Berita

 Network

 Partner

67% Masyarakat Indonesia Nilai Kebijakan Penanganan Covid-19 Lebih Banyak Menimbulkan Kepanikan

67% Masyarakat Indonesia Nilai Kebijakan Penanganan Covid-19 Lebih Banyak Menimbulkan Kepanikan

Berita Baru, Jakarta – Berdasarkan hasil survei yang dirilis Indikator Politik Indonesia menunjukkan bahwa ada 67% masyarakat Indonesia yang menilai kebijakan pemerintah dalam menangani Covid-19 lebih banyak menimbulkan kepanikan sehingga mengganggu kehidupan sosial dan perekonomian.

“Secara umum kebijakan penanganan wabah virus corona (COVID-19) oleh pemerintah Sementara itu, 25,6 persen masyarakat merasa kebijakan penanganan Covid-19 oleh pemerintah sudah tepat sudah tepat,” tulis Direktur Eksekutif IPI, Burhanuddin Muhtadi dalam tilisnya, Rabu (25/8).

Burhanuddin juga menyampaikan, mayoritas masyarakat Indonesia merasa tidak memerlukan pembatasan sosial di tengah pandemi Covid-19. “Mayoritas 66.2% setuju dengan pendapat pembatasan sosial tidak diperlukan lagi, setiap warga harus menjaga kesehatan diri dan keluarga masing-masing,” ujarnya.

Di saat yang sama, 27,1 persen masyarakat Indonesia merasa masih perlu melakukan pembatasan dalam berbagai kegiatan sosial dan 6,7 persen masyarakat mengaku tidak tahu. “Jadi ini saya kira bukan keputusan yang mudah oleh pemerintah bagaimana mendayung di antara dua karang,” imbuhnya.

Burhanuddin menjelaskan, dari hasil analisis hasil survei, masyarakat Indonesia sebetulnya tidak menolak pembatasan sosial. Asalkan pemerintah bersedia menanggung kebutuhan ekonomi masyarakat yang terdampak pembatasan sosial.

“Masalahnya negara juga punya keterbatasan. Ini betul-betul situasi yang susah dan butuh keputusan terbaik dari pemerintah. Ini bukan mudah mengakomodasi kepentingan masyarakat,” ujarnya.

Sementara jika disinggung soal urgensi dari Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat, sebanyak 63,6 persen masyarakat mengatakan kurang mendesak atau tidak mendesak sama sekali untuk diterapkan. Sisanya, 25,6 persen mengatakan mendesak, 4,9 persen berpendapat sangat mendesak dan 5,9 persen tidak menjawab atau tidak tahu.

Menurut Burhanuddin, mayoritas masyarakat Indonesia melihat penularan Covid-19 di Indonesia tidak parah. Persentasenya mencapai 45,9 persen.

Sedangkan yang mengatakan penularan Covid-19 di Indonesia sangat parah sebesar 19,4 persen, sangat parah 2,4 persen, sama sekali tidak parah 16,9 persen dan tidak tahu 2,9 persen. “Paling banyak 45,9 persen merasa tingkat penularan Covid-19 di wilayah sekitar tempat tinggal saat ini tidak parah,” tandasnya.

Survei ini dilakukan secara tatap muka terhadap 1.220 responden pada 30 Juli hingga 4 Agustus 2021. Penarikan sampel menggunakan metode multistage random sampling. Populasi survei merupakan rakyat Indonesia yang memiliki hak pilih dalam pemilihan umum yakni berumur 17 tahun ke atas. Margin of error survei ini sebesar 2,9 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Berita Terkait :  USAID Indonesia Dukung Keterlibatan Masyarakat Sipil dalam Menghadapi Pandemi