Surati Jokowi, 15 Guru Besar Ingatkan Integritas dan Rekam Jejak Capim KPK

Capim KPK

Berita Baru, Jakarta – Proses seleksi calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (Capim KPK) masih menarik perhatian berbagai kalangan.

Kali ini para Guru Besar dari berbagai kampus besar dan terkemuka di Indonesia turut serta menyerukan masukannya. Hal itu disampaikan melalui surat kepada Presiden Republik Indonesia Joko Widodo atau Jokowi.

“Semoga Bapak (Jokowi_red.) dalam keadaan sehat dan terus berkomitmen untuk memberantas korupsi”. Tulis mereka mengawali surat tertanggal 1 September 2019 tersebut.

Lima belas orang Profesor atau guru besar tersebut mengingatkan bahwa saat ini seleksi Capim KPK telah memasuki babak akhir, dimana Panitia Seleksi (Pansel) akan menyerahkan 10 (sepuluh) nama kepada Presiden.

Oleh karena itu mereka bermaksud menyampaikan masukan sebagai bahan pertimbangan Presiden Jokowi dalam menentukan nama-nama Capim KPK untuk diserahkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

“Prinsip integritas mutlak harus dimiliki oleh Capim KPK karena mereka yang nantinya akan memimpin lembaga anti-korupsi”. Bunyi usulan pertama mereka dalam surat.

Dalam poin pertama masukan para guru besar itu, mereka meminta kepada Presiden agar melihat integritas Capim KPK yang akan diserahkan oleh Pansel.

Berita Terkait :  Usai Penangkapan Komisioner KPU, Bawaslu Upayakan Transparansi Perekrutan PPK

Selain itu mereka juga menegaskan agar Presiden memperhatikan rekam jejak Capim KPK. Tujuannya adalah untuk menjaga kredibilitas lembaga antirasuah tersebut di mata masyarakat dan juga dunia internasional.

“Kami yakin Bapak Presiden menginginkan komisioner KPK mendatang merupakan figur yang tidak bermasalah atau mempunyai catatan negatif di masa lalu”. Ujar 15 Guru Besar tersebut mengingatkan.

Adapun 15 Guru Besar yang menandatangani surat kepada Presiden Jokowi tersebut yaitu Prof Hariadi Kartodihardjo, Prof Bramasto Nugroho, Prof Asep Saefuddin, Prof Sonny Priyarsono, Prof Didik Suharjito, Prof Yusram Massijaya (Institut Pertanian Bogor); Prof Syamsuddin Haris, Prof Mochtar Pabottingi (LIPI); Prof Sulistyowati Irianto (Universitas Indonesia); Prof Sigit Riyanto (Universitas Gajah Mada); Prof Farida Patittingi (Universitas Hasanuddin); Prof Hibnu Nugroho (Universitas Jenderal Soedirman); Prof Ningrum Natasya Sirait (Universitas Sumatera Utara); dan Prof Werry Darta Taifur (Universitas Andalas). [*]

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan