Karol Ilagan, PCIJ, dan Kolaborasi sebagai Kunci

Karol Ilagan, PCIJ, dan Kolaborasi sebagai Kunci
Karol Ilagan (foto: istimewa)

Berita Baru, Sosok – Masyarakat berhak mendapatkan informasi yang berkualitas. Mereka akan sangat terbantu untuk menentukan pilihan hidup yang tepat melalui keterbukaan informasi yang baik. Di waktu bersamaan, jurnalisme adalah layanan publik yang lahir untuk pekerjaan tersebut, sehingga perannya tidak bisa tidak krusial.

Ketika bicara tentang media dan advokasi kebijakan di Filipina, Karol Ilagan Direktur Editorial The Philippines Center for Investigative Journalism (PCIJ), dalam sesi internasional #Bercerita Beritabaru.co ke-42 pada Selasa (6/4), mengungkapkan hal senada.

Menurutnya, apa saja yang akan dikonsumsi publik bergantung pada pemberitaan yang dibuat para jurnalis, sehingga komitmen merupakan sesuatu yang tidak bisa lagi ditawar di dalamnya.

“Komitmen teman-teman di PCIJ setidaknya terbagi jadi dua, yaitu proses dan diseminasi. Di level proses, kami menyelenggarakan apa itu yang disebut Civil Education. Program ini melibatkan fellow reporter, mahasiswa, dan beberapa komunitas di masyarakat,” jelas Karol dalam Bahasa Inggris.

“Adapun kedua lebih pada publikasi hasil reportase dan riset kami secara daring dan rutin, termasuk mengadakan diskusi dengan beberapa aktor pemerintah yang berhubungan langsung dengan isu dan di beberapa titik kami melemparkan rekomendasi berdasarkan hasil riset kami,” lanjutnya.

Bagi Karol, komitmen dan konsistensi dalam mengelola media merupakan sikap yang harus selalu dilatih. PCIJ bisa sampai berkecimpung di wilayah kebijakan pemerintahan Filipina disebabkan oleh dua hal tersebut, di samping menjaga integritas, meningkatkan kepercayaan publik (public trust), mempertahankan indeks, membangun rekam jejak (track records), dan mengetahui secara jelas apa yang sedang dikerjakan.

Khusus yang terakhir, hal tersebut dibutuhkan sebab tanpanya seseorang akan kesulitan untuk tampil percaya diri dalam menjalankan reportase, sehingga bisa berdampak pada tingkat totalitas jurnalis, apalagi jika sifatnya investigatif.

“Dan saya kira, kenapa PCIJ bisa sampai seperti sekarang ini adalah karena beberapa hal tersebut, track records, trust, consistency, dan satu lagi saya nyaris lupa, fast adapting on technology. Optimalisasi teknologi mendasar juga itu,” ujar Karol dalam sesi diskusi yang dipandu langsung oleh Lukman Hakim ini.

Kolaborasi dan metode

Lebih jauh, Karol Ilagan juga berbagi tentang strategi khusus yang dipakai PCIJ dalam menyusun reportase investigatif di Filipina, terutama ketika bersinggungan dengan kasus rentan seperti korupsi.

Karol berpendapat, ada enam (6) hal yang bisa dicoba. Pertama, kita harus memiliki akses internal lembaga, sehingga kita bisa bicara langsung dengan anggota lembaga yang sedang kita investigasi, termasuk mantan pimpinan.

Pendapat mereka diperlukan untuk mengetahui bagaimana kondisi rumah tangga lembaga selama ini, proyek yang sedang atau telah dikerjakan, pola kemitraan, apa saja yang sempat terjadi, dan sebagainya.

Kedua, berdiskusi dengan para pakar di bidang isu yang sedang kita hadapi. Kenyataan bahwa semakin banyak perspektif akan semakin membantu merupakan alasan mengapa hal tersebut penting.

Ketiga, Karol melanjutkan, mengkritisi dokumen-dokumen yang sudah diberikan kepada kita. Sekurangnya, kita bisa memulai dengan mencari beberapa bagian yang kontradiksi dan tidak masuk akal.

Keempat, mengumpulkan data lain melalui optimalisasi teknologi seperti satelit, sosial media, platform khusus investigasi, dan semacamnya sebagai penguat hipotesis.

“Mengkritisi dokumen dan data framing ini wajib dilakukan sebab investigasi seperti ini tidaklah semudah kita meminta dokumen dan lantas kita menelitinya. Tidak. Everything will be fine in the paper, so that we need them,” jelas Karol.

Kelima, kolaborasi. Reportase investigatif dimungkiri atau tidak sangatlah memakan tenaga, waktu, emosi, dan sumber daya, sehingga untuk menekannya kita perlu kolaborasi. Yang terbaru, Karol mengisahkan, PCIJ sedang bekerja sama dengan Malaysiakini dan Tempo untuk melakukan investigasi terhadap paket stimulus Covid-19 di masing-masing negara, yaitu Filipina, Malaysia, dan Indonesia.

Terakhir, yang tidak bisa diabaikan pula dalam investigasi adalah metode, yakni bagaimana kita mendekati suatu kasus yang ketika kita berupaya bertanya pada beberapa orang yang berhubungan, mereka akan cenderung menyembunyikan.

“Termasuk dalam metode itu pun adalah soal perspektif. Kadang, ketika sedang meneliti suatu kasus, kita terhenti di satu perspektif, sehingga dengan metode yang tepat, kita akan terhindar dari jebakan tersebut,” ucapnya.

Bias media dan kejutan di setiap tikungan investigasi

Di sisi lain, Karol juga menceritakan tentang pembatasan media yang terjadi di Filipina akibat pandemi, termasuk media mainstream ABS-CBN yang sedang ditekan oleh Rezim Rodrigo Duterte karena kerap membuat geram sang presiden.

Ketegangan ini, menurut Karol, adalah perkara bias yang jika boleh jujur semua media tidak bisa lepas dari cengkeramannya. PCIJ misalnya, meski lebih ke Non-Governmental Organisation (NGO), ia kerap dilema jika berhadapan dengan funding.

Untuk itu, lanjut Karol, PCIJ tidak mengandalkan satu funding soal akomodasi, tetapi bermacam funding. “Menurut saya, ini sangat penting agar NGO bisa tetap menjaga netralitasnya, Diversity funding is important to mantain no bias in reporting,” ungkap Karol.

Untuk konteks yang sama pun, menjadi tidak bias, Karol menyebut bahwa dengan begitu seseorang akan merasa lebih menikmati setiap proses investigasinya. Sebab ia bisa benar-benar hadir di dalamnya.

“Salah satu investigasi yang masih mengena di benak saya adalah saat meneliti persoalan agraria di Filipina yang melibatkan mantan presiden. Di setiap tikungan di lapangan, saya mendapatkan kejutan yang sangat seru,” Karol mengisahkan.

Facebook Comments
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini