang membebas
Pengetahuan berdalil-dalil indah
Soteriologis berjaya dan kaya
Menempeli raja-raja
Tercetaklah dengan kitab-kitab
Yang isinya ketat hingga meratap
Konteks realita konkret
Menebas abstrak-abstrak
Penuh amanah dan amarah

Inkulturasi tiada tertahan
Tuhan lawan Tuhan
Kitab lawan Kitab
Berlomba mengganti bungkus dan rumus
Umat lawan Umat
Kiamat katanya

Realitas transfenomenal
Membangun imanen-imanen
Teguh dan Roboh
Sesuai kadar cinta dan dusta
Pertobatan dan pengobatan jiwa
Membara dan meluka

Intuisi-intusi iman terbangun darah
Bertopeng karya keselamatanNya
Nya yang di sana
Nya yang di sini
Nya yang di mana saja
Hingga Nya yang tak bertempat

Sayyid

Menghamburlah ia menuju sayyid
Menangkap cepat tangan sayyid
Menciumnya, seolah nabi

Satu lagi sibuk sirkumsisi
Sekte khitan femina
Memotong daging bak jengger itu
Agar dua khitan segar bertemu
Sayyid katakan itu
Cinta yang sebenar cinta
Walau terlihat memotong sadis

Berita Terkait :  Semiotika Resistensi Puisi Dareen Tatour

Berbarislah para wali
Kelompok Nuqaba, Autad, dan Abror
Ghaut, Akyar, Abdal hingga Quthub
Melawan multiplikasi keiblisan
Yang bisa berbentuk Arsy
Yang memirip Lauh al Mahfudz
Yang mengkloning langit

Belajarlah sayyid
Tentang ajaran cinta
Memandang darah dan hartanya
Halal tertumpah untuk mereka
Selalu memaaf
Yang baik baginya bukanlah besar
Biasa saja

Lubsu al Khirqoh
Itulah pakaian sederhana
Bai’at dan nafas zikir,
Tunduk dalam pandangan
Hijrah sifat dan waras
Tersembunyinya doa-doa
Yang diluncurkan senyap
Seperti kata Al Qorni itu

Menepati tentang kalbu
Hati bersama akal pikiran
Yang tak terpisah
Jasad boleh terpisah
Apalagi darah
Kalbu Salim yang damai
Kalbu Munib yang bertaubat
Kalbu Mutmainah
Kalbu Ya’qilun
Kalbu Mu’minin

Sayyid tenang-tenanglah di sana
Kami luncurkan dari sini
Tentang irhab al aduw
Rasa gentar kepada merekaa
Yang mencintai raga
Kalbu Mutakabir yang sombong
Kalbu Maridh yang sakit
Kalbu Mu’tadin
Kalbu Mujrimin

Tergelincir

Hilangnya pengharapan
Dari para pendosa
Adalah sia-sia saja
Kenapa tak berharap

Hud-Hud saja beharap kerap
Saat melesat beribu anak panah
Dari Bilqis yang merilis
Berkah namanya

Berita Terkait :  Sepotong Senja untuk Hana | Puisi Zainur Rahman

Bila kau muda-mudi
Berani lantang di depan Masyayikh
Jangn berharap seperti Hud-Hud
Yang darinya panah Bilqis meleset

Bisa saja ilmumu mencipta rupa
Mencipta nama-nama
Al Abid, Al Zahid, Al Arif, Al Wali
At Tuqi, Al Khozin hingga Azazil
Namun tetap satu
Yaitu tetaplah Iblis

Seperti kecepatan getar dahsyat
Yang dipelajari para ahlinya
Elektron yang berputar lesat
Pada setiap benda
Berarti hidup
Berarti napas
Berarti ingat
Sebut, sebutlah

Hukum kesahihan dan kedhaifan
Ketika sangat ijtihadi
Ketika orang per orang
Kenapa mesti murka

Ketika hati mati
Gagal hubungkan jism dan ruh
Itulah ashlul khilqoh
Di mana menampung
Di mana kondisisonal
Dalam tatarannya yang jism
Hati cenderung tergelincir

Bagaimana mereka yang terhubung
Dari dua alam yang berbeda
Dalam dimensi ruh
Apakah selalu berperang?

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan