Pemikiran Postmo dalam Literasi Pegon Ulama Nusantara

Pegon
(Foto: Langgar.co)

Pemikiran Postmo dalam Literasi Pegon Ulama Nusantara

Oleh: Imam Nawawi
(Santri Madura. Pecinta Kebudayaan. Penggemar kopi Madura.)


Langgar.co – Jacques Derrida sudah nyata terpengaruh gaya arsitektural bangunan candi di Yunani Kuno. Distyle in Antis namanya. Suatu bentuk bangunan yang bisa ditemukan di Delphi, yang dibangun kisaran 525 sebelum Masehi. Pengaruh itu kemudian terlihat dalam gaya penulisan bukunya yang berjudul Glas (1974).

Secara konten, Glas mengkomparasikan pemikiran Wilhelm Friedrich Hegel dan Jean Genet (Simon Raphael, “Style and Culture: Remembrance,” Los Angeles Times, 2011). Tetapi, secara gaya kepenulisan, Glas ditulis dalam dua kolom berbeda, sehingga ukuran fontnya berbeda (John Sturrcok, “The Book is Dead: Long Live the Book!,” The New York Times, 2011).

Glas dan Distyle in Antis memilikir kesamaan. Bangunan ini memiliki ruangan-ruangan, di mana satu ruangan menutup ruangan lain. Jika melihat teknik penulisan Glas kita langsung merujuk pada teknik pembangunan Distyle. Tulisan Derrida merefleksikan alam dan lingkungannya. Inilah satu alasan Derrida dikategorikan pemikir filosof postmo.

Ulama-ulama Nusantara hidup di alam geografis yang berbeda dari Derrida. Nusantara kaya raya dengan keindahan alam; gunung-gunung dan lembah-lembah terdapat di mana-mana; sungai-sungai dan lautan mudah kita dapatkan. Keindahan alam yang kemudian merasuk ke dalam kesadaran, habitus menurut Pierre Felix Bourdieu, mereka saat mengarang kitab.

Kitab-kitab Pegon adalah buku yang memiliki teknik penulisan postmo. Pertama, sebagaimana Glas karya Derrida, tulisan Pegon memanfaatkan ruang apa pun yang tersedia. Bayangkan para ulama Nusantara pada waktu itu memanfaatkan ruang di antara dua baris kitab, namun menciptakan diferensiasi dengan teks aslinya. Salah satu diferensiasi tersebut berupa pemiringan (italic).

Di satu sisi, teks Pegon memiliki keserupaan dengan teks Arab. Ditulis dari arah kanan ke kiri. Tetapi, diferensiasi yang dilakukan ulama membuat Pegon harus turun melandai, sehingga arah penulisannya berbeda dari teks asli yang diberi syarah atau komentar maupun makna dan terjemah. Karenanya, jika melihat teks Pegon sering kali kita membayangkan sedang turun dari puncak gunung ke lereng yang lebih rendah.

Kedua, teks Pegon mengingatkan pada badan-badan kapal atau perahu yang sedang berlayar di lautan lepas atau sungai. Masyarakat Nusantara merupakan masyarakat nelayan. Hal itu tidak bisa dipungkiri. Sehingga watak sebagai nelayan yang berani menghadapi tantangan gelombang samudera, juga meresap ke dalam teknik penulisan teks Arab Pegon.

Buktinya, syarah dan makna atas teks asli sering ditaruh terpisah dari kolom utama. Syarah dan makna ditempatkan di pinggiran-pinggiran kitab secara acak. Teknik Ulama Nusantara ini jelas-jelas berbeda dan sangat orisinil bila dibanding dengan teknik ulama Timur Tengah dalam menulis kitab syarah atas matan, atau kitab hasyiyah atas kitab syarah.

Pola kepenulisan kitab syarah dan hasyiyah dari ulama Timur Tengah tidak jauh berbeda dari kepenulisan Glas dari Jacques Derrida; berada pada dua kolom atau lebih dengan ukuran berbeda tetapi masih teratur. Sementara Pegon bagaikan sebuah kapal nelayan yang berani sendirian mengarungi samudera lepas. Dan ulama Nusantara berani melakukan penulisan begitu.

Ketiga, kreatifitas Pegon. Mungkin Glas dari Derrida tersebut hanya berani bermain di level struktur dan ukuran font, tidak jauh bermain substansi penciptaan teks baru. Sedangkan Pegon tidak takluk pada huruf Hijaiyah yang berjumlah 29 huruf tersebut. Arab Pegon berani meminjam huruf-huruf Persia, seperti memasukkan huruf-huruf yang memiliki tiga titik dan tidak ada pada huruf Arab. Misalnya, Huruf Jim pada Arab Hijaiyah (bunyi: J) memiliki satu titik di bawah, sedangkan Jim Arab Pegon memiliki tiga titik di bawah (bunyi: C).

Selain meminjam dari Persia, Arab Pegon juga meminjam bunyi dari India. Misalnya, Huruf Ghain baik dalam Arab Hijaiyah maupun Persia sama-sama memiliki satu titik di atas. Sedangkan pada Arab Pegon membuatnya memiliki tiga titik di atas (bunyi: Ng). Bunyi huruf “Nga, Ngi, Ngu, Nge, Ngo” atau “Ang, Ing, Ung, Eng, Ong” tidak akan ditemukan dalam Arab Hijaiyah maupun Persia. Karena bunyi sengau tersebut diambil dari huruf Jawi-Sanskerta.

Yang perlu dicatat di sini, kreatifitas ulama Nusantara pencipta penggunaan huruf Pegon ini diwariskan sejak jaman sebelumnya, yakni ketika ilmu pengetahuan masih ditulis dalam huruf Jawa. De-kulturisasi maupun de-literalisasi Hindu-Buddha merupakan teknik kepenulisan sekaligus teknik dakwah ulama Nusantara. Sejak ulama Islam masuk, huruf Jawa mengalami perubahan kreatif terus-menerus sampai pada puncaknya, ulama Nusantara memiliki huruf Jawa khas mereka, yang berbeda dari huruf Jawa sebelumnya.

Ketika masyarakat sudah populer dengan huruf Arab, dan ulama Nusantara optimis meninggalkan huruf Jawa, maka ilmu pengetahuan pun ditulis dalam huruf Arab. Namun, huruf Arab yang dimaksud adalah huruf Arab yang dimodifikasi menjadi Pegon. Semangat untuk kreatif dan tidak tunduk inilah semangat postmo yang dimaksud tulisan ini.

Semangat postmo menurut Cornel West (1989) dalam bukunya The American Evasion of Philosophy ditandai oleh tiga hal: runtuhnya dominasi Eropa, bangkitnya Amerika sebagai kekuatan baru, dan proyek dekolonialisasi oleh Asia mapun Afrika. Nah, ulama Nusantara melalui Arab Pegon dalam karya-karya mereka sedang menyisipkan spirit postmo ini untuk diwariskan kepada generasi kita; yakni, semangat kreatifitas untuk tidak tunduk pada hegemoni intelektualisme manapun. Wallahu a’lam bis shawab.[*]


  • Artikel pernah tayang di Langgar.co dan diterbitkan kembali atas persetujuan redaksi Langgar.co. Baca artikel asli KLIK DI SINI.

Tinggalkan Balasan