12 (dari Banyak) Film Terbaik Indonesia yang Kudu Masuk Wishlist-mu

Berita Baru, Film – Hari Film Nasional yang jatuh pada Selasa (30/3) jadi momen yang tepat bagi kita untuk mereflesikan kembali mana saja film-film keren karya sineas Indonesia yang haram hukumnya jika terlewatkan.

Jika harus merangkum menjadi 10 saja, tentu ini pekerjaan yang tak mudah. Di luar daftar ini, masih banyak film-film berkualitas yang perlu kamu simak. Tapi biar nggak kepanjangan, kami kasih 10 dulu aja lah, ya.

Tidak semua film ini bisa kamu tonton di layanan streaming legal, sayangnya. Jadi beberapa perlu kamu tunggu mungkin untuk diputar ulang di komunitas pecinta film. Atau, kita request biar bisa tayang di platform legal.

Dengan apik dan detail, 27 Steps of May arahan Ravi Bharwani ini menampilkan bagaimana perempuan menghadapi trauma akibat kekerasan seksual yang mereka alami. Diceritakan bahwa May (Raihaanun) mengalami perkosaan di sebuah pusat permainan ketika umur 14 tahun. Peristiwa itu bagai sengatan yang mendalam. May tidak lagi berbicara, bahkan kepada ayahnya. Yang bikin makin menarik, film ini juga menunjukkan bagaimana sang ayah yang diperankan oleh Lukman Sardi berusaha untuk memahami May dengan segala kemampuan yang ia punya.

The Science of Fictions (2019)

Sebelum tayang di bioskop Indonesia, film karya Yosep Anggi Noen ini sudah malang-melintang diputar di berbagai festival film. Mengusung cerita yang unik, Science of Fictions mengupas kehidupan Siman, seorang warga Yogyakarta yang menyaksikan proses syuting mengenai kisah pendaratan manusia di bulan. Siman tertangkap dan lidahnya dipotong. Sejak itu, ia menirukan gerakan astronot untuk membuktikan kebenaran dari apa yang dia lihat kepada orang-orang di sekitarnya. Gara-gara itu, ia malah dianggap gila.

Langkar Pelangi (2008)

Film yang telah keliling di berbagai benua ini diangkat dari novel karya Andrea Hirata. Sutradara Riri Riza menyulap cerita novel itu menjadi sebuah film yang indah dan berkesan. Dikisahkan, sekelompok anak-anak di Belitung yang hidup di bawah garis kemiskinan akhirnya dapat bersekolah di tempat yang apa adanya. Setiap anak memiliki keunikan karakter dan garis hidup masing-masing yang layak buat disimak. Sedikit banyak, film ini menampilkan fenomena kelas dan budaya dari Tanah Belitung.

Perempuan Tanah Jahanam (2019)

Barangkali, setidaknya sampai saat ini, Perempuan Tanah Jahanam adalah film horor terbaik di Indonesia meski tanpa hantu. Yang bikin seram adalah alur cerita yang terbangun bersama dengan nuansa horor. Ceritanya, Maya (Tara Basro) pulang ke kampung halamannya di Desa Herjosari untuk mendapatkan kembali rumah warisan keluarganya. Namun justru, kepulangan Maya menjadi sebuah petaka bagi ia dan Dini (Marissa Anita), sahabatnya. Desa itu menyimpan misteri dan kebencian tanpa ampun.

Marlina, Si Pembunuh dalam Empat Babak (2017)

Profil perempuan berani dengan cerita yang dilematis ada pada film Marlina, Si Pembunuh dalam Empat Babak. Film arahan Mouly Surya ini menceritakan tentang Marlina (Marsha Timothy) yang tak terima telah dinodai oleh Markus. Ia membunuh dan memenggal kepala Markus lalu membawanya keliling kota. Ngeri, tapi juga berkesan.

Mudik (2019)

Film garapan Adriyanto Dewo ini mengangkat kisah Aida (Putri Ayudya) yang melakukan mudik bersama suaminya, Firman (Ibnu Jamil) sekaligus untuk mencari solusi atas konflik yang tengah mereka hadapi. Perjalanan itu menyimpan kejutan yang membuat Aida merenungkan kehidupannya sendiri.

Dua Garis Biru (2019)

Film ini termasuk dalam film terbaik yang dipunya Indonesia karena menampilkan isu yang sensitif dengan eksekusi yang manis dan representatif. Dua Garis Biru berhasil menunjukkan relasi konflik orangtua dan anak dalam menghadapi kehamilan yang tak direncanakan. Kisahnya bermula ketika Dara (Adhisty Zara) menjalin hubungan cinta dengan Bima (Angga Aldi Yunanda) dan hamil.

Cek Toko Sebelah (2016)

Barangkali inilah film terbaik, sejauh ini, yang dibuat oleh Ernest Prakasa. Cek Toko Sebelah menceritakan mengenai Koh Afuk (Che Kinwah) yang mengelola toko miliknya. Di usia yang menua, ia mulai mempertimbangkan siapa diantara kedua putranya, Erwin (Ernest Prakasa) dan Yohan (Dion Wiyoko) yang bakal meneruskan toko itu. Sementara, Erwin dan Yohan menyimpan konflik yang tak diketahui orangtuanya.

Abracadabra (2019)

Film ini ada dalam daftar karena menjadi salah satu film exceptional yang tak biasa dalam sejarah perfilman Indonesia. Meski tak sesempurna ekspekstasi, tapi Abracadabra menyuguhkan kualitas visual yang berbeda. Dikisahkan, seorang pesulap hebat bernama Lukman (Reza Rahadian) melakukan kesalahan dalam pertunjukan sulap terakhirnya. Ia tak bisa mengembalikan seorang anak yang “dihilangkan”-nya di dalam kotak.

Love for Sale (2018)

Membincang film romantis Indonesia nggak bakal lengkap tanpa Love For Sale dengan suguhan tema dan konflik yang menarik. Diceritakan, Richard (Gading Marten) adalah seorang jomblo yang terlalu pemilih dalam mencari pasangan. Karena suatu tantangan, ia pun melakukan banyak cara agar bisa mendapat kekasih, hingga menggunakan aplikasi pencari jodoh.

Ave Maryam (2018)

Filmnya memang dianggap kontroversial, namun Ave Maryam menawarkan cerita yang humanis tentang kehidupan seorang biarawati di gereja. Maryam (Maudy Koesnaedi) bekerja sebagai suster di panti jompo. Suatu hari, ia memilih menjadi biarawati di salah satu gereja di daerah Girisonta, Ambarawa, Semarang. Maryam mengabdi dengan teguh di sana, sebelum akhirnya datang Romo Yosef (Chicco Jerikho) yang membuat kehidupannya berubah.

Ada Apa dengan Cinta? (2002)

Film klasik satu ini jelas tak tertandingi. Ada Apa dengan Cinta menjadi hits di masa rilisnya. Wajar, film ini dibintangi aktor dan aktris beken serta dilingkupi cerita masa SMA yang kompleks. Cinta (Dian Sastrowardoyo) jatuh cinta pada Rangga (Nicholas Saputra). Dua manusia beda karakter ini harus menghadapi tantangan-tantangan dalam mempertahankan perasaan mereka. Namun akhirnya, Rangga harus pergi.

Facebook Comments
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini