Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Diskusi DfD Lab di Auditorium CSIS, Kamis, 30 Mei 2024.
Diskusi DfD Lab di Auditorium CSIS, Kamis, 30 Mei 2024.

CSIS Indonesia Gelar Forum Kebijakan Iklim, Tekankan Pentingnya Bukti dalam Transisi Energi



Berita Baru, Jakarta – Center for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia sukses mengadakan Policy Forum bertema “Mendorong Kebijakan Iklim Berbasis Bukti untuk Mewujudkan Emisi Nol Bersih“. Acara yang diinisiasi oleh Decarbonization for Development Lab (DfD Lab) ini mengumpulkan berbagai pemangku kepentingan lintas sektor untuk membahas penelitian dan kebijakan terkait transisi energi di Indonesia.

Direktur Eksekutif CSIS, Yose Rizal Damuri, menekankan bahwa perubahan iklim adalah isu strategis yang berdampak signifikan pada masa depan Indonesia. Ia juga menggarisbawahi bahwa kebijakan iklim kini lebih sering diputuskan di tingkat internasional karena dampak lintas batas yang ditimbulkan.

“Perubahan iklim itu adalah permasalahan yang riil, bukan cuma teoritis saja, karena ini menentukan arah kehidupan bermasyarakat. Kebijakan iklim kini sudah sampai tingkat internasional karena spillover effect dan eksternalitasnya tinggi. Karenanya, apabila ada negara yang tidak menerapkan kebijakan iklim, ini akan berpengaruh ke negara-negara lainnya,” jelas Damuri dalam pidatonya di Auditorium CSIS Jakarta, Kamis (30/5/2024).

Dalam forum tersebut, Dandy Rafitrandi, Project Director DfD Lab, memaparkan bahwa selama satu tahun terakhir, DfD Lab telah melakukan penelitian tentang The EU Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) dan dampaknya bagi Indonesia. Tahun ini, DfD Lab berfokus pada penelitian tentang Sustainability, Trade and Investment Report (STIR), yang mencakup tata kelola mineral kritis di Indonesia.

“Di tahun ini (2024) penelitian kami akan berfokus pada Sustainability, Trade and Investment Report atau STIR, yang mencakup tata kelola mineral kritis di Indonesia. Hal ini penting untuk meninjau apakah perkembangan perdagangan dan investasi di Indonesia semakin sustainable atau tidak, serta merumuskan prospek dan tantangan sustainable economy Indonesia ke depan,” terang Rafitrandi.

Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Kebijakan Fiskal dan Makroekonomi, Masyita Crystallin, yang hadir sebagai panelis, menegaskan bahwa untuk mencapai target Nationally Determined Contribution (NDC) dan Net Zero Emission, Indonesia memerlukan investasi besar dan penggunaan anggaran karbon yang bijak. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara berbagai pemangku kepentingan untuk beralih ke ekonomi hijau.

“Peran DfD Lab ini krusial menjadi leader untuk wadah representasi suara negara berkembang melalui studi dan inisiatif nyata, untuk meningkatkan investasi atau pendanaan di bidang iklim bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia,” jelas Crystallin.

Forum ini juga dihadiri oleh sejumlah pembicara terkemuka seperti Kepala Badan Kebijakan Perdagangan Kementerian Perdagangan, Kasan; Kepala Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada, Sarjiya; dan Anggota Komite Kehutanan APINDO, Soewarso.