Teheran Tolak Permintaan Washington untuk Tidak Menanggapi Pembunuhan Soleimani

Berita Baru, Internasional – Wakil Menteri Luar Negeri Iran Mohsen Baharvand mengklaim bahwa tak lama setelah pembunuhan Komandan Pasukan Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Jenderal Qasem Soleimani, Teheran langsung menolak upaya Washington untuk mencegah serangan balasan oleh pasukan Iran, menurut Fars, Minggu (12/7).

“AS telah mengirim pesan ke Iran melalui duta besar Swiss (yang misinya juga bertindak sebagai bagian kepentingan Washington di Teheran) untuk menuntut Iran agar tidak memberikan tanggapan, tetapi ditolak segera,” kata Baharvand, dilansir dari Sputnik.

Sebelumnya, pada 3 Januari, serangan pesawat nirawak Amerika Serikat (AS) di dekat Bandara Internasional Baghdad menewaskan Jenderal Qasem Soleimani, Wakil Komandan Pasukan Mobilisasi Rakyat (PMF) Irak Abu Mahdi al-Muhandis, empat perwira IRGC dan empat tentara PMF.

Tak lama berselang, 7 Januari, Pasukan IRGC merespons dengan melakukan serangan rudal balistik pada dua fasilitas penampung pasukan AS di Irak, yaitu Al-Asad Airbase dan pangkalan udara di dekat Erbil.

Kemudian, 29 Juni, Jaksa Agung Teheran Ali Alqasi-Mehr mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Presiden AS Donald Trump dan 35 pejabat lainnya atas pembunuhan Jenderal Besar Qassem Soleimani.

Berita Terkait :  Tragedi Penembakan Pesawat Ukraina Berujung Tuntutan Referendum

Klaim Baharvand muncul tak lama setelah kesimpulan penyelidikan PBB terhadap pembunuhan Jenderal Soleimani muncul, bahwa serangan AS terhadap Jenderal Soleimani itu sewenang-wenang dan ringkas.

Penyelidikan PBB itu dipimpin oleh Agnes Callamard, seorang pelapor khusus PBB untuk eksekusi di luar hukum.

Menurut Callamard, serangan AS itu berarti bukan hanya diarahkan untuk Iran, tapi juga Irak. Hal itu dikarenakan serangan dilakukan di tanah Irak dan tanpa izin dari Baghdad. Karena itu, AS juga telah melanggar kedaulatan negara.

“Sulit membayangkan bahwa serangan serupa terhadap seorang pemimpin militer Barat tidak akan dianggap sebagai tindakan perang, yang berpotensi mengarah pada tindakan intens, politik, militer dan sebaliknya, terhadap Negara yang meluncurkan serangan itu,” kata Callamard.

Menanggapi kesimpulan dari Callamard, Baharvand mengatakan kesimpulan itu sangat berharga.

“Kecaman atas tindakan AS oleh Nyonya Callamard sebagai Pelapor Khusus PBB, seorang ahli dan pengacara yang tidak memihak, sangat berharga dan laporan itu sekarang menjadi salah satu dokumen PBB dan akan tetap selama beberapa dekade di masa depan,” kata Baharvand.

Berita Terkait :  Teheran Siap Membayar Kompensasi atas Jatuhnya pesawat Ukraina Januari Lalu

Teheran secara konsisten menuduh bahwa serangan AS terhadap Jenderal Soleimani berarti AS melakukan ‘tindakan perang’.

Sementara itu, pada bulan Januari, Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan bahwa Teheran ‘tidak berpikir mereka [AS] akan menargetkan tamu negara lain.’ Ia juga kematian Jenderal Soleimani itu sebagai ‘martir’ dari ‘seorang komandan besar memerangi terorisme’.

Presiden AS Donald Trump yang mengakui serangan itu atas perintahnya, atas dasar tuduhan bahwa Jenderal Soleimani sedang merencanakan serangan cepat dan megerikkan pada diplomat AS dan personel militer.

Namun tuduhan Presiden Trump itu hingga kini belum terbukti, bahkan tidak dikonfirmasi oleh tim investigasi PBB baru-baru ini.

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan