Update Covid-19: Tertinggi, Jumlah Kasus AS Ungguli Cina

Jumlah Kasus Covid-19 AS Tertinggi

Berita Baru, Internasional – Pada hari Kamis (26/3), Amerika Serikat (AS) dikonfirmasi menjadi negara dengan jumlah kasus virus korona (COVID-19) tertinggi, bahkan melampaui Cina yang menjadi tempat pertama kali virus muncul.

Menurut database New York Times, AS telah melampaui Cina ketika total 81.321 orang dikonfirmasi telah tercatat positif COVID-19. Di samping itu, tercatat total 1.180 orang telah meninggal karena virus korona.

Tindakan cepat Cina dalam menanggapi virus korona, termasuk penutupan akses masuk dan keluar dari Provinsi Hubei–tempat wabah dimulai, dianggap efektif dalam membantu mengurangi penyebaran virus. Ini terlihat dari mulai berkurangnya jumlah kasus baru di Cina. Dan akhir-akhir ini, Cina hanya mencatat kurang dari 100 kasus baru per hari.

Sementara itu, AS setiap hari mengalami kenaikan jumlah kasus baru setiap harinya. Ini seperti yang terlihat, dua minggu lalu, yakni pada 12 Maret, US Centers for Disease Control and Prevention  (CDC) atau Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS mencatat hanya 1.629 kasus di AS. Dan sekarang sudah lebih dari 81.000 kasus.

Berita Terkait :  Laut China Selatan Memanas, Beijing Minta AS Berhenti Provokasi

Pada pertemuan di Gedung Putih hari Kamis (26/3), Presiden Donald Trump menghubungkan lonjakan jumlah kasus COVID-19 ini dengan peningkatan tes untuk virus.

“Saya pikir ini merupakan penghargaan untuk tes yang kami lakukan,” ujar Trump kepada wartawan yang ditempatkan di ruang rapat yang harus tetap melakukan pembatasan sosial. “Kami melakukan tes pada sejumlah besar orang dan setiap hari,” lanjut Trump. Di samping itu, Trump juga menambahkan dengan menyarankan agar jumlah tes yang dipublikasikan oleh pemerintah Cina tidak dapat dipercaya.

Di kota New York City, yang telah menjadi pusat virus korona di  AS, tercatat sudah lebih dari 37.000 kasus. Jumlah itu membuat rumah sakit di New York City mulai kesulitan dalam menampung pasien. ini seperti yang terjadi di Italia dalam beberapa pekan terakhir.

Antara Selasa (24/3) dan Rabu (25/3) malam, tercatat 88 orang meninggal di New York City. Terkait besarnya jumlah kematian itu, Walikota Bill DeBlasio memperkirakan bahwa setengah dari populasi kota New York, yang berjumlah 8,1 juta orang, pada akhirnya akan terinfeksi COVID-19.

Kantor berita New York Times mengutip seorang dokter dari Elmhurst Hospital Center yang menggambarkan situasi itu sebagai “apokaliptik” karena ada 13 orang meninggal di rumah sakit hanya dalam satu shift. Bahkan New York Times melaporkan beberapa orang meninggal di ruang tunggu, di ruang tidur dan di ventilator tersedia.

Berita Terkait :  Kasus COVID-19 Di Tokyo Melonjak

Sementara itu, pada hari Rabu (25/3) NBC melaporkan bahwa AS telah membuat kamar mayat temporer. Kamar mayat itu dibangun dari tenda putih di luar Rumah Sakit Bellevue di Pulau Manhattan, New York.

Walikota DeBlasio mengatakan pandemi virus korona diperkirakan akan memuncak di New York City dalam tiga minggu.


SumberSputnik News

Tinggalkan Balasan