Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Gus Hilmy

Gus Hilmy Nilai Ade Armando Ngawur dan Ahistoris soal Dinasti Politik Jogja



Berita Baru, Yogyakarta – Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Hilmy Muhammad,  merespons kritik dari Ade Armando terhadap Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menyatakan bahwa kritik tersebut tanpa dasar dan kurang memahami sejarah. Gus Hilmy menilai pernyataan Armando tentang politik dinasti di DIY sebagai ahistoris.

“Ngomong itu bebas, tapi kalau tak punya dasar, namanya ngawur. Gubernur dan Wakil Gubernur DIY itu ditetapkan melalui UU Keistimewaan, kalau ada yang mempermasalahkan itu, berarti dia ahistoris dan tak memahami konstitusi,” ungkap Gus Hilmy dalam keterangan tertulis kepada media.

Lebih lanjut, Gus Hilmy menyoroti pemahaman Ade Armando terhadap politik dinasti dan sistem monarki. “Barangkali dia juga kurang memahami tentang politik dinasti dan sistem monarki, hanya mengikuti tren pembicaraan nasional. Namanya juga pegiat media sosial, tapi sebagai akademisi ya jangan begitulah, apalagi dia caleg,” tambahnya.

Gus Hilmy menjelaskan bahwa dalam UU Keistimewaan tahun 2012, Gubernur dan Wakil Gubernur DIY harus bertahta sebagai Sultan Hamengku Buwono untuk calon Gubernur dan bertahta sebagai Adipati Paku Alam untuk calon Wakil Gubernur. Ini sebagai pengakuan terhadap peran Keraton Ngayogyakarta dan Kadipaten Pakualaman di masa lalu.

“Sebelum kemerdekaan Republik ini, Keraton Ngayogyakarta dan Kadipaten Pakualaman sudah memberikan sumbangsihnya yang sangat besar. Kan kita mengenal Yogyakarta tidak sekadar sebagai kota pelajar, tetapi juga kota pergerakan, kota revolusi, dan pernah menjadi Ibu Kota Negara. Ini kan sebenarnya mudah dipahami, mengapa DIY mendapatkan status istimewa,” jelas Gus Hilmy.

Meskipun mengkritik, Gus Hilmy menyerukan agar masyarakat tidak terlalu reaktif dan menciptakan suasana yang kondusif. “Terlalu besar energi kita untuk mengurusi satu orang. Terlebih hari ini suasana politik sedang panas-panasnya. Mari kita ciptakan suasana yang damai sebagaimana slogan kita, Yogyakarta berhati nyaman. Dia sudah meminta maaf, ya kita maafkan. Tapi tetap kita catat namanya,” pesan Gus Hilmy.