Uang, Konflik Keluarga, dan Kebijakan Negara dalam Film ‘Choked: Paisa Bolta Hai’

Choked: Paisa Bolta Hai

Berita Baru, FilmChoked: Paisa Bolta Hai rilis pada bulan Juni 2020 lalu, merupakan buah tangan Anurag Kashyap selaku sutradara dan Nihit Bhave sebagai penulis. Sebelumnya, Nihit turut ambil bagian dalam Lust Stories (2018) dan Sacred Games (2018). Anurag Kashyap juga bekerja dalam dua proyek itu, dan film-filmnya yang juga dianggap berhasil adalah Gangs of Wasseypur (2012), Bombay Talkies (2013), dan Bombay Velvet (2015).

Choked: Paisa Bolta Hai menjadi duet besar Netflix dan Good Bad Films, sebuah perusahaan produksi film yang salah satu pendirinya adalah Anurag Kahsyap. Film ini mendapatkan kritik sekaligus pujian. Seperti apa ceritanya?

Sekilas tentang Choked: Paisa Bolta Hai

Film berdurasi 114 menit ini mengangkat kisah Sarita Pillai dan suaminya, Sushant Pillai. Mereka adalah keluarga kelas menengah ke bawah yang tinggal di sebuah apartemen di Mumbai bersama anak mereka, Sameer. Sushant memiliki latar belakang sebagai seorang musisi, ia gemar memainkan gitar dan bernyanyi. Sementara Sarita seorang penyanyi yang piawai. Keduanya dikenal romantis dengan lagu yang mereka dendangkan, hingga suatu ketika mereka mengikuti sebuah kontes musik.

Berita Terkait :  Black History Month: 6 Penyanyi Afrika-Amerika yang Menulis Lagu K-pop Populer

Namun lejadian tak terduga terjadi. Sesuatu, yang membuat Sarita tidak lagi bernyanyi dan Sushant juga tak lagi romantis, tak lagi bermusik. Sarita lalu bekerja sebagai teller bank, sementara Sushant masih menganggur. Sarita berniat memberi ruang bagi Sushant untuk berkarya, namun Sushant sendiri tak bergerak. Hari-harinya ‘sibuk’ dengan bermain karambol dengan tetangga, bahkan terlibat hutang dan hampir tak mendapatkan uang dari bisnis yang ia jalani dengan tetangganya, Dinesh.

Makanya, Saru senang bukan kepalang ketika ia mendapati adanya ‘harta karun’ yang ia temukan di rumahnya. Ia pun mengumpulkannya dan mulai membelanjakannya. Sushant mulai curiga karena ia mendapati adanya barang-barang baru di rumah, dan fakta bahwa Saru mampu membelikan hadiah barang mewah untuk pernikahan anak tetangga mereka. Namun, Saru tak merespon pertanyaan-pertanyaan Sushant.

Hingga suatu ketika, demonetisasi terjadi. Sebagai pegawai bank, Saru pun jadi sibuk menangani nasabah yang ingin menukarkan uang. Di sisi lain, ia juga dikejar-kejar oleh rentenir yang meminjamkan uang pada Sushant namun Sushant tak kunjung membayarnya. Belum lagi cekcok rumah tangganya dengan Sushant yang kian parah. Sementara, Saru ingin menyelamatkan ‘harta karun’ yang ia punya. Namun belum sampai ia memasukkannya ke bank, harta itu keburu hilang.

Berita Terkait :  Baru Tayang di Netflix, Berikut Review Film ‘?’ atau ‘Tanda Tanya’ Karya Hanung Bramantyo

Apa yang terjadi setelahnya?

Layak, dan Penting

Setidaknya, sekali seumur hidup, sisakan waktumu untuk menonton Choked: Paisa Bolta Hai. Meski ada bagian dalam cerita yang nampak kurang solid, namun film ini berhasil mengangkat banyak hal.

Sesuai judulnya, Choked: Paisa Bolta Hai yang berarti money speaks the loudest, film ini bicara soal duit. Tentang keluarga yang butuh duit, duit yang tiba-tiba datang dari arah tak terduga, dan duit yang tiba-tiba juga perginya. Meski pada akhirnya kehilangan uang, Sarita mendapatkan apa yang selama ini ia butuhkan: kerelaan hati untuk tidak lagi merasa bersalah atas masa lalu.

Kalau dilihat-lihat, masalah mereka bukan (hanya) uang. Sarita belum menghadapi realitas dan menerima kesalahannya terdahulu. Ia merasa bersalah dan menyimpan rasa itu tanpa berbagi dengan suaminya.

Saru bahkan menyerahkan mimpinya dan bekerja di bank meski ia tak ingin, dengan niatan memberi ruang bagi Sushant untuk berkarya. Tapi Sushant tidak juga bergerak. Yang jelas, pertengkaran demi pertengkaran bukan hanya membuat rumah tangga mereka kacau, tapi juga menjadikan anak mereka, Sameer, sebagai korban yang harus melihat orangtuanya bertengkar.

Berita Terkait :  Cutie and the Boxer: Apakah Sulit Menjadi Suami-Istri yang Berprofesi Sama?

Choked juga turut memotret korupsi yang dilakukan oleh Rajendra, tetangga Saru sekaligus politisi suatu partai. Yang unik adalah cara Rajendra menyelinapkan uangnya, yang akhirnya nyasar ke Saru.

Film ini juga menyoal pengaruh demonetisasi mata uang di India, yang katanya untuk memerangi: black money, korupsi, dan terror funding. Langkah ini didukung oleh banyak orang, meski juga mengakibatkan kegelisahan. Demonetisasi ini mempengaruhi tingkah koruptor dan politis, yang pada akhirnya juga berdampak pada rumah tangga Sarita. Kok bisa? Tonton dulu, mari.

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini