Berita

 Network

 Partner

BRP Sierra Madre, sebuah kapal angkut terdampar tempat Marinir Filipina tinggal sebagai pos terdepan militer, digambarkan di Second Thomas Shoal yang disengketakan, bagian dari Kepulauan Spratly di Laut Cina Selatan 30 Maret 2014. Foto: Reuters.

Tegas! Filipina Tolak Permintaan China untuk Pindahkan Kapalnya di Wilayah Laut China Selatan Yang Disengketakan

Berita Baru, ManilaFilipina tolak permintaan China dengan tegas untuk memindahkan kapal angkatan laut BRP Sierra Madre yang berlabuh di sebuah atol di Laut China Selatan yang disengketakan.

“Kapal itu sudah ada sejak 1999. Kalau ada komitmen pasti sudah lama disingkirkan,” kata Menteri Pertahanan Delfin Lorenzana kepada wartawan, dilansir dari Reuters, Kamis (25/11).

Pernyataan itu muncul sebagai tanggapan atas permintaan dari Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian, yang mengatakan bahwa Beijing “menuntut pihak Filipina menghormati komitmennya dan menghapus kapalnya yang dikandangkan secara ilegal”.

Lorenzana juga menegaskan bahwa keberadaan kapal itu merupakan penguat dari klaim kedaulatan Filipina di kepulauan Spratly.

Berita Terkait :  Waspada World War 3, Pesawat Bomber AS Terbang di Dekat China

Beting Thomas Kedua, 105 mil laut (195 km) dari Palawan, adalah rumah sementara dari kontingen kecil militer di atas kapal berkarat, yang terjebak di karang.

Kapal itu merupakan kapal pendarat tank dengan ukurang sekitar 100 meter (330 kaki) dan dibangun untuk Angkatan Laut AS selama Perang Dunia Kedua.

China mengklaim sebagian besar Laut China Selatan sebagai miliknya, menggunakan “sembilan garis putus-putus” pada peta yang menurut putusan arbitrase internasional pada tahun 2016 tidak memiliki dasar hukum.

Beting Thomas Kedua berada dalam zona ekonomi eksklusif 200 mil laut Filipina, sebagaimana diuraikan dalam Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS), yang ditandatangani oleh China.

Berita Terkait :  AS Menuding China Berupaya Mencuri Penelitian COVID-19

“Kami memiliki dua dokumen yang membuktikan bahwa kami memiliki hak berdaulat di ZEE kami sementara mereka tidak, dan klaim mereka tidak memiliki dasar,” kata Lorenzana.

“China harus mematuhi kewajiban internasionalnya yang menjadi bagiannya,” imbuhnya. Presiden Rodrigo Duterte pada hari Senin mengatakan pada pertemuan puncak yang diselenggarakan oleh Presiden China Xi Jinping bahwa dia “benci” tindakan China baru-baru ini di beting itu.