10 Film Terbaik 2020 versi TIME: Mana yang Sudah Kamu Tonton?

-

Berita Baru, Film – Tahun 2020 hampir berakhir. Ini tahun yang cukup aneh bagi penikmat film, apalagi di Indonesia, karena hampir kira-kira selama 8 bulan kita tak ke bioskop. Platform streaming menjadi andalan kala suntuk.

Meski begitu, jangan lupa bawah tahun ini juga rilis film-film luar biasa yang kudu kamu tonton. Apa saja? Ini dia, 10 film terbaik tahun 2020 versi majalah TIME.

Bill and Ted Face the Music

Di tahun yang melelahkan dan penuh cobaan ini, siapa sih yang nggak butuh suntikan semangat? Untuk itu, Alex Winter dan Keanu Reeves kembali muncul dengan peran yang mereka mainkan tiga dekade yang lalu. Yap, Bill and Ted Face the Music merupakan lanjutan dari Bill and Ted’s Excellent Adventure (1989) dan Bill and Ted’s Bogus Journey (1991).

Dulunya, mereka adalah remaja yang terobsesi dengan gitar dan mengubah dunia melalui time travel di sebuah bilik telepon. Kini, mereka telah menjadi suami dan ayah yang harus menghadapi ketidakamanan dunianya akibat kemunculan sesosok paruh baya. Kekacauan yang mereka hadapi hanya dapat diatasi oleh lagu karya Preston-Logan. Apakah mereka bisa melakukannya?

Film ini mengingatkan bahwa mimpi adalah kekuatan sejati kita. Karya yang dibuat dengan sungguh-sungguh ini mampu menerangi hari-hari gelapmu. Keanu Reeves yang lebih sering muncul dalam cerita-cerita serius seperti Matrix dan Speed pun dapat kamu lihat tampil menyegarkan dalam drama komedi-aksi ini.  

Miss Juneteenth

Penulis dan sutradara Channing Godfrey People melakukan debut yang melegenda melalui film Miss Juneteenth. TIME menulis, film Channing menjadi semacam balsam bagi orang-orang Amerika yang tampak keras kepala.

Plot film ini menceritakan seorang single mom yang merupakan mantan ratu kecantikan ketika remaja bernama Miss Juneteenth. Ia memasukkan anaknya yang berumur 15 tahun ke dalam kontes yang sama. Padahal, anaknya tak ingin berpartisipasi di kontes itu.

Akting Nicole Beharie mendapat banyak pujian di film ini. Miss Juneteenth mengingatkan kita bahwa dunia ini jauh lebih besar, lebih kaya, dan lebih beragam dari apa yang kita pikirkan. Bakal menyenangkan nih untuk ditonton bareng keluarga!

Nomadland

Apa makna rumah bagimu? Apakah itu tempat tinggal yang kita tempati, atau tempat dimana jiwa kita berada? Pertanyaan itu dieksplorasi Chloe Zhao dalam film Nomadland dengan cemerlang dan atraktif.

Kisahnya dimulai ketika terjadi kejatuhan ekonomi di Desa Nevada. Fern menjual rumahnya, berkemas dan membawa barangnya dengan mobil van untuk pergi mengembara di sepanjang Amerika Barat.

Dalam film Nomadland,Frances McDormand memberikan penampilan yang luar biasa sebagai seorang janda yang meninggalkan rumahnya, berkelana dan bekerja dimanapun sebisanya. Ia pergi sendirian, namun tidak pernah sendirian. Ia menemui orang-orang unik di perjalanannya. Film ini, bisa dibilang, memberikan kehangatan.

Wolfwalkers

Kisah animasi yang menggembirakan dari Toom Moore dan Ross Stewart ini mengisahkan tentang seorang anak gadis Inggris di Irlandia pada abad ke-17. Ia ingin menjadi pemburu serigala sebagaimana yang dilakukan ayahnya dan berteman dengan seorang punkette misterius penghuni hutan yang menyimpan sejarah mengenai serigala.

Wolfwalkers dipoles dengan jiwa-jiwa mistis yang ditampilkan melalui sketsa modern ala abad pertengahan. Sungguh tontonan yang memesona di tahun 2020 ini.

Emma

Jika kamu menyukai Pride and Prejudice, mungkin kamu bakal menyukai film satu ini. Soalnya, Emma. juga diangkat dari karya novelis Inggris, Jane Austen. Dia kerap mengeksplorasi fenomena sosial secara tajam, dipadukan dengan parodi dan ironi.

Emma. merupakan film drama komedi yang disulap menjadi lebih hidup dan mencerahkan berkat arahan sutradara Autumn de Wilde. Dimeriahkan dengan karakter Anya Taylor-Joy, perempuan yang mulai merasakan cinta dan menempuh perjalanan istimewa untuk mencari belahan jiwanya. Sayangnya, ia dipusingkan dengan kotak-kota kelas sosial yang membuat pilihannya menjadi kian sulit.

Lovers Rock

Lovers Rock termasuk film paling pendek dalam antologi Small Axe karya Steve McQueen. Namun tetap saja, film ini mampu menghipnotis kita. Alkisah pada 1980-an, orang Indian Barat di London sering ditolak masuk ke klub dan mengadakan pesta di rumah mereka sendiri.

Bertemulah sepasang pecinta yakni Franklyn Cooper dan Martha Trenton di sebuah pesta reggae rumahan di London Barat. Dilansir dari TIME, film ini memberikan energi, menjadi pelipur lara yang begitu puitis.

David Byrne’s American Utopia

Disutradarai oleh Spike Lee, film David Byrne’s American Utopia menyajikan rekaman pertujukan broadway yang megah dari seorang David Byrne. Film ini menampilkan sensasi kebahagiaan dan ekspresi yang luar biasa, dengan lagu bagi semua orang.

Itulah yang dilakukan Byrne dan kelompoknya yang terdiri dari 11 musisi dan penari serta lagu-lagu termasuk komposisi terbaru Byrne. Terasa familiar dan segar di telinga, inklusif tapi juga eksplosif. Satu hal yang ditorehkan Lee, bahwa untuk hidup dengan cara yang berarti, maka kita harus tetap saling terhubung.

https://www.youtube.com/watch?v=IjYblOsroDM

The Trial of the Chicago 7

Film drama hukum dari Amerika Serikat ini cukup ramai dibicarakan. Disutradarai dan ditulis oleh Aaron Sorkin, film The Trial of the Chicago 7 mengangkat kisah sejarah mengenai aksi protes damai di acara Konvensi Nasional Partai Demokrat tahun 1968 yang menjadi rusuh.

Ditampilkan dalam film ini bagaimana sekelompok aktivis anti-perang diadili karena berkonspirasi untuk menghasut kerusuhan tersebut. Film berdurasi 129 menit awalnya bakal tayang di bioskop melalui Paramount Pictures. Namun akibat pandemi, film ini pun didistribusikan melalui Netflix.

Collective

Film Collective yang disutradari Alexander Nanou ini siap membawamu mengikuti kisah tim jurnalis asal Rumania yang mengungkap skandal perawatan kesehatan. Kita diajak menelisik lebih dalam ke dalam korupsi pemerintahan. Film dokumenter ini cukup langka dan menjadi sebuah thriller politik yang menegangkan. Meski begitu, Collective berhasil menyentuh kita dengan kisah mengenai kekuatan jurnalisme investigasi.

https://www.youtube.com/watch?v=NCiK-Z4yiiU

First Cow

Tahun 1820-an, di wilayah Pasific Northwest yang hijau, seorang pembuat roti dan seorang imigran China mulai berwirausaha dengan menjual kue yang bahannya dibuat dari susu sapi lokal. Usaha mereka meroket, persahabatan pun terjalin kian dalam. Tenang dan memesona, itulah film First Cow karya Kelly Reichardt tersebut. Cocok ditonton di akhir pekan untuk menyaksikan sisi-sisi yang jarang tampil dalam film mengenai Amerika.

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

Facebook Comments