Berita

 Network

 Partner

UIN Suka
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bermitra dengan Institut Leimena adakan program internasional peningkatan kapasitas guru madrasah dan pesantren dalam Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB). Acara digelar secara virtual pada 8-12 November 2021 dengan diikuti oleh 201 guru dari 25 provinsi termasuk Aceh, Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Nusa Tenggara Barat, dan Papua Barat. (Foto: dok. UIN Sunan Kalijaga)

Toleransi dan Kebhinekaan Butuh Perjuangan serta Kerendahan Hati

Berita Baru, Yogyakarta – Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta bersama Institut Leimena bermitra mengadakan program internasional peningkatan kapasitas guru madrasah dan pesantren dalam Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB).

Program tersebut digelar secara virtual pada 8-12 November 2021. Acara diikuti oleh 201 guru dari 25 provinsi termasuk Aceh, Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Nusa Tenggara Barat, dan Papua Barat.

Dalam sambutan kuncinya, Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. Phil. Al Makin, MA. menegaskan bahwa  watak toleransi, damai, dan kebhinekaan bukan barang gratis, melainkan harus diusahakan dan membutuhkan kerendahan hati.

“Untuk menjadi orang yang memiliki toleransi, damai, berbhineka, butuh perjuangan, tidak gratis. Sebaliknya, jika ingin menjadi orang fanatik, radikal, fundamentalis, menolak keragaman, syaratnya cuma 1 tidak perlu belajar dan melupakan semua kebajikan, tutuplah hati rapat-rapat dan turuti ego sendiri,” kata Prof Al Makin, Senin (8/11/2021).

Menurutnya Guru besar filsafat itu, keragaman dan toleransi bukan teori melainkan harus diterapkan secara konkret dalam persahabatan sehari-hari dengan orang yang berbeda.

Berita Terkait :  Ibunda Ajudan Wapres RI Tutup Usia, Ratusan Karangan Bunga Banjiri Rumah Duka di Desa Gumeng Gresik

Mempelajari agama dan keyakinan orang lain, lanjut Prof Al Makin, harus dari orang yang mengimaninya sehingga tidak muncul syak wasangka.

“Saya sudah 7 tahun mempraktikannya (pertemanan lintas agama), alhamdullilah hasilnya luar biasa. Orang-orang yang menjalin pertemanan dengan orang yang imannya berbeda, maka hatinya lebih lapang, lebih rendah hati, lebih ikhlas, dan terbuka,” katanya.

Prof Al Makin menyebut toleransi bukan hanya menerima umat yang berbeda, tetapi adanya komitmen untuk memahami, menjaga hak-hak, bahkan melindungi mereka saat dalam ancaman. Toleransi pada dasarnya bersifat resiprokal (saling).

“Baik perdamaian atau perang ada harga yang harus dibayar. Ketika rumah ibadah dilarang dan kelompok minoritas dipersekusi, harganya di belakang, Indonesia akan runtuh. Jika ingin damai, harganya di depan. Apa harganya? Kurangilah ego, bersikaplah lebih rendah hati dan jangan hanya bicara, tapi mendengar,” lanjut Prof Al Makin.

Sementara Dekan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Dr. Inayah Rohmaniyah, MA. mengungkap, program pelatihan guru dalam LKLB sejalan dengan visi misi Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga yaitu menjadi fakultas yang unggul dan terkemuka dalam pengembangan dan keushuluddinan bagi peradaban.

Berita Terkait :  Enam Kali Berturut-turut, Pemkab Gresik Raih Opini WTP

Dia menyadari madrasah dalam konteks pembangunan peradaban memiliki peran sangat sentral, bahkan menjadi sokoguru bangsa.

“Kami sangat bahagia bisa bergandengan tangan dengan Institut Leimena bersama-sama membentuk masyarakat, calon generasi muda sebagai penentu masa depan bangsa. Hal ini sangat sejalan dengan visi misi fakultas kami yaitu memberi warna bagi peradaban,” kata Dr. Inayah.

Senada dengan itu, Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, menjelaskan LKLB menjadi semakin penting dan relevan terutama bagi para guru.

Tidak bisa dinafikan, kemajuan teknologi telah menghapuskan sekat jarak bahkan waktu sehingga semua orang dengan latar belakang berbeda bisa saling berinteraksi.

“Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, saya setuju sekali, madrasah dan pesantren sangat penting bahkan perlu mendunia. Program ini langkah awal yang perlu dikembangkan agar orang asing bisa melihat bahwa madrasah dan pesantren justru menjadi kunci kerukunan umat beragama di Indonesia,” kata Matius.

Berita Terkait :  Pasang Bendera Merah Putih Mulai 1 Agustus 2020

Dosen Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga, Dr. Fahruddin Faiz, mengatakan pelatihan LKLB pada dasarnya menghidupkan kembali potensi-potensi baik yang sudah dimiliki manusia sebagai makhluk ciptaan Allah.

Dia mendorong para peserta untuk memiliki orientasi hidup transformatif, yaitu terus meningkatkan kualitas diri agar dampaknya tidak hanya dirasakan secara pribadi, tapi juga membawa manfaat bagi lingkungan sekitar.

“Hiduplah dengan orientasi diri untuk hidup semakin baik. Karena aku bertambah baik maka lingkunganku bertambah baik,” kata Fahruddin yang aktif dikenal sebagai ustadz Youtuber.

Program internasional peningkatan kapasitas guru madrasah dan pesantren dalam LKLB ini terdiri dari pelatihan guru dan program alumni berupa webinar internasional, upgrading courses, dan kompetisi.

Kerja sama antara Institut Leimena dan UIN Sunan Kalijaga dalam program ini rencananya akan kembali dilanjutkan dengan mengundang peserta yang berbeda pada akhir November 2021.