Baru Lima Hari Dilantik, Presiden Peru Mengundurkan Diri

-

Berita Baru, Internasional – Presiden Peru, Manuel Merino, menyatakan pengunduran dirinya pada senin (16/11), setelah gelombang aksi besar-besaran terhadap pemerintahannya.

Dalam pidatonya yang disiarkan televisi, Merino mengumumkan pengunduran dirinya yang baru lima hari dilantik, menyusul pemakzulan terhadap presiden sebelumya, Martin Vizcarra.

“Saya ingin memberi tahu seluruh negeri bahwa saya mengundurkan diri,” kata Merino dalam pidato yang disiarkan televisi, Minggu (15/11).

Berita pengunduran diri itu segera diikuti dengan suara klakson mobil, tabuhan genderang, dan sorak-sorai di seluruh ibu kota Peru.

Seperti dilansir dari The Guardian, ledakan protes berujung pada bentrok yang menewaskan dua orang pria pelajar berusia 20-an. Ia meninggal akibat luka tembak oleh polisi pada hari Sabtu (14/11) saat ikut serta dalam serangkaian aksi pengunduran diri Merino.

Para korban yang diidentifikasi sebagai Jack Brian Pintado Sánchez (22), dan Jordan Inti Sotelo Camargo (24) adalah kematian pertama dalam aksi besar-besaran atas pemakzulan Martin yang terjadi hampir seminggu.

“Mereka bilang dia terluka dengan peluru di jantungnya, dia mati seperti itu dan dibawa sebagai mayat,” kata ayah Sotelo Camargo kepada wartawan lokal, meminta untuk bertanggung jawab.

Koordinator hak asasi manusia Peru melaporkan bahwa lebih dari 40 orang hilang setelah aksi pada hari Sabtu, di tengah berbagai laporan tindakan represifitas polisi yang dilakukan secara kejam terhadap masa aksi damai. Kementerian kesehatan melaporkan bahwa lebih dari 90 orang dirawat karena cedera.

Gambar-gambar yang beredar memperlihatkan ratusan polisi anti huru hara menggunakan tongkat dan tameng saat menghadapi masa aksi, gas air mata dan tembakan diluncurkan langsung ke kerumunan atau individu dan tank menggunakan meriam air.

Beberapa laporan menyebut, terdapat pula gas air mata yang ditembakkan dari helikopter yang terbang di atas kepala masa aksi di pusat kota Lima, dengan lampu jalan yang dimatikan dan jaringan ponsel yang diblokir selama aksi.

 “Ada penggunaan kekuatan yang tidak masuk akal dan menyalahgunakan di Lima. Saya menuntut presiden republik menunjukkan wajahnya dan memberikan penjelasan kepada negaranya,” kata ombudsman hak asasi manusia Peru, Walter Gutiérrez.

Erika Guevara, direktur Amnesty International Amerika, mengatakan: “Kami menuntut penyelidikan yang tidak memihak atas pelanggaran hak asasi manusia dalam protes di Peru termasuk kematian dua siswa muda. Siapa yang melakukan kejahatan ini dan pejabat senior mereka harus diselidiki di tingkat tertinggi.”

Penggantian mendadak presiden Martin Vizcarra oleh Merino menuai penolakan keras. Selain rekam jejak yang dipertanyakan, sosoknya telah menyebabkan gelombang aksi di seluruh ibu kota Peru, demonstrasi terbesar selama satu dekade terakhir di negara itu.

Sementara itu, Martin Vizcarra mengungkapkan kesedihannya atas kematian dua pria pelajar tersebut. “Saya sangat menyesali kematian yang disebabkan oleh penindasan terhadap pemerintah ilegal dan tidak sah ini,” tulis Vizcarra. “Saya turut berbela sungkawa kepada keluarga para pahlawan sipil ini yang, dengan menggunakan hak mereka, keluar untuk membela demokrasi dan mencari negara yang lebih baik. Negara tidak akan membiarkan kematian orang-orang muda pemberani ini dibiarkan begitu saja. “

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

Facebook Comments