Operasi Gideon: Venezuela Jatuhi Dua Tentara Baret Hijau AS Hukuman 20 Tahun Penjara

Operasi Gideon
Dokumen pribadi orang Amerika diperlihatkan oleh Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada bulan Mei. Foto: Istana Miraflores via Reuters.

Berita Baru, Internasional – Pada hari Jumat (7/8) malam, Pengadilan Venezuela menjatuhi hukuman 20 tahun penjara kepada dua mantan tentara Pasukan Khusus Angkatan Darat Amerika Serikat, yang biasa dikenal sebagai Baret Hijau (Green Barets), menurut Kepala Jaksa Venezuela Tarek William Saab.

Mereka dihukum atas peran mereka dalam serangan melalui pantai yang gagal pada tanggal 4 Mei kemarin dengan tujuan untuk menggulingkan Presiden Nicolas Maduro.

Dua mantan tentara Baret Hijau itu adalah Luke Denman dan Airan Berry. Mereka mengakui bahwa mereka mengambil bagian dalam operasi serangan itu.

“Mereka mengakui bertanggung jawab atas fakta-fakta itu,” tulis Saab dalam akun resmi Twitternya, dalam bahasa Spanyol.

Saab juga menambahkan bahwa kasus itu akan berlanjut untuk puluhan terdakwa lainnya. Namun sayangnya, ia tidak memberikan rinciannya.

Berita Terkait :  Pangkalan Militer Asing Irak Diserang Rudal

Menurut Aljazeera, operasi tanggal 4 Mei atau yang dikenal dengan Operasi Gideon, berasal dari kamp pelatihan darurat di negara tetangga Kolombia. Dari operasi itu, sedikitnya delapan tentara pemberontak tewas dan 66 orang dipenjara.

Mantan Baret Hijau Jordan Goudreau, yang mengoperasikan perusahaan keamanan swasta yang berbasis di Florida bernama Silvercorp USA, mengaku bertanggung jawab atas kudeta yang gagal.

Jaksa Venezuela mengumumkan bahwa Denman dan Berry, keduanya mantan anggota dinas AS, dinyatakan bersalah atas konspirasi, perdagangan senjata ilegal, dan “terorisme.”

Denman dan Berry ditangkap oleh komunitas nelayan pesisir Chuao.

Sejak mereka ditangkap, mereka ditayangkan secara luas oleh para pejabat di TV nasional Venezuela sebagai bukti bahwa AS berusaha menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

Operasi Gideon juga memberikan bukti bahwa, dengan dukungan AS, pemimpin oposisi atau yang mengaku sebagai Presiden ‘Sementara’ Venezuela Juan Guaido memberi wewenang kepada Goudreau melalui perjanjian yang ditandatangani untuk melakukan serangan, yang dilakukan oleh dua mantan penasihat politik Guaido.

Ketika Operasi Gideon berhasil dipatahkan, Juan Guaido dan pejabat AS membantah terlibat dalam operasi kudeta tersebut.

Berita Terkait :  Hindari Ketergantungan Ekonomi terhadap China, AS Siap Bantu Inggris Bangun Jaringan 5G

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Mike Pompeo mengatakan Washington akan menggunakan semua cara yang mungkin untuk membebaskan Denman dan Berry.

Sehari sebelum pihak berwenang mengumumkan dua mantan Baret Hijau dijatuhi hukuman, otoritas Venezuela melakukan persidangan terhadap enam eksekutif Amerika dari perusahaan Citgo yang berbasis di Houston.

Keenam eksekutif AS itu ditangkap dua tahun lalu di Venezuela atas tuduhan korupsi.

Kasus tersebut telah berlangsung selama berbulan-bulan sampai mantan Gubernur New Mexico Bill Richardson bertemu secara pribadi pada bulan Juli dengan Maduro di Caracas untuk mendesak mereka dibebaskan sehingga mereka dapat kembali ke AS.

Pemerintahan Trump tahun lalu memberikan dukungannya untuk menjadikan Juan Guaido sebagai presiden ‘sah’ Venezuela dan bersumpah untuk menggulingkan Maduro.

Pada gilirannya, Guaido menyalahkan Maduro atas kejatuhan ekonomi dan sosial Venezuela yang pernah berjaya dan kaya akan minyak, sementara Maduro itu mengatakan Washington memanipulasi Guaido untuk mencuri kekayaan minyak Venezuela.

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan