“The Bajau” : Dilema Para Pengembara Laut

The Bajau
The Bajau

Berita Baru, Jakarta – “The  Bajau” adalah film dokumenter karya sutradara Dandhy Laksono yang mengangkat tentang permasalahan yang dialami oleh masyarakat suku Bajo di Indonesia.

Dandhy Laksono merupakan pendiri rumah produksi Watchdoc, yang kerap memproduksi karya-karya film dokumenter, yang mengkritik terhadap berbagai persoalan di Indonesia sejak tahun 2009.

Pada “The Bajau” dikisahkan, bahwa suku Bajo merupakan masyarakat pengembara laut. Mereka hidup secara nomaden di atas perahu dan memiliki keterikatan dengan laut. Kehidupan mereka yang nomaden dianggap sebagai permasalahan bagi pemerintah beberapa negara, seperti negara Malaysia, Filipina dan Indonesia.

Suku Bajo kerap dituduh melanggar batas- batas perairan negara. Walaupun sebenarnya mereka telah hidup dan mengembara di laut secara turun-temurun, jauh sebelum negara-negara itu terbentuk.

Pemerintah Indonesia, lewat lembaga Dinas Sosial berusaha membuat suku Bajo menetap di daratan, dengan alasan agar anak-anak suku Bajo tidak terlantar dan dapat bersekolah seperti anak-anak lainnya.

Hal ini mengantarkan kita pada konflik-konflik yang kemudian terjadi dan menimbulkan pertanyaan besar. Apakah hidup menetap di darat, bersekolah dan bercocok tanam merupakan hal yang benar- benar dibutuhkan oleh masyarakat suku Bajo?

Sebagian dari suku Bajo tetap memilih untuk tinggal di atas perahu walaupun mereka memiliki rumah di darat, karena bagi mereka hal itulah yang diajarkan oleh orang tua mereka, berada di laut merupakan jalan hidup mereka. Sementara sebagian lagi mengikuti saran dari pemerintah untuk menetap di rumah- rumah di pesisir pulau.

Berita Terkait :  “Vent du Nord” dan Alternatif dalam Kehidupan

Melalui film ini kita diajak untuk melihat lebih dekat kehidupan dari beberapa orang suku Bajo. Bagaimana Suku Bajo yang terbiasa menghabiskan kehidupan mereka di laut, harus menghadapi berbagai masalah, kekecewaan serta ketidakpastian.

Adegan-adegan keseharian suku Bajo yang ditampilkan, serta percakapan yang dilakukan dangan bahasa ibu mereka, membuat kita dapat lebih mudah untuk mengenal dan meresapi mengenai nilai-nilai kehidupan yang diyakini oleh suku Bajo.

Fim ini menjadi menarik karena memperlihatkan kepada kita mengenai bagaimana realita kehidupan masyarakat adat yang berada jauh dari perkotaan, dan juga berada jauh dari pulau Jawa.

Selain itu kita juga dapat memahami mengenai imbas dari intervensi yang dilakukan pemerintah untuk “memanusiakan” masyarakat adat, serta realita–realita yang terjadi terhadap alam dan manusia sebagai dampak dari adanya usaha pertambangan dan perkebunan dalam skala yang sangat besar. [Rizki Hasan]

Jika engkau pergi berlayar. Jangan lupakan kami yang berada di sini ,” – Sajo

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini