Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Fanny
Fanny Chotimah Sutradara You and I

You and I dan Ikatan Demensia Fanny Chotimah

Berita Baru, Tokoh – Di balik setiap pilihan pasti ada pertimbangan, baik logis, magis, atau perpaduan keduanya. Salah satu sutradara perempuan Indonesia Fanny Chotimah adalah contohnya.

Ia memilih Mbah Kaminah dan Mbah Kusdalini sebagai karakter dalam film dokumenternya You and I bukan karena apa pun melainkan “sekadar” berjodoh. 

Seperti yang ia sampaikan dalam gelar wicara Bercerita ke-96 Beritabaru.co, Selasa (10/5), maksud jodoh tersebut berkelindan dengan demensia. 

Mbah Kusdalini adalah pengidap demensia. Ia memiliki keunikan dengan ingatannya. Di waktu bersamaan, nenek dan ayah Fanny pun mengidap hal yang sama. 

Kali pertama bertemu, kisah Fanny, Mbah Kusdalini sudah demensia, sehingga kesan perdana yang muncul adalah sesuatu yang Fanny membahasakananya sebagai jodoh. 

“Pertama bertemu, aku merasa berjodoh saja ya. Soalnya, nenek dan ayahku juga demensia. Jadi, aku sendiri memiliki ikatan dengan demensia. Pun, ini dipertemukan dengan Mbah Kus yang juga demensia. Akhirnya, ya aku memilih beliau berdua sebagai tema film,” paparnya. 

Meski demikian, di luar adanya ikatan demensia yang melandasi pilihannya, ada beberapa hal lain yang menyebabkan Fanny nyaman dengan Mbah Kaminah dan Mbah Kusdalini. 

Pertama, adanya kesamaan kesenangan. Fanny suka dunia kesenian, sastra dan film, sedangkan mereka—ketika masih muda dulu—juga gemar mengisi paduan suara dan semacamnya. 

“Dari kesamaan ini, efeknya kan obrolana kami menjadi seru dan relate banget,” kata Fanny dalam podcast bertema Perempuan, Film, dan Kreativitas ini. 

Kedua, akses. Mbah Kaminah dan Mbah Kusdalini kebetulan tinggal di kota tempat Fanny menetap, yaitu Solo. 

Dengan ungkapan lain, tata ruang berdampak pada pemilihan Fanny atas tema untuk film dokumenternya. 

Film dan keberpihakan

Dalam diskusi yang ditemani oleh Sarah Monica host kenamaan Beritabaru.co, Fanny berbicara pula tentang pentingnya keberpihakan dalam membuat film. 

Menurut Fanny, seorang pembuat film harus berpihak dan keberpihakan yang ia pilih adalah untuk kemanusiaan. 

Fanny menengarai, manusia adalah entitas yang unik. Ia adalah makhluk yang bisa menjadi sangat baik dan begitu brutal dalam satu waktu.

Untuk itu, mempelajari tentang manusia dan kemanusiaan adalah sebuah upaya yang selalu menarik hati, termasuk dalam dunia film. 

“Aku selalu penasaran dengan kapasitas yang ada dalam diri manusia. Kadang kita baik sekali, kadang bisa sebaliknya. Ini yang selalu aku cari, termasuk tentang apakah peradaban yang sedang kita bentuk ini, harusnya seperti ini atau bagaimana?” tegasnya. 

Keberpihakan Fanny atas kemanusiaan, pada aras tertentu, berhubungan dengan pentingnya melibatkan suatu kesadaran khusus dalam setiap pekerjaan. 

Kesadaran khusus ini mengacu pada upaya untuk senantiasa mempelajari diri sendiri berikut segenap potensi yang ada di dalamnya. 

Jadi, pekerjaan tidak melulu soal uang, tapi juga proses menemukan kembali diri sendiri yang barangkali sudah hilang ditelan kesibukan dan ambisi, sehingga seseorang bisa memiliki sikap dalam merespons sesuatu. 

Melampui You and I 

Menarik diperhatikan, di balik banyaknya penghargaan yang disabet Fanny melalui film debutnya tersebut, yang paling berkesan bagi Fanny justru perjumpaannya dengan Mbah Kaminah dan Mbah Kusdalini. 

Ia mengaku, semua penghargaan yang ia raih hanyalah bonus dari kesempatannya berjumpa dengan Mbah Kaminah dan Kusdalini. 

Ikatan yang terbangun antara Fanny dan keduanya tidak sekadar aktor dan sutradara, tapi kepercayaan, kehangatan berbagi, dan proses belajar. 

“Bagaimana ya, sampai sekarang, ketika ingat beliau, rasanya ingin menangis. Rindu! Aku banyak belajar dari beliau berdua, keteguhannya, kehangatannya.” Ungkap Fanny. 

Perasaan seperti ini tidak bisa dilepaskan begitu saja dari tujuan dari perjumpaan Fanny dan keduanya. 

Niat awal Fanny bertemu mereka bukanlah untuk membuat film, tapi advokasi. Pasalnya, lingkaran tempat Fanny aktif adalah para aktivis. 

Karena Fanny tinggal di Solo dan rekan-rekannya tidak, Fanny diberi kepercayaan untuk intens berkunjung ke Mbah Kaminah dan Mbah Kusdalini. 

Walhasil, dari situlah ikatan yang tidak biasa tersebut terbangun di antara mereka, yang rupanya ini berdampak pada kualitas akting Mbah Kaminah dan Mbak Kusdalini dalam film. 

Pergeseran tak terduga 

Perlu diketahui, film dokumenter You and I mengisahkan tentang persahabatan dua penyintas peristiwa 1965, yaitu Mbah Kaminah dan Mbah Kusdalini. 

Mereka bertemu dan menjadi akrab ketika menjadi tahanan politik karena diduga terlibat G-30S/PKI. 

Selepas beberapa tahun di penjara—Mbah Kusdalini 5 tahun dan Mbah Kaminah 2 tahun—mereka dibebaskan dengan tanpa diberi penjelasan mengapa ditangkap. 

Karena trauma masih menjadi bayangan pekat dalam pikiran dan perasaan—termasuk stigma masyarakat—mereka memutuskan untuk tidak berkeluarga dan hidup berdua, hingga Mbah Kusdalini menghirup napas terakhir. 

Berdasarkan paparan Fanny, mulanya You and I fokus pada sudut pandang peristiwa 1965, tapi karena ternyata keunikan keduanya terletak pada persahabatan, maka ujungnya yang Fanny pilih adalah sudut pandang persabahatan. 

“Uniknya film dokumenter itu kan dinamis ya, jadi bisa berubah-ubah. Setelah kami pelajari, kehidupan mereka pascaperistiwa 65 itu lebih unik, inspiratif, dan luar biasa, seperti bagaimana mereka harus berjuang bersama melawan stigma,” kata Fanny.