Berita

 Network

 Partner

Isu Perubahan Iklim dan Krisis Lingkungan Belum Jadi Agenda Parpol di Indonesia

Isu Perubahan Iklim dan Krisis Lingkungan Belum Jadi Agenda Parpol di Indonesia

Berita Baru, Jakarta – Menjelang Pemilu 2024 mendatang, peluang untuk menyelaraskan agenda politik nasional lintas partai dengan narasi terkait agenda iklim menjadi penting untuk diketahui.

Direktur Eksekutif Yayasan Indonesia Cerah menyebut bahwa isu krisis lingkungan dan perubahan iklim tidak ada di dalam agenda partai politik di Indonesia. Menurutnya, isu lingkungan selalu menjadi agenda tersembunyi di dalam diskursus politik Indonesia.

“Jika di dalam agenda-agenda politik, krisis iklim selalu jadi agenda yang tersembunyi di balik lingkungan hidup dan paling bontot dari daftar pertanyaan di setiap panggung politik,” ujar Putri, Rabu (27/10).

Hal itu ia sampaikan dalam Webinar ‘Persepsi Pemilih Pemula dan Muda (Gen Z dan Milenial) atas Permasalahan Krisis Iklim di Indonesia’,

Putri tak menampik bahwa sudah banyak politisi banyak yang fasih bicara krisis lingkungan, namun tidak pernah jadi agenda utama.

“Agenda utamanya selalu hal lain, bukan krisis iklim. Padahal krisis iklim mempunyai dampak multidimensional,” jelas Putri.

Menurut Putri, temuan survei Indikator Politik yang mengungkapkan mayoritas generasi muda peduli terhadap krisis lingkungan menjadi kabar yang positif.

“Selama ini kan mereka, generasi muda kerap disebut generasi rebahan, hanya peduli pada lifestyle, sparkling dan sebagainya,” ungkapnya.

Senada, Direktur Indikator Politik Burhanudin Muhtadi mengatakan isu perubahan iklim dan Krisis lingkungan hanya banyak didorong oleh masyarakat sipil dan NGO (Non Govermental Organization).

“Sejak Climate Change di Bali 2007 jelas sekali isu ini belum mempengaruhi lanskap electoral di Indonesia,” kata Burhanudin.

Diketahui, survei Indikator Politik bersama Yayasan Indonesia Cerah mengungkapkan bahwa mayoritas anak muda sangat khawatir terhadap masalah korupsi dan kerusakan lingkungan.

Ada 64 persen anak muda yang sangat khawatir masalah korupsi, agak khawatir 21 persen, dan sedikit khawatir 8 persen. Sedangkan, sangat khawatir terhadap kerusakan lingkungan 52 persen, agak khawatir 30 persen, dan sedikit khawatir 13 persen.

“Korupsi memang menempati posisi paling tinggi sangat khawatir, tapi isu kerusakan lingkungan itu juga mendapatkan kepedulian perhatian kalangan anak muda yang sangat besar,” tukas Burhanuddin.

Berita Terkait :  Gempa M 5,3 Guncang Agam Sumbar