Untuk Kalimantan, Pemerintah Siapkan Hujan Buatan

    Kalimantan
    Hutan Kalimantan Berpotensi Kebakaran Lagi

    Berita Baru, Pontianak – Puncak musim kemarau dikawasan Kalimantan diprediksi masih berlangsung hingga September. Menghadapi hal ini, upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus ditingkatkan, diantaranya dengan opsi hujan buatan.

    “Saat ini, kondisi awan sudah lebih dari 70%, sehingga hujan buatan memungkinkan untuk dilakukan,” ujar Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Wiranto saat memimpin peninjauan kondisi terkini penanganan karhutla di Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), Jumat (23/8).

    Lebih lanjut Wiranto menyampaikan, ketersediaan sumber daya manusia, sumber air, sarana dan prasarana di Kalbar sudah cukup, namun masih perlu ditingkatkan.

    “Saya diminta untuk memberikan arahan. Saya kira arahan tidak perlu, karena yang diarahkan lebih tahu kondisi di lapangan, dan sudah menjalankannya dengan baik. Maka arahan saya singkat saja, kita terus tingkatkan doa dan usaha, termasuk dengan melakukan berbagai terobosan dalam penanganan karhutla ini,” ujarnya.

    Dalam laporannya, Komandan Satuan Tugas Pengendalian Karhutla (Dansatgas Dalkarhutla) Provinsi Kalbar, yang diwakili oleh Kepala Staf Korem (Kasrem) 121/ABW selaku Wakil Dansatgas Dalkarhutla Provinsi Kalbar, Kol. Inf. Achmad Solihin, menyampaikan tahun ini terjadi penurunan hotspot (titik panas) di Provinsi Kalbar.

    Berita Terkait :  Pusat Perawatan dan Karantina Covid-19 di India Dilalap Api, 10 Orang Meninggal

    “Kondisi hotspot di Kalbar selama 1 Januari-20 Agustus 2019 sejumlah 6.724. Jumlah ini menurun dibandingkan periode yang sama pada tahun 2018, yaitu 9.991. Kami mencatat rata-rata hotspot tiap harinya muncul 28 titik, ” jelasnya.

    Achmad juga melaporkan, berkat kerja keras Satgas Dalkarhutla, operasionalisasi sejumlah bandara di Provinsi Kalbar masih berjalan dengan lancar tanpa hambatan.

    Pada kesempatan tersebut, Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji menyampaikan terima kasih, karena dengan adanya peninjauan ini, memberikan semangat khususnya bagi segenap jajaran Pemerintah Daerah Provinsi Kalbar dalam pengendalian karhutla di Provinsi Kalbar.

    “Kebakaran hutan dan lahan ini harus kita akhiri agar tidak berulang setiap tahunnya. Kami telah dan akan terus melakukan berbagai upaya, diantaranya dengan mengeluarkan Peraturan Gubernur yang memperketat penanggulangan karhutla yang terjadi pada lahn konsesi,” tuturnya.

    Sutarmidji mengungkapkan, dari hasil evaluasi, titik api paling banyak berada di konsesi. “Ada 93 perusahaan yang sudah kita panggil. Selain itu, 11 diantaranya sudah disegel dan masih mungkin bertambah,” jelasnya.

    Berita Terkait :  Ketua KPU Gresik Positif Covid-19, Tugas Roni Sementara Waktu Digantikan Siddiq

    Oleh karena itu, dalam Peraturan Gubernur tersebut juga memperketat persyaratan untuk pemadaman di areal konsesi, termasuk mengatur agar biaya yang timbul menjadi kewajiban pemilih konsesi.

    Turut hadir bersama rombongan di Provinsi Kalimantan Barat yaitu Menteri LHK Siti Nurbaya, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian, Kepala BNPB Letjen Doni Munardo, dan Kepala Badan Restorasi Gambut Nazir Foead. Sebelumnya, rombongan juga melihat kondisi terkini penanganan karhutla di Provinsi Kalimantan Tengah, Jumat (23/8).

    Hadir juga saat peninjauan ini, Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Pejabat Pimpinan Tinggi dari KLHK, dan Kementerian Pertanian, serta Kepala-kepala Unit Pelaksana Teknis KLHK di Kalbar.

    [Abu/Siaran Pers]
    - Advertisement -

    Tinggalkan Balasan