Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Presiden Joko Widodo. (Foto: Istimewa)
Presiden Joko Widodo. (Foto: Istimewa)

Presiden Jokowi Peringatkan Kelangkaan Energi Akibat Perang

Berita Baru, Jakarta – Presiden Jokowi memperingatkan adanya perang menyebabkan kelangkaan energi yang akibatnya memicu kenaikan harga barang.

Presiden menyamapaikan sekarang ini kelangkaan energi sudah menghantui dunia. Kelangkaan ia ramal akan semakin menjadi setelah terjadinya konflik atau peperangan di mana-mana. Termasuk, akibat perang antara Rusia dan Ukraina belakangan ini.

“Yang kelangkaan energi sudah dulu sebelum perang harganya naik karena kelangkaan. Ditambah perang, harganya naik lagi. Sekarang harga per barrel sudah di atas US$100 yang sebelumnya hanya US$50-US$60. Semua negara yang namanya harga BBM naik semua, LPG naik semuanya. Hati-hati dengan ini, hati-hati dengan harga, kenaikan, karena semuanya naik (harganya),” kata Jokowi saat memberikan sambutan dalam Rapat Pimpinan TNI- Polri di Jakarta, Selasa (01/03/2022).

Selain dipicu peperangan, Presiden mengatakan potensi kenaikan harga barang juga terjadi akibat kelangkaan kontainer, krisis pangan yang melanda dunia usai pandemi covid melanda. Kelangkaan yang sebelumnya tak pernah diperkirakan semua orang termasuk Jokowi itu, telah mengganggu perdagangan.

“Kalau harga kontainer naik, harga naik artinya apa? Harga barang juga akan ikut naik. Kalau harganya naik artinya apa? konsumen beli dengan harga lebih mahal dari biasanya. Itu baru urusan kontainer,” katanya.

Presiden menambahkan akibat kelangkaan itu, harga pangan di dunia juga mulai naik.

“Beberapa negara sudah di atas 90 persen (naiknya), hati-hati dengan ini yang namanya urusan pangan,” katanya. 

Menurutnya, permasalahan itu harus diwaspadai. Pasalnya, kalau dibiarkan masalah tersebut bisa menimbulkan efek berantai.

“Pabrik mau produksi sesuatu dia beli bahan baku harganya naik, dia mau beli bahan baku harga naik, beli BBM harganya naik, artinya apa? ongkos produksi naik, terus harga di pabriknya menjadi jauh lebih tinggi, terus dikirim ke pasar berarti harga konsumennya juga nanti akan naik, ini efek berantainya seperti ini,” katanya.