Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Kebijakan Bank Terkemuka Masih Abaikan Perubahan Iklim
Launching laporan pemeringkatan bank yang ke-lima “Mengukur Kemajuan Kebijakan Keuangan Berkelanjutan Perbankan di Indonesia” yang dilakukan oleh The PRAKARSA sebagai Koordinator Koalisi ResponsiBank Indonesia. Pada Kamis (14/9).

Kebijakan Bank Terkemuka Masih Abaikan Perubahan Iklim



Berita Baru, Jakarta – Sebuah laporan yang dikeluarkan oleh Koalisi ResponsiBank Indonesia, sebuah kelompok masyarakat sipil yang fokus pada pembiayaan yang bertanggung jawab, mengungkapkan bahwa beberapa bank terkemuka di Indonesia sepertinya mengabaikan isu perubahan iklim dalam kebijakan dan praktik mereka. Hasil laporan ini menimbulkan keprihatinan mengenai tanggung jawab perbankan dalam mengatasi perubahan iklim.

Laporan yang berjudul “Mengukur Kemajuan Kebijakan Keuangan Berkelanjutan Perbankan di Indonesia,” adalah laporan pemeringkatan kelima yang dikoordinasi oleh The PRAKARSA dan mengevaluasi kinerja 11 bank terbesar di Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa sejumlah bank ternama memiliki peringkat yang rendah dalam hal kebijakan dan praktik yang berkelanjutan terkait isu perubahan iklim.

Kelima bank teratas yang mendapatkan skor tertinggi dalam laporan ini adalah HSBC, Bank DBS, CIMB Niaga, Bank BCA, dan Bank BRI. Namun, beberapa bank nasional, termasuk BNI, BCA, dan BJB, mendapat peringkat rendah dalam hal isu perubahan iklim.

Bahkan, BNI, salah satu bank terkemuka di Indonesia, mendapat peringkat sembilan di tahun 2022, yang menandakan penurunan yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Kebijakan Bank Terkemuka Masih Abaikan Perubahan Iklim
Launching laporan pemeringkatan bank yang ke-lima “Mengukur Kemajuan Kebijakan Keuangan Berkelanjutan Perbankan di Indonesia” yang dilakukan oleh The PRAKARSA sebagai Koordinator Koalisi ResponsiBank Indonesia. Pada Kamis (14/9).

“Memang sudah terdapat kemajuan dalam kebijakan keberlanjutan perbankan di Indonesia, namun skornya masih sangat rendah dan belum bergerak signifikan. Bank-bank di Indonesia belum berani untuk menetapkan target-target yang tinggi,” kata Direktur Eksekutif The PRAKARSA, Ah Maftuchan dalam rilis resmi yang dikutip Sabtu (16/9/2023).

Salah satu aspek yang mencemaskan adalah bagaimana beberapa bank utama belum memiliki target yang terukur untuk mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dalam operasional dan pembiayaan mereka. Dalam hal ini, mereka masih belum berkomitmen untuk mengurangi portofolio mereka di sektor batu bara, meskipun beberapa langkah telah diambil untuk mendukung target Net Zero Emisison (NZE).

Dwi Rahayu Ningrum, Peneliti Keuangan Berkelanjutan PRAKARSA, menggarisbawahi kurangnya komitmen dari beberapa bank dalam hal isu perubahan iklim.

“Ketiga bank ini masih belum memiliki target terukur untuk penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK), baik untuk kegiatan operasional maupun pembiayaannya. Meskipun beberapa bank sudah mulai bergerak untuk mendukung target Net Zero Emisison, namun sayangnya belum ada komitmen untuk menghentikan portofolio ke sektor batu bara,” jelas Dwi.

Laporan ini juga menyoroti peringkat rendah dalam aspek pembangkit listrik. Tema ini menjadi sangat penting dalam upaya mengurangi emisi GRK. HSBC menduduki peringkat pertama dalam hal ini, dengan skor hanya mencapai 3,5, sedangkan bank nasional seperti Mandiri dan BNI hanya menempati peringkat ke-7 dan ke-10.

Ricko Nurmansyah, Peneliti Keuangan Berkelanjutan PRAKARSA, menggarisbawahi perlunya bank-bank di Indonesia untuk meningkatkan komitmen mereka terhadap isu-isu yang masih mendapatkan penilaian rendah, termasuk kesehatan, kesetaraan gender, pertambangan, dan gas serta minyak bumi.

Dalam tanggapannya, Juniati Gunawan, Direktur Trisakti Sustainability Center, mengatakan, “Menghitung perubahan iklim tidaklah mudah. Konversi faktornya berbeda-beda dan sumbernya berbeda-beda. Beberapa bank yang menyampaikan Net Zero Emission (NZE) sudah ditegur, tidak boleh lagi menyampaikan iklan itu karena baseline-nya belum terverifikasi.”

Laporan ResponsiBank Indonesia ini menggarisbawahi pentingnya tanggung jawab perbankan dalam mengatasi isu perubahan iklim, sementara juga menyoroti perlunya kebijakan yang lebih jelas dan komitmen yang kuat dari bank-bank terkemuka dalam menghadapi tantangan ini.