Zaenab Pelopor Desa Wisata Bilabante

Desa Wisata

Berita Baru, Tokoh – Bukan hanya alam yang memberikan sisi keindahan untuk dinikmati, manusia pun mampu melakukan perubahan pada alam sehingga tercipta suatu keindahan. Terkadang alam memberikan sebuah lingkungan yang tampak gersang, namun keuletan dan daya kreatif sumberdaya manusia yang ada di dalamnya mampu melakukan suatu perubahan sehingga tampak indah.

Desa Bilabante adalah salah satu desa yang awalnya kaya dengan hamparan pasir, sehingga menjadi sebuah kawasan pertambangan. Kendaraan angkutan pasir pun ramai memasuki kawasan galian pasir ini, akan tetapi meresahkan bagi warga sekitar karena debu yang dihasilkan dari kendaraan-kendaraan tersebut terbang dan menyelimuti ruang-ruang aktifitas warga, bahkan mengganggu sistem pernafasan. Desa inipun akhirnya dijuluki dan terkenal sebagai Desa Debu. Namun seiring dengan perjalanan waktu, desa debu ini berproses hingga menjadi sebuah desa wisata hijau.

Desa Bilabante terletak di Kecamatan Pringgarata, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Desa wisata hijau ini dirintis oleh warga masyarakat sendiri dari tahun 2011. Namun setelah dijejaki, perubahan desa debu ini menjadi sebuah kawasan wisata ditumbuh-kembangkan oleh pergerakan warga setempat, termasuk pergerakan kelompok usaha perempuan. Salah seorang pemimpin perempuan yang sangat berperan penting dalam pengembangan desa ini sehingga menjadi desa ekowisata adalah Hajah Zaenab (43 th).

Berawal dari suatu kegagalan dalam menyelesaikan studi di jenjang SMA, yaitu hanya sampai kelas 3, lantaran terlalu cepat disunting oleh seorang lelaki, Zaenab memilih untuk membuka usaha dagang sembako di rumahnya. Dalam kesehariannya, Zaenab tak mau diam begitu saja dalam satu urusan, yaitu dengan hanya mengurus usaha dagangangannya. Ia pun banyak menjalin hubungan baik dengan pelaku-pelaku usaha yang dilakoni oleh kaum perempuan di desanya. Bahkan, ia pun banyak memberi motivasi kepada rekan-rekannya agar dapat meningkatkan taraf perekonomian keluarga.

Dari pengamatan dan tukar pikiran yang sering dilakukan oleh Zaenab kepada pedagang-pedagang lain, ia pun menemukan bahwa tingkat penghasilan dari pedagang-pedagang lainnya tak ada perubahan. Ia pun akhirnya merasa tertantang untuk merubah sistem perekonomian yang ada di desanya.

Untuk menjawab tantangan tentang peningkatan penghasilan pada pelaku-pelaku usaha yang digalakkan oleh kalangan perempuan yang ada di Desa Bilebante, Zaenab pun banyak berkunjung ke desa lain, dan atau banyak bertanya kepada orang-orang yang sukses, yaitu khususnya mengenai pola peningkatan usaha kecil.

Berita Terkait :  Empat Desa Indonesia Masuk Top 100 Desa Wisata Berkelanjutan Dunia

Dari berbagi pengamatan dan informasi-informasi yang diperoleh oleh seorang Zaenab, ia pun akhirnya memiliki suatu ide untuk membuka sebuah koperasi. Akhirnya pada tahun 2011, Zaenab membuka dan mengelola sebuah koperasi di desanya, yaitu ‘Koperasi Puteri Rinjani. “Alhamdulillah, sejak tahun 2015, desa kami menjadi salah satu desa binaan yang mendapat pembinaan langsung dari Kementerian Koperasi dan UMKM, Kementerian Desa, Bappenas, serta juga Kementerian Pariwisata,” ujar Zaenab kemarin saat ditemui Minggu (29/9).

Terlepas dari usaha koperasi yang telah dirintis bersama pelaku-pelaku usaha kaum perempuan, Zaenab pun merintis sebuah usaha mandiri. “UD Azhari” yang didirikan di tempat kediamannya menjadi salah satu sumber mata pencahariannya, dan mempekerjakan 14 karyawan. Usaha dagang yang dirintis oleh Zaenab yaitu mengandalkan rumput laut sebagai bahan dasar untuk diolah menjadi kuliner dodol rumput laut. Dalam pengembangan usahanya, ia pun juga memproduksi kopi rumput laut dan berbagai macam jajanan khas yang ada di desanya.

Sebagai sosok perempuan yang memilki jiwa kemandirian, Zaenab selalu berpikir dan berupaya untuk meningkatkan usaha mandiri yang telah dirintisnya. Ia pun juga tetap berupaya untuk selalu mencari jaringan untuk lebih meningkatkan usaha kreatifitas pada pergerakan kelompok usaha perempuan yang ada di desanya. Ia pun akhirnya aktif mengikuti berbagai kegiatan seminar dan pelatihan yang terkait dengan inovasi desa, entah itu kegiatan pelatihan mengenai usaha industri kecil bagi kempok usaha perempuan, maupun usaha pengembangan perekonomian desa.

Tuhan telah mengatur segalanya tentang pola gerak seorang Zaenab dalam mengabdikan diri pada desanya. Berkat berbagai macam kegiatan seminar dan pelatihan yang dikutinya, dan mampu menujukkan luaran (hasil) pada pengembangan usaha kemandirian yang dirintis di desanya, ia pun akhirnya diundang oleh Professor Basuki (dosen Unram) untuk mengikuti sebuah seminar yang terkait dengan desa terisolir. Dalam hal ini adalah seminar tentang ekonomi kepemimpinan pengembangan desa wisata. Pada seminar tersebut, ia pun mengambil kesempatan untuk memperkenalkan kondisi desanya, yang mana memilki kekayaan sumber daya alam berupa pasir.

Berita Terkait :  Empat Desa Indonesia Masuk Top 100 Desa Wisata Berkelanjutan Dunia

Namun, ia pun menceritakan kalau Desa Bilebante yang sebagai tempat kelahirannya dijuluki sebagai desa debu. Sementara satu sisi, seorang Zaenab memperkenalkan keuletan kaum perempuan dalam berkarya dengan andalan kuliner khas tradisional yang telah berkembang di desanya. Ia pun juga menceritakan kelebihan lain dari desanya, yaitu warga masyarakat yang ramah tama dan terbuka. Selain itu, kerukunan antara dua agama di Desa Bilebante yaitu agam islam dengan agama hindu, serta areal persawahan yang luas dan tampak hijau, yang kesemuanya menjadi tuturan seorang Zaenab pada seminar tersebut. Selebihnya, Zaenab pun sangat mengharapkan agar desa yang terisolir itu dapat berkembang menjadi sebuah desa yang hidup dan makmur.

Terkait dengan seminar ekonomi kepemimpinan pengembangan desa wisata yang telah dikuti di Kota Mataram, Zaenab pun akhirnya dipanggil kembali untuk mengikuti sebuah seminar di Kota Mataram, yaitu seminar pemilihan desitinasi wisata baru. Namun karena Zaenab menginkan agar hasil seminar itu dapat dipercaya oleh warga desa Bilebante dan juga kepada pihak desa, ia pun secara diam-diam mengajak salah seorang dari pihak desa yaitu Fahrul yang posisinya sebagai sekertaris desa.

“Alhamdulillah, dari 3 desa di Lombok yang terpilih sebagai desa binaan untuk dikembangkan menjadi sebuah destinasi wisata baru, Desa Bilebante adalah salah satunya dari ke tiga itu,” ujar Zaenab mengenang saat menghadiri seminar pemilihan destinasi wisata baru, saat ditemui di tempat usahanya.

Seperti yang disampaikan oleh TIM seleksi penentu desa terpilih untuk menjadi binaan destinasi wisata baru, Desa Bilebante sebagai desa binaan untuk destinasi wisata baru karena Desa Bilebante memiliki potensi yang layak untuk dikembangkan sebagai desa wisata. Potensi tersebut adalah karena warga masyarakat Bilebante memilki sifat keramahtamaan yang tinggi dan terbuka. Selain itu, ada dua agama yang berbeda di desa Bilebante, yaitu agama Hindu dan Islam, dan kedua kelompok penganut agama tersebut saling mendukung dan bekerjasama serta memiliki nilai toleransi yang sangat tinggi.

Berita Terkait :  Empat Desa Indonesia Masuk Top 100 Desa Wisata Berkelanjutan Dunia

Zaenab mengungkap kelebihan Desa Bilebante sehingga terpilih menjadi desa binaa untuk destinasi wisata baru. Disampaikan, Desa Bilebante juga memiliki lahan persawahan yang cukup luas dan menghijau. Khusus untuk lahan persawahan tersebut sangat cocok untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata hijau. Dan satu lagi yang potensial untuk dikembangkan menjadi pendukung sebagi desa wisata adalah sumber daya manusia yang ada di Desa Bilebante, yaitu khususnya pada kelompok perempuan, yang mana mereka kreatif untuk berkarya dalam bentuk kuliner makanan trdisional khas suku sasak.

Setahun setelah terpilihnya Desa Bilebante sebagai desa binaan untuk dijadikan sebagai kawasan wisata hijau, Zaenab pun mendapatkan kesempatan untuk mengikuti studi banding di Jogjakarta, yaitu di Desa Penting Sari.

“Kondisi alam Desa Pentingsari sama persis dengan kondisi alam yang ada di Desa Bilebante. Olehnya itu, Desa Bilebante sangat layak untuk dikembangkan menjadi sebuah desa wisata hijau dengan terinspirasi pada Desa Penting Sari,” ujar kembali Zaenab yang juga menegaskan bahwa Kepala Desa Bilebante pada waktu itu terbuka untuk mengembangkan Desa Bilebante menjadi sebuah kawasan wisata hijau.

Berkat pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh melalui studi banding di Jogajakarta, Zaenab yang bekejasama dengan pihak desa menggelar rapat untuk pengembangan desa wisata hijau di Desa Bilebante. Semua toko masyarakat, toko agama, kelompok pemuda, dihadirkan untuk membicarakan tentang pemetaan dalam pengembangan Desa Bilebante menjadi sebuah desa wisata hijau. Hasil rapat tentang pemetaan tersebut adalah diantaranya potensi-potensi yang layak untuk dikebangkan, sumber daya manusia yang akan dilibatkan dalam pengembangan wisata, dan juga termasuk pembudidayaan yang akan ditampilkan sebagai pendukung kunjungan wisata.

“Saya lebih terfokus untuk pengembangan kuliner dengan mengandalkan rumput laut sebagai bahan dasar untuk diolah menjadi makanam, seperti dodol, dan juga makanan khas dari suku sasak,” ujar Zaenab saat ditemui di tempat kediamannya, yang kemudian juga menceritakan bahwa Desa Bilebante pun akhirnya terintis menjadi sebuah desa wisata hijau pada 5 September 2016, Tim Desa Wisata Hijau (DWH) Bilebante mendapat pendampingan dari Deutsche Gesellschaft fur Internationale Zusammbenarbeit (GIZ). (*)

Tinggalkan Balasan