Indonesia Tanpa Pacaran, Toilet dan Independensi Tubuh

Berita Baru, Opini – Dua hari ini saya baru membuka website Indonesia Tanpa Pacaran. Setelah beberapa waktu lalu, seorang teman menyarankan saya untuk melihat instagram (IG) Indonesia Tanpa Pacaran. Sayangnya saya tidak memiliki aplikasi dan akun instagram. Jadinya saya mengabaikan sarannya tersebut.

Dua hari ini, saya bisa membaca dan melihat IG Indonesia Tanpa Pacaran. Dengan bantuan seseorang yang memiliki IG tentunya. Saya di screenshot kan semua unggahan Indonesia Tanpa Pacaran. Hasil screenshot dikirim ke surel via dropbox.

Terlihat sangat menarik, itu IG. Disana banyak unggahan yang isinya mengarah pada konteks pacaran itu hal yang tidak baik. Penasaran saya pun semakin kuat. Di suatu siang, saya menulis kalimat “Indonesia Tanpa Pacaran” di google. Berharap Indonesia Tanpa Pacaran memiliki website. Ternyata memang memiliki website. Luar biasa.

Saya pun cukup terbantu dengan adanya website tersebut. Dengan maksud, saya bisa banyak melakukan penguntit-an pada Indonesia Tanpa Pacaran. Bisa membaca isi-isi dari website tersebut dengan bebas. Tidak terbatas oleh screenshot. Atau menunggu kiriman hasil screenshot.

Setelah saya baca-baca, baik dari screenshot dan website nya, ternyata isinya sangat maskulin.

Saya menganggapnya sangat maskulin, karena penulis menggunakan perspektif laki-laki. Seperti pernyataan:

“Belum lagi kekejaman pacaran dan zina biasanya tidak berhenti disitu saja. Ketika si wanita hamil, maka aborsi (pembunuhan) kepada janin menjadi dosa selanjutnya yang akan menghantui dirinya sepanjang hidupnya. Na’udzubillah min dzalik,” diunggah, 9 Agustus 2019.

Penulis selalu menggunakan cerita-cerita menakutkan yang dialami perempuan. Perempuan digunakan objek untuk menakut-nakuti pembaca sekaligus perempuan lainnya.

Setelah pembaca ditakut-takuti penulis. Penulis mulai memanfaatkan kegelisahan pembaca dengan solusi-solusi. Misalnya ajakan:

Berita Terkait :  Jacob Oetama

Ayolah, segerakan putusmu dengannya. Agar syaitan tidak punya kesempatan untuk memperdayaimu lebih lanjut. Bertaubatlah pada Allah Ta’ala seraya berdoa dan beramal sholeh untuk menghapus jejak-jejak buruk di masa lalu yang penuh dengan dosa. Wallahu a’lam,” diunggah, 9 Agustus 2019.

Penulis cukup lihat memanfaatkan suasana perasaan pembaca. Meski demikian penulis terlihat memiliki keresahan yang kuat pada moral sosial. Pacaran dianggap hal yang buruk. Disuruh “putus” dengan pacar. Karena pacaran akan memunculkan zina, hamil, aborsi. Lagi-lagi perempuan yang dijadikan objek untuk menakut-nakuti. Padahal perempuan bisa zina, hamil dan aborsi itu atas dasar turut andilnya laki-laki dalam proses itu.

Tidak mungkin seorang perempuan hamil dan aborsi tanpa andil laki-laki. Secara sains perempuan akan hamil, manakala dibuahi oleh sperma. Saat perempuan hamil memutuskan menghentikan kehamilan atau melanjutkan kehamilan, itu tergantung dengan laki-laki yang membuahi. Karena suasana kebingungan, keresahan perempuan hamil, atas perilaku laki-laki yang tidak bertanggungjawab tentu menentukan pilihan-pilihan perempuan tersebut untuk berhenti hamil atau lanjut hamil.

Laki-laki menghamili perempuan tanpa ada kesepakatan perempuan adalah perbuatan yang tidak bertanggungjawab. Walau pada umumnya saat ada seorang perempuan hamil diluar nikah, akan dipaksa menikah dengan laki-laki menghamilinya. Umumnya hal demikian dianggap tanggungjawab. Tapi itu bukanlah tanggung jawab. Seseorang dikatakan bertanggung jawab, manakala ia berbuat sesuatu dengan persetujuan pasangannya. Kalau tanpa persetujuan, namun tetap melakukan. Tentu itu bukan tanggung jawab.

Baiklah, mari kembali pada kampanye “Indonesia Tanpa Pacar”. Website ini semakin lama ditelisik makin asyik, dan menarik. Website “Indonesia Tanpa Pacar” ternyata juga cukup kapitalis. Ternyata mereka cukup jeli melihat peluang pundi-pundi rupiah. Mereka menjual beberapa produk. Misal kartu member, buku, aksesoris, kaos, jaket, hijab, dan yang terakhir jualan kata-kata anjuran, motivasi dan kata-kata menakutkan untuk mempengaruhi para pembaca, untuk tidak berpacaran.

Berita Terkait :  Menikah Muda: Tren atau Pilihan

Secara subyektif ini marketing yang “cihui”. Disaat bangsa Indonesia tengah resah dengan isu rasis tentang identitas. Indonesia Tanpa Pacar muncul sebagai alat yang saya pikir cukup mendukung penyebaran moral panic. Masyarakat, khalayak umum dibuat panik dengan isu moralitas pemuda. Lantas “Indonesia Tanpa Pacar” datang seperti pahlawan yang akan memperbaiki moral para pemuda. Dengan solusi putus dengan pacar, menikah segera untuk menghindari zina.

Saya pikir, memberikan solusi putus dengan pacar untuk menghindari dosa, zina, melanggar norma agama. Yang jelas pengetahuan itu saja tidak cukup. Malah, hal demikian cukup menyesatkan khalayak umum. Karena ia memperlakukan khalayak, pembaca hanya sekedar objek. Artinya perempuan hanya dianggap sebagai pembaca yang tidak memiliki pengetahuan lain. Harusnya juga diberi pengetahuan tentang kedirian, independensi seseorang, tanggungjawab, dan resiko dari perilaku beresikonya tersebut.

Misalnya pengetahuan kesehatan reproduksi. Memang saat seseorang membicarakan kesehatan reproduksi itu dianggap banal, binal, saru, erotis. Lebih-lebih yang ngomong kesehatan reproduksi seorang perempuan. Sudah pasti akan distigma sebagai perempuan gak baik-baik, banal, lacur, lonte, dan lain sebagainya.

Membicarakan kesehatan reproduksi yang harus nya biasa saja. Karena setiap manusia memiliki organ reproduksi. Sayangnya budaya tabu telah merajalela. Sehingga sulit, dan hampir tidak ada cela, bahwa pengetahuan kesehatan reproduksi itu hal yang tidak saru, dan tidak erotis. Mengingat setiap manusia terlahir dengan memiliki organ reproduksi.

Memberikan pengetahuan tentang bagian-bagian tubuh yang dimiliki seseorang sejak ini, adalah bagian dari belajar kesehatan reproduksi. Ini penting, karena dengan seseorang mengetahui tubuhnya. Organ yang dimiliki nama organ dengan bahasa-bahasa ilmiah, akan memberikan pemahaman bahwa menyebut organ reproduksi secara ilmiah bukan sesuatu yang tabu, saru, erotis.

Berita Terkait :  Agama Nalar

Dengan mengetahui tubuh, dan organ yang dimiliki, diharapkan seseorang juga lebih mencintai atas yang dimiliki. Sekaligus mengetahui fungsi, dan resiko yang akan didapatkan saat seseorang melakukan sesuatu kepada tubuhnya.

Sadar atas tubuh, dan segala organ yang dimiliki bukan hanya tentang fungsi dan resiko, namun juga belajar tentang tanggung jawab atas tubuhnya, dan keputusan-keputusan dalam memperlakukan dirinya. Itu kenapa penting sekali belajar kesehatan reproduksi. Karena belajar kesehatan reproduksi itu bukan tentang belajar jenis kelamin saja namun juga belajar resiko, kedirian, independensi, dan tanggung jawab atas tubuh dan pilihannya.

Tanpa sadar belajar kesehatan reproduksi ini sudah dilakukan setiap hari. Misalnya, seperti saat anak usia balita diajari untuk belajar buang air kecil (kencing) di toilet. Ini adalah bagian dari belajar kesehatan reproduksi.

Mengajari balita untuk buang air ke toilet dengan cara memastikan toilet tidak ada orang lain selain dirinya, masuk sendiri, menutup pintu toilet sebelum membuka celana dalam, buang air kecil di jamban, mengeringkan organ intim hingga kering, mencuci tangan dengan sabun dan mengeringkan tangan, menggunakan celana dalam dan memastikan semua pakaian digunakan dengan lengkap, resleting, kancing pakaian tidak ada yang terbuka sebelum membuka pintu toilet. Hal-hal demikian yang mungkin dirasa cukup remeh, namun ini adalah bagian dari kesehatan reproduksi.

Mengajari balita masuk toilet sendiri, dan harus memastikan yang ada di toilet tersebut hanya dirinya dan tidak ada orang lain, untuk memahamkan kepada balita, bahwa kegiatan buang air kecil dan di dalam toilet adalah kegiatan privat, dan sifatnya pribadi. Tidak bisa digunakan bersama-sama. Itu juga bagian dari upaya untuk memahamkan batasan-batasan antara dirinya dan orang lain.

Mengenali tubuhnya, organ yang dimiliki, dan batasan-batasan antara dirinya dengan orang lain adalah bagian dari kesehatan reproduksi. Karena belajar kesehatan reproduksi bukan belajar tentang cara berhubungan seksual. Namun lebih pada cara manusia lebih bisa independen atas tubuhnya. Bertanggungjawab atas tubuhnya, dengan segala resiko yang telah dilakukan.

Yogyakarta, 2019.

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan