World Bank: Kejatuhan Ekonomi dapat Meluas Hingga 2021

    Kejatuhan Ekonomi
    (Foto: REUTERS / STRINGER)

    Berita Baru, InternasionalWorld Bank (Bank Dunia) baru-baru ini menerbitkan laporan yang berjudul East Asia and Pacific In The Time of COVID-19. Laporan setebal 234 halaman menyebutkan bahwa negara-negara di dunia akan mengalami kejatuhan ekonomi secara signifikan, bahkan mereka akan mempunyai risiko ketidakstabilan finansial yang tinggi, terutama di negara-negara Asia Timur dan Asia Pasifik dengan hutang yang berlebihan.

    Di tahun 2020, pertumbuhan ekonomi Cina, dalam skenario baseline akan menurun 2.3 persen, dan dalam skenario lower-case 0,1 persen. Sementara di negara Asia Timur dan Asia Pasifik lainnya yang sedang berkembang, dalam skenario baseline akan menurun menjadi 1,3 persen dan menurun 2,8 di skenario lower-case.

    Ekonomi negara-negara Asia Timur dan Asia Pasifik diperkirakan berkontraksi pada tahun 2020, yang akan mengarah pada peningkatan tingkat kemiskinan. Perusahaan yang terhubung dengan sektor yang terkena dampak akan lebih menderita.

    “Dalam skenario lower-case, Anda dapat melihat kontraksi untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade,” ujar Aaditya Mattoo selaku Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik, pada konferensi pers hari Senin (30/3).

    Berita Terkait :  Donasi Tiongkok sebagai Wujud Nilai Solidaritas Imparsial

    Matto juga menambahkan, “bahkan jika Anda melihat ada pertumbuhan ekonomi, ribuan pekerja pariwisata di Thailand, pekerja garmen di Kamboja akan tetap berada di bawah garis kemiskinan.”

    Secara garis besar, laporan ini menguraikan dua skenario yang berbeda terkait dampak ekonomi negara-negara di Asia Timur dan Asia Pasifik: yaitu skenario baseline dan skenario lower-case. Skenario baseline merupakan skenario yang memproyeksikan skala besar pelambatan pertumbuhan diikuti oleh pemulihan yang kuat. Lalu skenario lower-case merupakan skenario adanya kontraksi yang lebih dalam diikuti oleh pemulihan yang lamban setelah selesainya pandemi virus korona.

    Untuk menghadapi krisis ini, negara-negara perlu bertindak cepat dan tegas untuk menahan penyebaran virus, sambil memperluas kapasitas untuk menyembuhkan mereka yang terinfeksi dan menguji serta melacak infeksi.

    Bank Dunia telah mengeluarkan rekomendasi utama yang akan berlaku untuk ekonomi yang bersangkutan. Rekomendasi tersebut adalah mengambil pandangan terpadu tentang kebijakan karantina dan makroekonomi, dan tidak memandangnya sebagai instrumen terpisah untuk tujuan yang terpisah.

    “Hari ini prioritasnya adalah karantina, tetapi untuk mencapai itu, Anda tidak boleh hanya mengandalkan pada pembatasan sosial dan karantina wilayag. Namun Anda juga harus membuat langkah-langkah fiskal, seperti tunjangan sosial dan tunjangan kesehatan, agat dapat lebih efektif,” ujar Mattoo.

    Berita Terkait :  Dampak Covid-19, Gus Menteri Sebut Mayoritas Kades Minta Warganya Tunda Mudik

    Kekhawatiran baru sekarang yang muncul akibat pandemi virus korona adalah terkait resesi global yang dapat terjadi hingga tahun 2021. Hal ini dikarenakan jaringan sosial dan ekonomi sedang hancur, dan bisnis-bisnis banyak yang beralih dalam format daring.

    Misalnya, laporan Bank Dunia menyatakan hitam dan putih bahwa rebound atau titik balik ekonomi mungkin tidak akan terjadi di masa mendatang: “Pengendalian pandemi akan memungkinkan pemulihan, tetapi tetap ada risiko krisis keuangan yang tinggi dan tahan lama bahkan setelah 2020,” tulis laporan itu.

    Secara independen, kepala pengawas keuangan utama dunia, Bank For International Settlements, telah mengeluarkan peringatan yang menyerukan agar para pemimpin global dan bank sentral untuk “segera” meningkatkan upaya untuk memberikan bantuan kepada sektor perekonomian.

    Menurut press release Bank Dunia, Kelompok Bank Dunia telah meluncurkan paket jalur cepat sebesar USD 14 miliar untuk memperkuat tanggapan COVID-19 di negara-negara berkembang dan mempersingkat waktu pemulihan. Paket itu termasuk pembiayaan, saran kebijakan dan bantuan teknis untuk membantu negara-negara mengatasi dampak pandemi dalam bidang kesehatan dan ekonomi.

    Berita Terkait :  Ini Dampak Terlalu Lama Menghabiskan Waktu dengan Ponsel

    IFC menyediakan bantuan USD 8 miliar untuk membantu perusahaan swasta yang terkena dampak pandemi dan mempertahankan bisnis.

    IBRD dan IDA menyediakan USD 6 miliar untuk respons kesehatan.

    Karena negara-negara membutuhkan dukungan yang lebih luas, ke depannya, Kelompok Bank Dunia akan mengerahkan hingga USD 160 miliar selama 15 bulan untuk melindungi kaum fakir dan miskin, mendukung bisnis, dan mendukung pemulihan ekonomi.

    Menurut perkiraan baru yang diterbitkan oleh worldometers.info, sebanyak 786.957 kasus COVID-19, 37.843 kematian. Sebagian besar korban berada di Italia dan Spanyol, di mana kedua negara itu berada pada situasi yang memburuk selama 24 jam terakhir.


    SumberSputnik News
    World Bank
    - Advertisement -

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini