Berita

 Network

 Partner

Varian Delta Plus Covid-19 Ditemukan di Indonesia

Varian Delta Plus Covid-19 Ditemukan di Indonesia

Berita Baru, Jakarta – Kemunculan varian Delta Plus dengan nomor AY.1 yang merupakan turunan virus Covid-19 varian Delta (B.617.2) telah ditemukan di Indoensia.

Hal itu dilaporkan langsung oleh Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Prof. Amin Subandrio. “Varian Corona AY.1 atau yang disebut varian ‘Delta Plus’ sudah ada di Indonesia (red),” katanya.

Kemunculan varian Delta Plus di India beberapa waktu lalu sempat jadi sorotan lantaran dikhawatirkan bisa memicu gelombang baru Covid-19.

Prof Amin mengatakan Varian Corona AY.1 sebelumnya dilaporkan Public Health England memiliki mutasi K417N yang berada di protein spike, membantu virus menginfeksi tubuh manusia.

Berdasarkan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) varian ‘Delta Plus’ masuk ke dalam variant of concern (VoC). ‘Varian Delta Plus’ sudah diidentifikasi di 11 negara, termasuk Amerika Serikat, berdasarkan laporan NBC News per 2 Juli lalu.

“Varian Delta Plus sebenarnya belum resmi. Kalau yang dimaksud AY.1 sudah ada tiga,” jelas Prof Amin, sebagaimana dikutip dari detikcom, Selasa (27/7).

Prof. Amin menjelaskan bahwa pihaknya telah menemukan tiga kasus virus Covid-19 varian Delta Plus di Indonesia.

Meski begitu, ia belum merinci di mana saja varian tersebut menyebar di Indonesia dan juga tak mengelaborasi lebih lanjut tanggal penemuannya.

Virus Covi-19 varian Delta plus sendiri kini tengah jadi sorotan para peneliti dunia. Sebab, varian ini dikhawatirkan lebih menular dari varian Delta biasa, yang pertama terdeteksi di India.

Sementara, Sunit K. Singh Professor of Molecular Immunology and Virology, Institute of Medical Sciences, Banaras Hindu University menyebut mutasi yang terdapat dalam varian Delta Plus adalah K417N. Mutasi yang juga ditemukan dalam varian Beta.

“Varian Beta dengan mutasi ini telah menunjukkan kemampuan untuk lolos dari antibodi yang diberikan oleh vaksinasi COVID, setidaknya sampai batas tertentu. Dengan kata lain, ada kemungkinan vaksin COVID-19 tidak akan melindungi dari mutasi ini secara efektif,” jelas Sunit mengingatkan bahaya mutasi K417N dalam varian Delta Plus.

Dikutip dari Hindustan Times, pakar virologi India menilai gejala varian Delta Plus tidak memiliki perbedaan signifikan dengan varian Delta dan varian Beta (B1351).

Di antaranya; Batuk, Diare, Demam, Sakit kepala, Ruam kulit, Perubahan warna pada jari tangan dan kaki, Nyeri dada, Sesak napas

Sementara, berdasarkan laporan Balitbangkes Kemenkes RI per 24 Juli 2021, sudah ada 966 kasus COVID-19 varian berbahaya di Indonesia yaitu 897 kasus COVID-19 varian Delta (B16172), 56 kasus varian Alpha (B117), 13 varian Beta (B1351).

COVID-19 varian Delta paling banyak ditemukan di DKI Jakarta yaitu 296 kasus. Disusul Jawa Barat 254 kasus, dan Jawa Tengah 154 kasus.

Ada pun menurut Kepala Ilmuwan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Dr Soumya Swaminathan, menjelaskan varian Corona ‘Delta Plus’ memiliki mutasi yang ada dalam varian Beta (B1351) dan varian Gamma (P1) yang masuk COVID-19 varian berbahaya menurut WHO.

“Mutasi itu memiliki potensi untuk mempengaruhi respons antibodi dalam melawan virus. Sehingga, ada sedikit kekhawatiran bahwa varian (Delta Plus) ini akan menjadi lebih mematikan, karena ia menjadi lebih kebal terhadap obat-obatan,” kata Dr Soumya yang dikutip dari Twitter resmi WHO, Selasa (27/7).

Berikut sebaran lengkap varian Corona berbahaya di Indonesia per 24 Juli 2021.

Varian Corona Delta: 897
Sumatera Utara: 20 kasus, Bengkulu: 3 kasus, Lampung: 3 kasus, Sumatera Selatan: 8 kasus, Kepulauan Riau: 1 kasus, Banten: 12 kasus, Jawa Barat: 254 kasus, DKI Jakarta: 296 kasus, DIY: 20 kasus, Jawa Timur: 14 kasus, Jawa Tengah: 154 kasus.

Bali: 8 kasus, Nusa Tenggara Barat: 16 kasus, Nusa Tenggara Timur: 40 kasus, Kalimantan Tengah: 4 kasus, Kalimantan Timur: 13 kasus, Kalimantan Utara: 8 kasus, Sulawasi Selatan: 11 kasus, Sulawesi Barat: 1 kasus, Gorontalo: 1 kasus, Papua: 10 kasus.

Varian Corona Alpha: 56 kasus
Sumatera Utara: 2 kasus, Riau: 1 kasus, Sumsel: 1 kasus, Kepulauan Riau: 3 kasus, DKI Jakarta: 35 kasus, Jawa Barat: 9 kasus, Jawa Timur: 2 kasus, Jawa Tengah: 1 kasus, Kalimantan Selatan: 1 kasus, Bali: 1 kasus

Varian Corona Beta: 13 kasus
Jawa Barat: 2 kasus, DKI Jakarta: 8 kasus, Jawa Timur: 1 kasus, Bali: 1 kasus, Kalimantan Tengah: 1 kasus

Berita Terkait :  Bupati Jayapura dan Bupati Fakfak Dukung Pengembangan UMKM