Trump Batalkan Perjanjian Damai dengan Taliban

-

Berita Baru, Internasional – Presiden AS, Donald Trump, membatalkan perjanjian damai dengan Taliban. Hal itu terjadi setelah Taliban baru-baru ini mengaku melakukan serangan di Kabul dan menewaskan salah seorang tentara AS.

Trump menyebut dalam tweetnya bahwa dia telah berencana bertemu dengan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani dan para pemimpin senior Taliban pada hari Minggu (8/9) dan membahas petemuan tersebut.

“Sayangnya, untuk membangun daya tarik palsu, Taliban mengakui serangan di Kabul yang menewaskan salah satu tentara hebat kita, saya segera membatalkan pertemuan dan membatalkan negosiasi damai,” kata presiden Trump, melalui twitter pribadinya.

Negosiator Amerika Serikat (AS) Zalmay Khalilzad sebelumnya juga telah mengumumkan kesepakatan damai dengan Taliban pada hari Senin (2/9). Kesepakatan damai ini terjadi setelah sembilan putaran pembicaraan antara AS dan perwakilan Taliban, yang diadakan di Doha, ibu kota negara Teluk Qatar.

Perjanjian damai meliputi penarikan 5.400 personel militer AS dari Afghanistan dalam kurun waktu 20 pekan. Namun, Khalilzad menekankan bahwa pengesahan terakhir perjanjian damai masih harus diputuskan Trump.

Namun, pada Kamis 5 September, sebuah bom mobil di Kabul dan menewaskan 12 orang. Salah satu korban tewas adalah tentara Negeri Paman Sam. Satu prajurit asal Romania yang tergabung dalam NATO juga tewas dalam serangan tersebut.

Serangan terbaru di Kabul meningkatkan kekhawatiran bahwa perjanjian damai antara AS dan Taliban tidak akan menghentikan serangan yang hampir terjadi setiap harinya di Afghanistan.
 
Taliban kini menguasai lebih banyak wilayah sejak invasi AS pada 2001, dan masih menolak bernegosiasi langsung dengan pemerintah Afghanistan. Taliban menilai pemerintah Afghanistan hanyalah ‘boneka’ AS.

Negosiasi damai AS dan Taliban telah berlangsung sebanyak sembilan putaran, yang digelar di Doha, Qatar.

Sebagai ganti dari penarikan pasukan, nantinya Taliban akan memberikan jaminan keamanan di Afghanistan dan memastikan tidak ada lagi area di negara tersebut yang dijadikan basis grup ekstremis.
 
Hampir 3.500 personel koalisi internasional telah tewas di Afghanistan sejak invasi 2001, dan lebih dari 2.300 korban adalah prajurit AS.

Saat ini AS memiliki sekitar 14 ribu prajurit yang tersebar di seantero Afghanistan.

Sumber : BBC

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

Facebook Comments