Taliban Membara, AS Menarik Pasukan

Taliban

Saya akan memperingatkan semua orang yang berpikir bahwa akan ada penghentian absolut kekerasan di Afghanistan – itu mungkin tidak akan terjadi.

Mark Milley (Kepala Staf Gabungan Jenderal AS)

Berita Baru, Internasional – Dua hari setelah Amerika Serikat (AS) menandatangani perjanjian perdamaian sementara dengan Taliban, para pemimpin senior Pentagon mengatakan pemerintahan AS akan bergerak maju dengan rencana menarik diri dari Afghanistan.

Penarikan itu tepat ketika para pejabat Taliban bersumpah untuk melanjutkan serangan mereka pada AS dan di tengah kondisi pembicaraan intra-Afghanistan yang sudah goyah.

Mark Esper selaku Menteri Pertahanan AS mengatakan bahwa pemerintah akan mulai menarik 8.600 pasukan – dimulai dalam 10 hari ke depan – terlepas dari apakah ada kekerasan yang berlanjut dari Taliban.

Adapun Kepala Staf Gabungan Jenderal, Mark Milley memperingatkan bahwa serangan yang sedang berlangsung dari Taliban kemungkinan tidak terhindarkan.

“Ini akan menjadi jalan yang panjang, terjal, dan bergelombang. Akan ada pasang surut. Kami akan berhenti dan mulai,” ujar Esper kepada wartawan di Pentagon.

“Sikap seperti itu akan menjadi sikap kami selama beberapa hari, minggu, atau bahkan beberapa bulan ke depan,” imbuh Esper.

Perjanjian perdamaian sementara antara AS dan Taliban ditandatangani pada hari Sabtu. Perjanjian itu membayangkan penarikan total sebanyak 8.600 tentara AS dalam waktu 14 bulan.

Berita Terkait :  Keluar Islam dan Masuk Industri Pornografi, Sorang Perempuan Hampir Dibunuh

Sementara, pembicaraan antara pemerintah Afghanistan dan Taliban akan dimulai pada 10 Maret.

Tetapi implementasi dari kesepakatan tersebut sudah mengalami beberapa hambatan dari publik. Ashraf Ghani selaku Presiden Afghanistan telah menolak ketentuan perjanjian terkait pertukaran tahanan Taliban.

Para pejabat Taliban telah menyatakan niat mereka untuk melanjutkan operasi terhadap pemerintah Ghani yang didukung AS.

Seorang jurubicara Taliban mengatakan periode “pengurangan kekerasan” selama tujuh hari sebelum dilakukan penandatanganan perjanjian perdamaian itu hanya berlaku jika memungkinkan isi perjanjian itu lebih baik. Juru bicara Taliban menambahkan, bahwa kelompok Taliban akan menepati janjinya untuk tidak menyerang pasukan AS di waktu itu.

“Saya akan memperingatkan semua orang yang berpikir bahwa akan ada penghentian absolut kekerasan di Afghanistan – itu mungkin tidak akan terjadi. Mungkin tidak akan menjadi nol,” ujar Milley, sembari menyebut perjanjian itu merupakan “langkah maju yang signifikan.”

Terlepas dari deklarasi Taliban dan pemutusan hubungan pertukaran tahanan, Esper tetap mengatakan penarikan awal pasukan AS akan segera dilakukan.

“Apa yang akan kita lakukan adalah, kita akan tetap menarik 8.600 pasukan perlahan-lahan. Lalu kita akan berhenti. Lalu kita akan menilai situasinya, tidak hanya secara taktik di lapangan tetapi juga bagaimana semua pihak memenuhi kewajiban dan komitmen mereka,” ujar Esper.

Berita Terkait :  Roket China, Long March 5B (CZ-5B), Jatuh di Samudera Atlantik

Dia menekankan bahwa komitmen AS, sesuai kesepakatan adalah “berdasarkan kondisi.” Itu bisa berarti bahwa penarikan AS bisa “dijeda” kapan saja. “Tapi kami akan menunjukkan itikad baik dan mulai menarik pasukan kami,” ujar Esper.

Adapun kekerasan yang sedang berlangsung antara Taliban dan pasukan AS, Esper mengatakan, “Harapan kami adalah bahwa berkurangnya tingkat kekerasan dan semoga itu akan berkurang dari waktu ke waktu.”

Seorang mantan pejabat militer AS mengatakan bahwa sekitar 8.600 tentara mungkin jumlah minimum yang diperlukan untuk terus melakukan misi kontraterorisme. Jumlah itu sendiri merupakan jumlah pasukan di Afghanistan pada akhir pemerintahan Obama.

Jika militer AS di sana kurang dari angka itu, maka Amerika Serikat akan mulai kehilangan kemampuan intelijen yang berharga di sana.

Presiden Trump sendiri selalu berkampanye untuk mengakhiri perang. Ia terang-terangan menyatakan keinginannya untuk mengeluarkan pasukan AS dari Afghanistan.

Pada awal-awal masa kepresidenannya, Trump digadang-gadang oleh para pemimpin pertahanan AS akan mengirimkan lebih banyak pasukan ke Afghanistan. Namun pemerintah AS nyaris saja membuat kesepakatan dengan Taliban pada musim panas lalu.

Bahkan Trump secara tiba-tiba membatalkan pembicaraan pada bulan September setelah serangan Taliban menewaskan seorang tentara AS.

Berita Terkait :  Rekonsiliasi Perang Dagang, China Ingin Rollback Tarif

Namun upaya Trump untuk mengakhiri konflik 19 tahun dengan cepat malahan menghadapi perlawanan dari kelompok Hawkish Republicans di Capitol Hill.

Sekutu seperti Senator Lindsey Graham, R-S.C., memuji kesepakatan itu. Sementara sekelompok anggota GOP House yang dipimpin oleh Rep. Liz Cheney, R-Wyo., berargumen dalam sebuah surat bahwa kesepakatan itu dapat membahayakan keamanan Negara AS sembari memperingatkan bahwa Taliban memiliki “rekam jejak memberi konsesi dengan imbalan jaminan palsu.”

Sementara itu, pada hari Senin (2/3) kemarin, menurut Sayed Ahmad Babazai selaku Kepala Provinsi Khost Timur, ledakan di lapangan sepak bola di Khost menewaskan sedikitnya tiga orang. Tidak ada kelompok yang mengklaim serangan itu.

Terkait insiden itu, Miley mengatakan AS belum menentukan siapa yang melakukan serangan itu. Tetapi serangan itu memperkuat kekhawatiran para kritikus bahwa pemerintahan Trump yang sedang mencari jalan keluar dengan cepat dilakukan dengan tanpa ada jaminan perdamaian yang berarti.

Frustrasi dengan konflik yang berkepanjangan telah tumbuh menjadi suasana nasional dalam beberapa tahun terakhir. Konflik yang berlangsung selama 19 tahunan itu telah menewaskan 2.400 warga AS dan ribuan warga Afghanistan lainnya.

Terkait hal itu, calon-calon presiden dari Partai Demokrat juga menyerukan penarikan langsung atau penarikan besar-besaran.

Trump pada hari Sabtu (29/2) memuji kesepakatan itu. Ia mengatakan bahwa ia percaya itu akan berhasil karena “semua orang bosan dengan perang.”

“Saya benar-benar percaya Taliban ingin melakukan sesuatu untuk menunjukkan bahwa kita tidak akan membuang-buang waktu kita,” ujar Trump.

Ia menambahi, “Jika hal-hal buruk terjadi, kami akan kembali. Saya memberi tahu orang-orang: Kami akan kembali dan kami akan kembali begitu cepat, dan kami akan kembali dengan kekuatan yang belum pernah dilihat siapa pun.”

Namun, ia mengakhiri perkataaanya dengan “Saya pikir itu tidak perlu.”


PenerjemahIpung
SumberDefenseone
- Advertisement -

Tinggalkan Balasan