WHO Deklarasikan Virus Corona sebagai ‘Darurat Kesehatan Global’

Berita Baru, Internasional – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyatakan bahwa Virus Corona termasuk dalam darurat kesehatan global. Hal itu karena wabah terus menyebar ke beberapa negara di dunia, seperti dilaporkan oleh BBC, Jumat (31/1).

“Alasan utama deklarasi ini bukanlah apa yang terjadi di China tetapi apa yang terjadi di negara lain,” kata kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Ghebreyesus juga mengatakan kekhawatirannya terkait virus yang akan menyebar ke negara-negara dengan sistem kesehatan yang lebih lemah. Sementara itu, pemerintah AS terus menghimbau kepada warganya untuk tidak melakukan perjalanan ke China.

Departemen luar negeri mengeluarkan peringatan tingkat empat dengan mengatakan bahwa setiap warga negara di China “harus mempertimbangkan untuk pergi menggunakan sarana komersial”.

Jumlah korban jiwa di China saat ini mencapai 213 orang dengan mayoritas di Hubei, sementara sudah hampir 10.000 orang dilaporkan terinfeksi dengan virus.

WHO mengatakan ada 98 kasus di 18 negara lain, tetapi tidak ada kematian dan sebagian besar kasus terjadi pada orang yang pernah ke Wuhan di Hubei. Namun dalam delapan kasus di Jerman, Jepang, Vietnam dan Amerika Serikat – pasien terinfeksi oleh orang yang telah melakukan perjalanan ke Cina.

Berita Terkait :  Para Tokoh Dunia Bicara Soal 'Darurat Iklim'

Sebanyak 18 negara yang telah mengkonfirmasi penjangkitan wabah virus Corona di negaranya, diantaranya 14 Kasus di Thailand dan Jepang, 13 di Singapura, 11 di Korea Selatan, 8 di Australia dan Malaysia, 5 di  Prancis dan AS.

Saat konferensi pers di Jenewa, Dr Tedros menyebut virus itu sebagai “wabah yang belum pernah terjadi sebelumnya.” Dia memuji tindakan luar biasa yang telah diambil otoritas China, dan mengatakan tidak ada alasan untuk membatasi perdagangan atau perjalanan ke China.

“Biar saya perjelas, deklarasi ini bukan suara tidak percaya di Tiongkok,” katanya.

Namun demikian berbagai negara di luar China telah mengambil kebijakan dengan menutup perbatasan yang terhubung dengan China, menutup sarana penerbangan dan perusahaan seperti Google, Ikea, Starbucks dan Tesla telah menutup dan menghentikan operasi.

Di sisi lain, negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah khawatir akan penyebaran virus tersebut karena tidak memiliki cukup alat untuk menghalau dan mendeteksinya. Dengan demikian, virus dengan mudah menyebar tanpa kendali dan bahkan tidak diketahui selama beberapa waktu. Mengingat bahwa wabah virus ini merupakan jenis penyakit baru yang muncul bulan lalu tetapi sudah hampir menginfeksi 10.0000 orang.

Berita Terkait :  Team Aster Terancam Gagal Berlaga di ESL One Los Angeles Major

Sebagaimana wabah Ebola 2014 di Afrika Barat yang diyakini sebagai wabah terbesar dalam sejarah manusia menunjukkan betapa mudahnya negara-negara miskin terjangkit oleh wabah tersebut.

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan