Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Gulalai Ismail
(Foto : Dawn)

Aktifis HAM Pakistan, Gulalai Ismail Melarikan Diri ke AS



Berita Baru, Internasional – Seorang aktivis hak asasi manusia terkemuka Pakistan, Gulalai Ismail, melarikan diri ke AS setelah berbulan-bulan bersembunyi.

Dilansir dari BBC, Jumat (20/9), dalam sebuah pernyataan dia berkata: “Beberapa bulan terakhir ini mengerikan. Saya telah diancam, dilecehkan, dan saya beruntung masih hidup.”

Dia tidak mengungkapkan bagaimana dia meninggalkan negara asalnya itu, mengingat bahwa dia sedang berada di bawah larangan untuk bepergian. Tetapi ia mengatakan kepada The New York Times: “Saya tidak terbang keluar dari bandara.”

Selama bertahun-tahun, Ms Ismail telah menjadi kritikus blak-blakan yang menentang  pelanggaran hak asasi manusia, terutama terhadap perempuan dan anak perempuan.

Di  provinsi Khyber Pakhtunkhwa, ia mendirikan sebuah LSM pada usia 16 tahun yang bernama Aware Girls untuk mendidik gadis-gadis muda tentang hak-hak mereka.

Pada 2013, ia juga menciptakan tim yang terdiri dari 100 wanita untuk menangani masalah-masalah seperti kekerasan dalam rumah tangga dan pernikahan di bawah umur.

Ms Gulalai ditempatkan pada Daftar Kontrol Keluar pemerintah, yang berarti dia dilarang meninggalkan negara itu. Dia belum mengungkapkan banyak informasi tentang bagaimana dia melarikan diri, dia hanya mengatakan bahwa dia tidak melalui jalur udara.

Dia tiba di AS melalui Sri Lanka, tempat warga Pakistan dapat melakukan perjalanan bebas visa, katanya kepada Radio Free Europe.

Juru kampanye itu memberikan sangat sedikit detail waktunya bersembunyi atau melarikan diri karena dia mengatakan dia khawatir hal itu dapat membahayakan orang yang membantunya bersembunyi dan keluar dari negara, menurut The New York Times.

Ayahnya, Muhammad Ismail, mengatakan kepada BBC bahwa Ismail memiliki enam kasus yang diajukan terhadapnya di pengadilan Pakistan. Dan dia telah memutuskan memilih jalan hidup yang cukup membahayakan dirinya.

“Gulalai memutuskan untuk meninggalkan negara itu saat ini karena dia menyadari bahwa hidupnya berada dalam ancaman dan dia harus meninggalkan negara itu jika tidak, apa pun dapat terjadi padanya,” katanya.

Dia pertama kali ditangkap di bandara Islamabad ketika kembali dari London pada Oktober 2018. Pada saat itu dia berada di antara 19 orang yang dituduh membuat pidato anti-negara, anti-militer di sebuah rapat umum yang diadakan oleh Gerakan Pashtun Tahaffuz (Perlindungan), atau PTM, di Swabi pada Agustus 2018.

Pada bulan Februari tahun ini dia kembali ditangkap di provinsi Balochistan saat protes atas kematian aktivis PTM Arman Luni, yang meninggal dalam tahanan.  Kemudian pada bulan Mei, ia didakwa dengan hasutan terhadap negara dan kebangsaan lain selama protes atas pemerkosaan dan pembunuhan seorang gadis Pashtun 10 tahun Farishta di pinggiran Islamabad.

Dia melakukan persembunyian sejak itu, sementara polisi melakukan pencarian yang sia- sia di seluruh negeri.

Sumber : BBC