Tiga Reporter Wanita Afghanistan Ditembak Mati

(Foto: The Guardian)

Berita Baru, Internasional – Tiga reporter wanita yang bekerja di sebuah stasiun televisi Afghanistan ditembak mati di timur kota Jalalabad, Afghanistan. Merupakan serangkaian pembunuhan terencana dari perang saudara yang coba ditengahi oleh AS.

Zalmai Latifi, direktur Enikass TV mengatakan, para wanita itu bekerja di departemen sulih suara stasiun dan tewas dalam dua serangan terpisah. “Mereka semua sudah mati. Mereka sedang pulang dari kantor dengan berjalan kaki saat ditembak,” katanya kepada Agence France-Presse.

Seperti dilansir dari The Guardian, Rabu (3/3), Seorang wanita lain terluka dalam penembakan itu dan dibawa ke rumah sakit karena berada dalam kondisi kritis.

Mereka adalah siswa sekolah menengah yang bekerja paruh waktu di Enikass, menurut Orzala Ashraf Nemat, ketua thinktank AREU yang berbasis di Kabul.

 “Ini tindakan teror yang sangat memalukan dan disengaja. Tolong jangan mengutuknya saja, ambil tindakan untuk menghentikan pertumpahan darah ini,” katanya di Twitter.

Pembunuhan itu terjadi kurang dari tiga bulan setelah kejadian yang menimpa Malala Maiwand, seorang aktivis masyarakat sipil terkemuka dan wartawan di outlet media yang sama. Ia ditembak mati di mobilnya pada sebuah perjalanan pulang di pagi hari.

Kepala polisi provinsi, Juma Gul Hemat, mengatakan seorang tersangka bersenjata yang memiliki hubungan dengan Taliban telah ditangkap. Namun kelompok pemberontak membantah terlibat dalam serangan itu.

Pembunuhan yang ditargetkan selama berbulan-bulan, yang dilakukan secara teratur di pusat-pusat kota di seluruh Afghanistan telah meneror jurnalis, aktivis hak asasi manusia, aktivis masyarakat sipil, dan lainnya yang bekerja untuk menegakkan demokrasi yang ditolak oleh Taliban.

Beberapa target adalah tokoh yang menonjol tetapi yang lain tampaknya dipilih karena pekerjaan mereka yang dinilai membahayakan.

 “Pembunuhan yang ditargetkan terhadap jurnalis dapat menyebabkan ketakutan komunitas jurnalistik, dan ini dapat menyebabkan swasensor, pengabaian aktivitas media, dan bahkan meninggalkan negara,” Mujib Khalwatgar, kepala kelompok advokasi media Afghanistan Nai, kepada Reuters.

Kedutaan Besar AS di Kabul, yang pada Januari mengutuk pembunuhan tersebut dan mengatakan pihaknya menganggap Taliban bertanggung jawab atas sebagian besar kekerasan ini, menggambarkan serangan terbaru itu sebagai bagian dari kampanye intimidasi.

“Serangan ini dimaksudkan untuk membuat para reporter gemetar ketakutan; pelakunya ingin membungkam kebebasan berbicara di negara di mana media telah berkembang selama 20 tahun terakhir. Ini tidak bisa ditoleransi.”

Presiden AS, Joe Biden, sedang meninjau rencana penarikan penuh pasukan AS yang ditugaskan sejak masa Donald Trump, karena pembicaraan damai antara Taliban dan pemerintah Afghanistan berlanjut di Doha.

Namun demikian, para kritikus khawatir bahwa pemberontak lebih tertarik untuk bermain waktu daripada mengakhiri perang. Karena tujuan akhir mereka adalah menguasai seluruh negara, dengan kekuatan itu tentara Afghanistan tidak dapat lagi mengandalkan dukungan dari militer AS.

Facebook Comments
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini