Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Tim putri Barcelona, Gio Queiroz, alami pelecahan seksual (foto: Berta Pujadas)
Tim putri Barcelona, Gio Queiroz, alami pelecahan seksual (foto: Berta Pujadas)

Tim Putri Barcelona Alami Pelecehan Seksual



Berita Baru, Sepak Bola – Pesepakbola putri Barcelona, Gio Queiroz, mengaku mendapat pelecahan seksual dari timnya. Sebagai bentuk ketidakterimaan, Queiroz melayangkan surat kepada Presiden Barcelona, Joan Laporta.

“Presiden yang terhormat [Laporta]. Tidak mudah mencapai titik ini. Butuh berbulan-bulan kesedihan dan penderitaan. Terlepas dari semua yang telah saya lalui, hari ini saya dapat mengecam perilaku kasar yang saya alami di dalam tim wanita Barcelona,” ungkap Queiroz dalam suratnya.

Queiroz mengaku mendapat perlakuan otoriter dalam tim. Bahkan ia dilarang menentukan masa depannya. Lain hal, ia juga ditekan agar tidak membela tim nasional Brasil, dan dihukum ketika nekat bergabung Selecao.

“Budaya pelecehan dan kekerasan laki-laki terhadap perempuan tidak dapat diterima atau ditoleransi. Sebagian besar agresor menggunakan kekuatan mereka di dalam perusahaan untuk menundukkan korban mereka, termasuk yang paling rentan, seperti gadis di bawah umur,” jelas Queiroz.

Ketika Queiroz tetap keukeuh ingin mengejar mimpinya, bejibun pelecehan diterimanya. Ia pun diperlakukan sewenang-wenang.

“Saya menerima indikasi bahwa bermain dengan tim nasional Brasil tidak akan menjadi hal terbaik untuk masa depan saya di klub. Mekanisme tekanan lainnya mulai terjadi. Mereka melecehkan saya dengan cara yang kasar, sehingga saya dipaksa menyerah mewakili tim nasional Brasil. Metode sewenang-wenang digunakan dengan tujuan yang jelas untuk merusak kehidupan profesional saya di dalam klub,” ungkapnya.

Tak hanya itu, Queiroz sempat dikurung saat dinyatakan melakukan kontak dengan penyintas COVId-19. Padahal, tidak ada aturan yang mengharuskannya karantina.

“Mereka mengurung saya secara ilegal dan saya tidak bisa meninggalkan rumah. Saya tidak bisa berlatih atau melakukan rutinitas normal. Saya sangat terpukul,” keluhnya

“Saya kemudian dituduh melakukan indisipliner yang serius dan akibatnya, saya akan dikeluarkan dari tim dan menderita konsekuensi serius. Saya benar-benar terkejut.”

Ia berharap agar korban pelecehan seperti dirinya diperlakukan secara bermartabat. Sebab, seiring berjalannya waktu, pelecahan dan kekerasan psikologis dapat memberikan efek buruk bagi penyintasnya.

“Seiring berjalannya waktu, pelecehan dan kekerasan psikologis menjadi lebih intens dan destruktif. Perempuan layak dihormati dan bermartabat,” tegas Queiroz.