Berita

 Network

 Partner

Teknologi AI Jadi Solusi untuk Kurangi Pemborosan Makanan
Teknologi AI Jadi Solusi untuk Kurangi Pemborosan Makanan/Doc. Tidy Planet

Teknologi AI Jadi Solusi untuk Kurangi Pemborosan Makanan

Berita Baru, Inovasi – Tahukah Anda bahwa pemborosan makanan sebenarnya berkontribusi besar dalam pembentukan emisi gas rumah kaca? Ya, fakta yang perlu Anda ketahui adalah bahwa pemborosan makanan bahkan menjadi salah satu penyebab utama emisi gas rumah kaca.

Dengan disadari atau tidak, sering kali kita membeli makanan atau bahan makanan tertentu tetapi kemudian tidak menghabiskannya.

Kebiasaan lainnya mungkin menyimpan sisa suatu jenis makanan atau bahan makanan tertentu yang kemudian hari juga berujung terbuang karena sudah tidak dapat dikonsumsi lagi, misalnya karena sudah kadaluarsa. Itulah salah satu jenis peborosan makanan yang sering terjadi.

Dilansir dari Ubergizmo, sebuah perusahaan bernama Wasteless mencoba untuk mengurangi masalah tersebut memanfaatkan teknologi Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Berita Terkait :  NEC Jepang Ciptakan Sistem Identifikasi Wajah Bermasker

Mereka yakin dengan memanfaatkan teknologi AI dapat membantu mengurangi pemborosan makanan. Hal ini dilakukan salah satunya dengan menggunakan AI untuk secara otomatis menurunkan harga makanan di toko bahan makanan yang telah mendekati tanggal kadaluarsa atau mudah rusak.

“Artinya, semakin dekat makanan tersebut kedaluwarsa, semakin murah harganya. Meskipun supermarket sudah melakukannya, itu tidak selalu menjadi jaminan, dan pada saat didiskon, mungkin sudah terlambat,” kata perusahaan tersebut, dikutip Berita Baru, Kamis (6/5/21).

Wasteless juga mengklaim bahwa sistem mereka dapat menghilangkan pemborosan makanan di toko grosir sebanyak 40%.  Mereka berharap dengan penyempurnaan yang dilakukan pada sistemnya, angka itu dapat didorong lebih tinggi hingga 80%.

Berita Terkait :  Mi Band 6 Xiaomi Akan Dilengkapi Monitor Oksigen Darah

Perusahaan tersebut telah mengerjakan sistem tersebut sejak 2016 dan rencananya sistem akan mulai pengujiannya dengan Metro, sebuah perusahaan yang mengoperasikan 678 toko grosir grosir di seluruh dunia.