Titik Temu HMI dan PMII untuk Indonesia Maju 2045

Berita Baru, Jakarta – Kesejahteraan identik dengan ekonomi. Untuk meningkatkan kesejahteraan  rakyatnya pada 2045, Indonesia menjadikan pembangunan ekonomi sebagai salah satu visi penting dalam perencanaan pembangunan nasionalnya.

Apa yang akan menjadi fokus Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) periode kali ini, seperti disampaikan oleh Raihan Ariatama Ketua Umum Pengurus Besar (PB) HMI dan M. Abdullah Syukri Ketua Umum PB PMII dalam MILLENIAL Talk Beritabaru.co pada Sabtu (3/4), seolah terinspirasi dari skenario Indonesia 2045 di muka.

Mereka sama-sama ingin menjadikan kemandirian ekonomi sebagai jantung organisasi. Menurut Abe, sapaan akrab M. Abdullah Syukri, kemandirian ekonomi bermakna dua hal: internal dan eksternal.

Pertama merujuk pada upaya agar PMII tidak bergantung secara finansial pada pihak mana pun, sedangkan kedua pada kepentingan guna turut membantu rencana pembangunan Indonesia.

Untuk yang terakhir PMII pun berencana dan siap menjadi katalis, bahasanya Abe, dalam memutus rantai ketimpangan pembangunan di Indonesia, mengetahui inilah problem akut pembangunan nasional belakangan. Selain itu, produksi wacana berkualitas khususnya Islam moderat juga menjadi gagasan besar Abe dalam mengawal pembangunan Indonesia.

“Dengan tersebarnya 230 cabang PMII dan 25 PKC di Provinsi, kami optimis bisa menjadi penyeimbang pembangunan Indonesia,” ungkap pria yang baru saja terpilih sebagai Ketua Umum PB PMII pada pertengahan Maret kemarin ini.

Adapun di benak Raihan, sebagai Ketua Umum PB HMI yang baru terpilih pada 17 Maret kemarin di Surabaya, kemandirian ekonomi lebih menyerupai kebutuhan bersama dan pemetaan potensi, khususnya potensi para kader. Dengan ungkapan lain, dipilihnya kemandirian ekonomi sebagai visi Raihan disebabkan oleh pembacaannya atas kader HMI yang sebagian besar tertarik dan bahkan sudah terjun di dunia Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), sehingga mengoptimalkannya adalah langkah yang tepat.

Di luar gagasan ekonomi, Raihan memiliki tiga hal besar lainnya yang akan ia perjuangkan, meliputi keseimbangan antara negara dan agama yang pada dasarnya bagi Raihan memang tidak bertentangan, pemanfaatan platform digital untuk mengelola organisasi, dan eksperimen di berbagai bidang sebagai sebentuk kontribusi dalam menyongsong Indonesia maju 2045.

“Di sini, saya sepakat dengan Mas Abe, bahwa selain kemandirian ekonomi, persoalan agama dan bangsa harus diselesaikan. Sebab jika tidak, segala bentuk pembangunan, termasuk anggaran, akan terhambat dan bahkan teralihkan ke situ,” jelas Raihan dalam diskusi virtual bertajuk Visi Mahasiswa untuk Satu Abad Indonesia ini.

Keren dan Inovatif adalah kunci

Titik temu HMI dan PMII dalam hubungannya dengan Indonesia 2045 tidak saja jatuh pada kemandirian ekonomi, tetapi juga kesadaran akan pentingnya penyesuaian dengan kebiasaan unik para generasi baru bangsa. Sebab hanya dengan itulah, HMI dan PMII akan masih bisa diminati.

Untuk itu, sebagai langkah antisipatif, Abe memperkenalkan gagasan Keren, Maju, dan Mendunia yang fokusnya pada rebranding organisasi biar lebih milenial, kekinian, update, dan semacamnya pada satu sisi dan penguatan tradisi atau apa saja yang menjadi prinsip PMII pada sisi lainnya.

Menurut Abe, beberapa langkah tersebut penting supaya PMII kembali diminati. Adalah sayang ketika mahasiswa hari ini—dengan kondisi politik dan teman-temannya yang semakin tidak tertebak—justru tidak tertarik dengan organisasi pergerakan.

“Begitulah barangkali maksud dari keren. Namun, bagaimanapun ini harus diimbangi dengan maju, yaitu maju secara pemikiran, organisasi, dakwah, dan lainnya. Jangan kalah sama aktivis-aktivis PMII dan NU dulu, aktivis 90-an ataupun aktivis hijaz,” ujarnya.

Sebagai terjemahan atas gagasannya, Abe mengungkap, PMII penting dalam 24 tahun ke depan memperhatikan beberapa hal seperti pengelolaan bonus demografi secara bijak dalam arti PMII tidak boleh membiarkan terjadinya bencana demografi, pengembangan kecakapan profesional dengan mengurangi yang berbau ideologi-politik, pemetaan potensi kader untuk kemudian menjalin kolaborasi baik dengan swasta maupun pemerintah, dan produksi wacana Islam moderat.

Jika Abe memakai “keren”, maka Raihan memilih diksi “inovatif”. Demi tujuan senada, diminati, gagasan Raihan untuk HMI adalah Manifesto Humanis Progresif, yaitu bagaimana segenap program HMI terporos pada pemberdayaan kader, hingga menjadi pribadi yang  inovatif dan melek teknologi.

Secara detail, Raihan melanjutkan, gagasan tersebut tidak jauh berbeda dengan Abe, yaitu seputar pengelolaan bonus demografi. Ini bisa kita lakukan melalui dua hal secara umum selama 24 tahun mendatang. Pertama, belajar dari beberapa negara yang sudah berpengalaman terkait bonus demografi. Kedua dengan mendampingi anak-anak muda, berbagi dengan mereka tentang hal-hal yang lebih instrumental ketimbang ideologis-politis, supaya tidak malah menjadi beban.

Kelas menengah dan milenial

Pengelolaan bonus demografi, Abe dan Raihan bersepakat, penting untuk diimbangi dengan adanya tema pergerakan yang kontekstual atau peka perubahan. Dari sisi Raihan, seiring dengan meningkatnya jumlah kelas menengah, HMI perlu merumuskan pola kaderisasi yang orientasinya pada bagaimana mereka bisa tampil menjadi generasi yang tidak seperti kelas menengah pada umumnya yang konsumtif, kurang bisa bersaing, dan semacamnya.

“Dalam bayanganku, salah satu yang bisa kita lakukan untuk pekerjaan tersebut adalah melalui internalisasi nilai-nilai agama secara seimbang, pemetaan potensi, dan kolaborasi agar produktivitas kita ada yang mewadahi,” ucapnya pria yang menyelesaikan S1 dan S2 di UGM ini.

Apa yang menjadi tema pergerakan PMII kemudian, seperti disampaikan Abe, identik dengan HMI, yaitu pembaruan sistem kaderisasi. Jika Raihan lebih pada tindakan pencegahan, maka Abe pada penyesuaian: menyesuaikan model kaderisasi PMII dengan kebiasaan tiga pihak pengubah tren, mencakup kelas menengah, masyarakat urban, dan milenial.

“Kenapa harus tiga pihak ini? Ya sebab merekalah lokomotif tren, yang saya kira hanya dengan itulah PMII akan bisa selalu relevan,” ujar pria yang menamatkan S2 di Universitas Duisberg Essen Jerman ini.

Sementara itu, dalam hubungannya dengan apa yang perlu ditonjolkan dari Indonesia, mereka bersilang pandangan. Raihan lebih pada pembangunan Sumber Daya Manusia layaknya China dan Nigeria yang dengan menyelesaikan hal ini dulu, Indonesia patut berbangga diri, termasuk persoalan institusionalisasi seperti keterbukaan informasi publik, bebas korupsi, dan sebagainya.

Adapun Abe condong ke arah Bhinneka Tunggal Ika. Indonesia, tegas Abe, patut bangga dengan asas tersebut dan apa yang sudah dilakukannya dengan ribuan pulaunya, beragam bahasanya, suku, budaya, dan semacamnya. Akibatnya, menjaga Indonesia agar tetap Bhinneka Tunggal Ika dan membagikannya ke negara-negara lain adalah hal yang penting dilakukan.

“Yang pasti, khususnya kita semua haruslah bangga menjadi NKRI,” tegas Abe.

“Dan saya kira inilah waktunya untuk menyudahi segala kompetisi dan memulai kolaborasi untuk Indonesia maju 2045,” tambah Raihan memungkasi.

Facebook Comments
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini