Obituari Radhar Panca Dahana: Hidup untuk Pengabdian Seni dan Budaya

-

Davida Ruston Khusen


“Kami kecil, kami tidak berbayar, kami tidak berdaya tapi jangan anda kira kami tidak punya upaya.”

Letupan kalimat itu keluar lantang dari lelaki cungkring berkemeja putih lengan panjang, lengkap dengan pantofel hitam, celana bahan, ala-ala pejabat teras sekarang (menyindir kesewenangan). Dia tindih puadai reruntuhan bangunan bersejarah yang mulanya berdiri megah di belakangnya. Mengutuk fadihat, sembari mengajak handai tolannya berpartisipasi. Dia tak ingin sendirian. Jelas! Dia sadar bahwa gedung itu adalah kehidupan. Kehidupan yang menghidupi kebudayaannya, keseniannya, koleganya, masyarakatnya, martabatnya.

Begitulah Radhar Panca Dahana menggelegak. Dia pimpin aksi protes Forum Seniman Peduili Taman Ismail Marzuki (TIM) menentang revitalisasi. Musababnya, revitalisasi itu dimulai tanpa ada ruang diskusi dengan para pekerja seni. Lebih-lebih tanpa pengganti atau alternatif, seniman juga akan kehilangan ruang berproses, berkreasi, dan memublikasikan karyanya selama dua tahun revitalisasi fisik. Baginya, ini merupakan buah dari kejahatan. Mematikan kebudayaan secara perlahan.

Nampaknya, hal tersebut bukan yang pertama kali dia lakukan. Laku dan Karya-karyanya selama ini mencerminkan perlawanan. Melawan karena benar dan peduli. Pantang tinggal diam pada penindasan, ketidak adilan, kesewenangan, apalagi tirani rezim halai-balai. Siapapun akan dia lawan. Prinsipnya tegak lurus bak rotan yang kepalang kering. Namun, kini Radhar Panca Dahana telah berpulang. Kabar duka itu tersiar Kamis (22/4/2021) malam dari RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Lagi dan lagi, kita kehilangan orang tua yang mengajarkan bagaimana mempertahankan idealisme. Menjunjung tinggi prinsip lebih dari segala yang dia miliki.

Investasi budaya

Pada edisi Berbagi Cerita di Balik Berita (Bercerita) edisi ke-25 lalu–Link Youtube—Beritabaru sempat berbincang dengan almarhum. Menyorot perihal “Kepemimpinan dan Kekuasaan dalam Budaya Bangsa Kita”. Dalam kacamata Radhar kebudayaan kita saat ini lebih dicerna sebagai sebuah produk yang dapat diamati. Makna kebudayaan dipersempit, disalahpahami dalam ukiran produk material. Kondisi yang demikian membuat kebudayaan itu seperti mati suri. Hidup tapi seperti mati. Wujuduhu kaadamihi.

Alih-alih menyadari. Pemerintah justru abai dengan problema kebudayaan. Menurut Radhar, tak ada negara tanpa bangsa, tiada bangsa tanpa budaya.

“Kondisi yang paling fundamental menurut saya adalah kebudayaan. Sebagian orang ada yang mengatakan ekonomi, politik, atau pendidikan. Tetapi bagi saya fondasi yang utama adalah kebudayaan. Sayangnya kebudayaan kita lemah. Fondasi kebudayaan ini runtuh hancur. Memengaruhi cara berpikir dan bersikap baik elit maupun masyarakatnya. Fondasi kebudayaan itulah yang menegakkan negeri ini,” ujarnya.

Meminjam kalimat Kenedi Nurhan jurnalis senior Kompas; Karena itu, Radhar tak pernah berhenti mencari di mana, kapan dan mengapa kebudayaan sejatinya bangsa ini terkubur, sebelum akhirnya diambilalih oleh model ”kebudayaan baru” yang kemudian membentuk peradaban kita hari ini. Sebuah ”peradaban baru” yang dalam pendekatannya berpotensi melahirkan konflik, antara lain karena kecenderungannya yang dominatif dan materialistik.

Hingga saat ini, menurut pria yang  menyelesaikan Program S1 Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Indonesia (1993) dan studi Sosiologi di École des Hautes Études en Science Sociales, Paris, Prancis (2001), negeri ini masih membangun kesadaran semu. Memandang sebelah mata kebudayaan, diposisikan sebagai objek yang perlu dieksploitasi dan dimanipulasi.

Gerah dengan kelancungan tersebut, arkian Radhar bersama dengan budayawan lainnya membentuk Tim Mufakat Budaya Indonesia (MBI) yang dikoordinatori Radhar sendiri. MBI dibentuk sebagai inisiatif dan upaya gerakan demi memperbaiki tatanan pemerintahan agar memprioritaskan aspek budaya untuk fondasi pembangunan di Indonesia.

Terdidik disiplin

Lahir di Jakarta, 26 Maret 1965, Radhar Panca merupakan anak kelima dari tujuh bersaudara di mana semuanya mempunyai nama depan yang sama. Radhar sendiri adalah akronim dari nama kedua orang tuanya: Radsomo dan Suharti. Radhar Panca memiliki masa kecil yang keras hasil didikan sang ayah yang pernah difitnah sebagai penyokong komunis. Didikan otoriter sang ayah kepada Radhar Panca dan saudara-saudaranya membuat mereka sangat disiplin, terutama dalam belajar.

Radhar Panca Dahana memang dianugerahi bakat menulis. Ketika masih duduk bangku kelas lima sekolah dasar, ia sudah mampu menulis sebuah cerita pendek “Tamu Tak Diundang.”

Sayang, ayahnya kala itu tidak menghendaki Radhar untuk jadi penulis. Radhar kecil tak habis akal, Saat ia sering mengirimkan karya di berbagai media, ia takut ketahuan ayahnya dan akhirnya memakai nama samaran, Reza Morta Vileni—terilhami oleh nama teman dekat sekolah Radhar; Rezania yang pandai berdiplomasi. Namun, tak lama berselang, Radhar kembali menggunakan nama aslinya. Hal inilah yang membuat kemarahan sang ayah semakin menjadi dan akhirnya membuatnya tidak pulang ke rumah dengan mulut berdarah dan teriakan “Tidak ada demokrasi di sini.”

Sejak saat pemberontakan ini terjadi Radhar tidak memerdulikan lagi amuk orang tuanya. Di benaknya hanya mengalir ide-ide trengginas, imaginasi nakal yang menghasilkan karya-karya luar biasa. Cerpen-cerpennya kala itu juga mengisi media massa cetak, seperti majalah remaja Gadis, Nona, dan Hai, bahkan, majalah dewasa, seperti Keluarga, Pertiwi dan Kartini. Radhar kemudian juga mengawali karir sebagai jurnalis di Koran Kompas.

Ia sendiri diterima di sosilogi UI dan studinya diselesaikan dalam waktu 2,5 tahun. Pada 1997, Radhar melanjutkan studi di Ecole des Hautes Etudes en Science Sociales, Perancis, dengan meriset postmodernisme di Indonesia. Sepulang dari Perancis, Radhar mengalami stres berat. Ia divonis gagal ginjal kronis, acute renal failure dan chronic renal failure, pembunuhan sel ginjal secara perlahan. Dua buah ginjalnya dinyatakan sudah mati.

Dalam kondisi sakit yang menderanya, semangat hidupnya lebih ditopang karena kecintaannya pada kebudayaan. Meski di tengah keharusan cuci darah seminggu sekali,  menulis menjadi semacam obat penyembuh. Sedikitnya sudah 20 buku ia terbitkan. Beberapa penghargaan melapiki namanya yang masyhur. Tak terasa, perjuangan, karya, harum namamu kini terkenang.

Selamat jalan pejuang, terang jalanmu tuan…


Di antara karya-karya Radhar Panca Dahana: Simponi Duapuluh (1985, puisi); Lalu Waktu (1994, puisi); Lalu Batu (2003, puisi); Manusia Istana (2012, puisi); Ganjar & Leungli (1995, novel); Republik Reptil (2010, naskah drama); Dusta dan Kebenaran dalam Sastra (2001, esai); Ideologi Politik dalam Teater Modern Indonesia (2001, esai); Menjadi Manusia Modern (2002, esai); Jejak Posmodernisme (2004, esai); Teater dalam Tiga Dunia (2013, esai); dan Mat Jagung: Kabut Manusia (2009, komik populer).

Penghargaan:

Satu dari lima seniman muda masa depan Asia versi NHK (1996); Paramadina Award (2005); Duta Terbaik Pusaka Bangsa, Duta Lingkungan Hidup sejak tahun 2004; Medali Prix de la Francophonie dari 15 negara berbahasa Perancis (2007).

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

Facebook Comments