Tertinggal dari Rusia dan China, AS Percepat Program Senjata Hipersonik

-

Berita Baru, Internasional – Eksekutif Akuisisi Angkatan Udara Amerika Serikat, Will Roper mengatakan dalam konferensi pers pada tanggal 30 April bahwa Angkatan Udara AS tertarik untuk mempercepat program terbaru teknologi peluru jelajah hipersonik.

“Terkait masalah seberapa cepat kita bisa mencapai teknologi scramjet [supersonic combustion ramjet] yang diintegrasikan ke dalam peluru jelajah, saya pikir kita bisa melakukannya dengan cepat. Saya tidak tahu pasti seberapa cepat. Tetapi mengingat kematangan dari teknologi scramjet, saya berharap bahwa kita akan dapat melakukannya dengan cukup cepat dalam program ini,” jelas Roper.

Beberapa negara seperti China dan Rusia telah lebih dahulu melakukan program senjata hipersonik dengan menggabungkan scramjet dengan peluru jelajah hipersonik. Dan AS dianggap telah berada jauh di belakang mereka. Terkait hal ini, Rooper menegaskan bahwa militer AS “tidak menggabungkan teknologi scramjet dan peluru jelajah hipersonik secara keseluruhan.”

Roper mengatakan, “Secara keseluruhan, kami akan memiliki fleksibilitas yang lebih besar dalam program ini. Itulah salah satu alasan kami tertarik untuk mempercepat teknologi ini. Sudah matang dan sudah siap. Ini akan memberi operator kami fleksibilitas yang lebih besar.”

“Salah satu alasan saya bersemangat memulai program peluru jelajah hipersonik adalah bahwa kita akan memiliki pemasok yang berbeda; dan ini adalah teknologi yang sangat berbeda,” imbuh Roper.

Lebih lanjut, upaya untuk mengembangkan program peluru jelajah hipersonik dapat melibatkan masukan dari Air Force Research Laboratory (AFRL) dan Defence Advanced Research Projects Agency (DARPA). Program ini juga bisa menjadi pendorong progaram dari DARPA sebelumnya, yakni program Hypersonic Air-breathing Weapon Concept (HAWC).

“Teknologi Scramjet sudah berkembang jauh. Saya sangat terkesan dengan apa yang bisa dilakukan dengan teknologi baru itu. Saya memulai pekerjaan ini dengan berpikir scramjet mungkin akan tak lebih baik dari teknologi boost-glide. Saya senang, ternyata saya salah. Ternyat, Scramjet jauh lebih matang dan lebih baik dari yang saya pikir sebelumnya,” ujar Roper.

Formasi dengan kekuatan penuh B-52 Stratofortress.

Pernyataan Roper tersebut muncul sebagai tanggapan atas penrnyataan Michael White pada bulan Maret yang mengatakan bahwa Pentagon sedang berusaha untuk mengejar ketinggalan mereka dengan Rusia dan China yang sudah memulai pengembangan senjata hipersonik.

Michael White, selaku Asisten Direktur Hipersonik di Kantor Wakil Menteri Pertahanan AS untuk Riset dan Teknik mencatat bahwa selama beberapa dekade terakhir, AS adalah yang terdepan di dunia dalam teknologi hipersonik. Namun White menggaris bawahi bahwa AS telah secara konsisten membuat keputusan untuk tidak menerapkan teknologi hipersonik pada aplikasi senjata dan sistem senjata.

“Rusia dan China dengan jujur ​​telah melakukan keduanya. Dan mereka telah melakukan itu beberapa tahun yang lalu. Transisi untuk menerapkan teknologi hipersonik pada aplikasi senjata dan sistem senjata itulah yang membuat mereka berupaya untuk mempercepat program ini,” ujar White.

Pemerintah AS sebelumnya meminta dana sedikitnya US$3,2 miliar untuk program pengembangan senjata hipersonik. Lalu anggaran berikutnya, meningkat hampir US$ 500 juta dari tahun 2020. Anggaran tersebut secara khusus digunakan untuk mendukung peningkatan uji kelayakan dan untuk mempercepat pengiriman sistem senjata hipersonik.


SumberSputnik News
Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

Facebook Comments