Yoshihide Suga, Calon Kuat Perdana Menteri Jepang

Yoshide Suga
Yoshide Suga menjadi digadang-gadang akan menjadi Perdana Menteri Jepang menggantikan Shinzo Abe setelah ia terpilih menjadi pemimpin Partai Demokrat Liberal (LDP) Jepang Rabu, 9 September 2020. Foto: Eugene Hoshiko / Reuters.

Berita Baru, Internasional – Pada hari Senin (13/9), Yoshihide Suga menyampaikan pidato di hadapan anggota Partai Demokrat Liberal (LDP) yang memerintah Jepang setelah diangkat menjadi pemimpin partai yang baru pada hari Rabu (9/9).

Jabatan itu membuatnya hampir pasti akan menjadikannya sebagai Perdana Menteri Jepang yang baru menggantikan Shinzo Abe yang telah mengundurkan diri karena alasan kesehatan.

Dalam pidatonya itu, Suga mengulangi janjinya untuk melanjutkan kebijakan Abe ketika dia menjadi perdana menteri ke-63 Jepang.

“Kami tidak bisa membiarkan kekosongan politik,” kata Suga, dilansir dari Aljazeera.

Pria berusia 71 tahun itu juga menekankan pentingnya penangan negara dalam menghadapi pandemi virus corona.

“Untuk mengatasi krisis dan memberikan rasa lega kepada rakyat Jepang, kita perlu berhasil dalam apa yang telah diterapkan oleh Perdana Menteri Abe,” tambah Suga.

“Ini adalah misiku!” tegasnya.

Para anggota LDP berharap agar Suga tetap mengikuti arah kebijakan yang ditetapkan oleh Shinzo Abe, terutama dalam mempertahankan strategi ekonomi Jepang.

Shinzo Abe ketika memimpin Jepang dianggap beberapa pengamat sukses dalam hal ekonomi berkat kebijakan “Abenomics”, yaitu serangkaian kebijakan stimulus pro-pertumbuhan.

“Suga akan meneruskan visi yang Abe serahkan kepadanya,” kata Takashi Ryuzaki, seorang analis politik dan mantan jurnalis, kepada kantor berita Reuters.

“Jadi Suga tidak perlu memiliki visinya sendiri,” imbuh Ryuzaki.

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, Kepala Sekretaris Kabinet Yoshihide Suga, mantan menteri pertahanan Shigeru Ishiba dan mantan menteri luar negeri Fumio Kishida berfoto bersama setelah Suga terpilih sebagai ketua partai yang baru. Foto: Eugene Hoshiko/Reuters.

Uncle Reiwa

Selama dekade terakhir, Suga menjadi sosok yang terkenal di hadapan publik karena ia merupakan pembicara utama pemerintah. Namun, secara relatif ia tidak menonjolkan diri.

Berita Terkait :  Olimpiade Jepang 2020 Berpotensi Ditunda

Suga menjadi lebih dikenal publik tahun lalu ketika dia memproklamirkan era kekaisaran baru yag dikenal dengan Kekaisaran Reiwa. Atas hal itu, ia kemudian dijuluki ‘Uncle Reiwa’.

Menurut Aljazeera, ia merupakan tokoh di belakang layar yang telah berperan penting dalam menggeser elemen pengambilan keputusan dari birokrasi Jepang yang luas ke kantor perdana menteri dan menjinakkan persaingan faksi di dalam LDP.

Berbeda dengan Abe, Suga bukanlah darah biru atau keturunan dari dinasti politik di Jepang. Suga memulai karir politiknya sebagai orang biasa dan terus meniti karir dalam politik lokal.

“Saya lahir sebagai anak tertua dari seorang petani di Akita [prefektur],” kata Suga kepada anggota partai.

“Tanpa pengetahuan atau hubungan darah, saya terjun ke dunia politik, mulai dari nol. Dan telah mampu menjadi pemimpin LDP, dengan semua tradisi dan sejarahnya,” ucapnya.

Ketika pemilihannya minggu lalu, Suga juga bercerita tentang bagaimana ia tumbuh di komunitas pertanian.

“Dia sangat pendiam,” kata Hiroshi Kawai, mantan teman sekelas SMA yang masih tinggal di kampung halaman Suga di Yuzawa dan bekerja sebagai pemandu wisata lokal, dikutip dari Aljazeera.

“Dia adalah seseorang yang tidak akan kamu perhatikan jika dia ada di sana atau tidak,” imbuhnya.

Suga meninggalkan Yuzawa segera setelah menyelesaikan sekolah menengah dan bekerja di pabrik karton di Tokyo untuk mengumpulkan uang sebagai bekal sekolah di universitas.

Berita Terkait :  Michael Gove: UE Harus Mengakui Inggris sebagai ‘Negara Berdaulat’

Setelah lulus kuliah, ia bekerja sebagai sekretaris untuk anggota parlemen nasional terkemuka dari Yokohama yang merupakan rumah bagi pelabuhan tersibuk di Jepang.

Mengingat mayoritas legislatif LDP, Suga memenangkan suara parlemen hari Rabu dan menjadi perdana menteri ke-63. Foto Eugene Hoshiko / AFP.

Isao Mori, penulis buku biografi Suga yang terbit pada tahun 2016, mengatakan bahwa selama berkarir dalam politik, Suga mendorong proyek ambisius untuk membangun kembali tepi laut Yokohama.

Dalam delapan tahun yang dihabiskannya di majelis kota, Suga dikenal sebagai “walikota bayangan” Yokohama, kata Mori.

Suga juga dikenal dengan etos kerja yang tinggi. Rutinitas kesehariannya hampir selalu ia mulai pukul 5 pagi, lalu ia memeriksa berita, kemudian melakukan 100 sit-up dan berjalan selama 40 menit.

Daisuke Yusa, salah seorang politisi lokal, pertama kali bertemu Suga pada tahun 2004 saat dia bekerja sebagai sales di sebuah perusahaan sampah. Suga segera merekrutnya untuk bekerja sebagai sekretarisnya.

“Dulu dia bilang, pikirkan dirimu sebagai aktor di atas panggung dan pikirkan secara objektif tentang posisi kamu sekarang,” kata Yusa ketika ditanya tentang persepsi bahwa Suga lebih sebagai seorang letnan daripada seorang pemimpin.

Rendah Diri

Yusa juga mengatakan Suga selalu menekankan pentingnya melakukan yang terbaik apa pun pekerjaannya.

“Saya pikir dia bisa tetap dalam posisi seperti itu tanpa ikatan sekolah atau faksi politik karena dia tidak berusaha menonjol,” katanya.

Di bawah pemerintahan Abe yang pertama pada tahun 2006, Suga mengepalai kementerian urusan dalam negeri.

Berita Terkait :  India Cabut Status Otonomi Khusus di Kashmir

Saat menjabat sebagai kepala Mendagri, ia memperkenalkan program pajak kampung halaman, ia menawarkan potongan pajak bagi mereka yang menyumbangkan uang ke kota setempat.

Matsushige Ono, yang menjabat sebagai wakil menteri di bawah pimpinan Suga, mengatakan program tersebut mendapat penolakan keras dari beberapa birokrat, yang menentang penerapan skema pajak tanpa preseden.

“Dia terus mengajukan kasusnya karena dia melihat bagaimana hal ini akan membantu masyarakat pedesaan,” kata Ono.

Ketika Abe mendapatkan kembali jabatan perdana menteri pada akhir 2012, dia kembali merekrut Suga.

Pada tahun 2016, menghadapi tekanan yang semakin kuat, Suga membuat kerangka kerja untuk pertemuan bersama Bank of Japan, kementerian keuangan dan regulator perbankan untuk memberi sinyal kekhawatiran Tokyo kepada investor.

Para pejabat ingin membuat kerangka kerja seperti itu selama bertahun-tahun, tetapi gesekan antar kementerian mencegahnya untuk diterapkan.

Mitsumaru Kumagai, kepala ekonom di Daiwa Institute of Research yang sering berhubungan dengan Suga, mengatakan bahwa Suga sangat mahir dalam menavigasi birokrasi Jepang yang kompleks.

“Dia menyadari siapa dan di mana orang kunci dalam setiap kementerian dan dia memahami bagaimana menggerakkan organisasi dengan menginstruksikan orang itu,” kata Kumagai.

Tahun ini, dukungan untuk pemerintahan turun ketika pandemi virus korona menghantam ekonomi yang sudah melambat.

Ketika kesehatan Abe mulai goyah, spekulasi berkembang tentang ambisi Suga. Dan ketika Abe mengumumkan pengunduran dirinya, Suga bersiap untuk menggantinya.

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan