Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Akhir Nestapa 'Buaya Berkalung Ban' Penghuni Sungai Palu
Foto: @natgeoindonesia

Akhir Nestapa ‘Buaya Berkalung Ban’ Penghuni Sungai Palu

Berita Baru, Jakarta – National Geographic Indonesia melalui akun Instagram resminya mengungkap akhir kisah nestapa ‘buaya berkalung ban’ penghuni Sungai Palu, di Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah.

Dalam unggahannya, @natgeoindonesia menampilkan beberapa foto ‘buaya berkalung ban’ hingga pelepasliaran kembali ke habitatnya. Juga disertai dengan keterangan yang ditulis oleh Josua Marunduh.

“Perjalanan panjang upaya penyelamatan buaya yang terjerat ban sepeda motor di Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah, berakhir klimaks pada Senin (7/2) pukul 18.30 WITA,” kata Josua Marunduh.

Akhir Nestapa 'Buaya Berkalung Ban' Penghuni Sungai Palu

“Adalah Tili (35 Tahun) salah seorang warga yang prihatin akan nasib “buaya berkalung ban”. Selama tiga minggu, Tili melakukan pengamatan dan berusaha menangkap buaya itu,” imbuhnya.

Josua Marunduh menjelaskan, Tili membuat jerat dari peralatan sederhana seperti tali dan bambu, serta umpan berupa ayam hidup. “Jerat itu dipasang di bawah Jembatan 2 Palu yang berlokasi di Jalan I Gusti Ngurarai, Kota Palu,” ujarnya.

“Pada Senin malam, buaya itu akhirnya berhasil ditangkap. Buaya ini memiliki panjang kurang lebih 6 meter dengan diameter badan kurang lebih 70 sentimeter,” jelas Josua Marunduh.

Tili yang dibantu warga setempat kemudian mengevakuasinya ke tepian sungai. Ban motor yang menjerat leher buaya itu lalu dilepas dengan cara dipotong.

Akhir Nestapa 'Buaya Berkalung Ban' Penghuni Sungai Palu

“Kini, berakhir sudah kisah nestapa “buaya berkalung ban”. Buaya itu dilepaskan kembali ke Sungai Palu sebagai habitat alaminya dengan bantuan Petugas Pemadam Kebakaran Kota Palu,” ungkapnya.

Josua Marunduh juga menambahkan informasi, kehadiran buaya berkalung ban ini awalnya diketahui pada 2016 silam. Berbagai upaya dilakukan oleh Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Sulawesi Tengah bersama para pemerhati satwa dan lingkungan, baik dari dalam maupun luar negeri.

“Namun, usaha tersebut tidak kunjung berhasil karena terkendala habitatnya yang luas dan kelincahan dari jenis reptil yang memiliki nama ilmiah Crocodylidae ini,” tukasnya.