Virus Corona Lebih Rentan Menjangkit Laki-Laki Daripada Perempuan

(Foto: CNBC)

Berita Baru, Internasional – Menurut penelitian ilmuan China, laki-laki memiliki risiko kematian lebih tinggi daripada perempuan jika mereka mengidap virus corona.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan pada hari Senin (16/2), analis mempelajari 72.314 catatan pasien dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok.

Sebagaimana dilansir dari CNBC, Selasa (17/2), catatan merinci sebanyak 44.672 kasus dikonfirmasi dari virus corona, 16.186 kasus yang dicurigai dan 889 kasus di mana pembawa virus corona tidak menunjukkan gejala. Pasien dikategorikan ke dalam tiga kelompok tergantung pada apakah gejalanya ringan, berat atau kritis.

Menurut penelitian tersebut, sebagian besar kasus yang dikonfirmasi dicatat pada orang berusia 30 hingga 69 tahun. Sebagian besar dari mereka yang didiagnosis virus corona telah melaporkan paparan terkait Wuhan, sementara 81% dari kasus yang dikonfirmasi diklasifikasikan sebagai ringan.

Menurut temuan itu, hanya 4,7% dari kasus yang dikonfirmasi telah mencapai status kritis dengan pasien telah menunjukkan gejala seperti sesak napas, syok septik dan disfungsi atau kegagalan beberapa organ. Namun, setengah dari kasus yang dikategorikan kritis telah berakibat fatal, data menunjukkan.

Berita Terkait :  Pemerintah Evakuasi 188 WNI di Kapal World Dream

Data CCDC juga menunjukkan bahwa tingkat kematian lebih tinggi pria daripada wanita. Pemerintah  mencatat prosentase tingkat kematian 2,8% untuk pasien pria dan 1,7% untuk wanita.

Pasien laki-laki menyumbang angka 22.981, atau 51%, dari total kasus yang dikonfirmasi, sedangkan sebanyak 21.691 kasus dikonfirmasi menjangkit pasien perempuan pada 11 Februari, saat pengumpulan data berakhir.

Simon Clarke, associate professor di mikrobiologi seluler, mengatakan pada Selasa (17/2) bahwa perbedaan statistik pada jenis kelamin mungkin bukan karena biologi.

“Mungkin tergantung pada jenis pria dan wanita yang termasuk dalam analisis; mungkin paparan pasien terhadap situasi yang akan menempatkan mereka pada risiko – itu mungkin bukan alasan biologis yang mendasari,” katanya kepada CNBC.

“Anda harus dapat mengecualikan segala macam faktor sosial lainnya untuk dapat mengatakan ada perbedaan biologis yang nyata – itu bisa turun ke keadaan,” pungkasnya.

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan