Berita

 Network

 Partner

Sumur Kematian | Cerpen Anas S. Malo
Lukisan Van Gogh

Sumur Kematian | Cerpen Anas S. Malo

Sunyi. Barangkali sepenuhnya hari-hari di tempat itu adalah terdiri dari lengang suara-suara burung hantu, serangga malam, serta suara gemeretak pepohonan. Malam dipenuhi hawa dingin. Tidak ada yang istimewa dari tempat itu, kecuali sumur dengan galian berpuluh-puluh meter yang tampak gelap dan menakutkan.

Menurut kabar yang berembus di masyarakat, ada suara-suara aneh tak bertuan di malam hari. Kadang-kadang ada suara azan berkumandang. Suara itu pelan, seperti kau mendengar suara dari tempat yang berjarak agak jauh, namun, itu berasal dari dasar sumur. Bahkan tidak hanya suara azan, tetapi suara jeritan, rintihan samar-samar terdengar dari dasar sumur itu. Perlu kau mendengarkan dengan cermat agar suara-suara itu terdengar dengan jelas. Terkadang muncul, terkadang hilang. 

Ya, suara itu berasal dari sumur tua yang konon tempat pembuangan mayat orang-orang yang tidak mencapai kesepakatan oleh sekelompok pemberontak.  Di sumur itulah menjadi saksi bisu atas kekejaman orang-orang biadab yang tidak setuju atas ideologi negara. Nenekku pernah bilang, setiap hari, pasti ada mayat yang dibuang ke dalam sumur itu. Tidak hanya mayat, terkadang ada juga orang yang dimasukkan ke dalam sumur itu hidup-hidup.

 Sumur itu telah banyak menampung puluhan mayat, bahkan mungkin saja lebih. Kata nenek, sumur itu dibuat pada masa kolonial Belanda.

Nenek, ayah, ibu dan orang-orang Desa Kanigoro melarang anaknya bermain di sekitar sumur itu. Khususnya melihat atau menengok kedalaman sumur. Aku menduga, jika sumur itu tak berair. Gelap. Tampak dinding-dindingnya ditumbuhi lumut dan beberapa tumbuhan-tumbuhan menjalar. Dan tentu barangkali, banyak hantu, dedemit atau sebangsa jin yang menjadi penghuni di dasar sumur itu. Mungkin, jika seandainya aku diizinkan menengok sumur itu, mungkin saja tak terlihat apa-apa kecuali gelap gundukan batu yang tersusun rapi membentuk lingkaran hingga mencapai puluhan meter. Paling tidak, butuh waktu berhari-hari untuk menggali lubang sumur itu.

Semakin dilarang, semakin tinggi rasa penasaranku. Apalagi, beberapa bulan yang lalu tetangga rumahku ada yang mati setelah mengencingi sumur itu. 

***

Keesokan harinya, aku melihat nenek sedang bersantai menikmati usia senjanya dengan duduk  di kursi di taman depan rumah sambil menunggu matahari terbenam, memegang sebuah tasbih kayu berwarna hitam coklat, yang ia putar berkali-kali. Di depannya ada sebuah meja bundar. Di punggung meja, ada secangkir teh hangat. Asap mengepul. Sesekali dicecap oleh bibirnya yang mengerut. Sementara angin bertiup pelan, menerbangkan layang-layang milik bocah-bocah. Aku mendekatinya, dan duduk di sampingnya. Aku mulai mengawali perbincangan. Kemudian nenek membalasnya ucapkan selamat menikmati keindahan alam dengan mengacungkan jarinya ke arah matahari yang akan terbenam, menyelipkan sebuah senyuman untukku.

Berita Terkait :  Menunggu Hujan dengan Vira dan (Sebuah) Doa

Kami terbiasa berbincang-bincang di taman depan rumah. Mengamati beberapa kumbang yang sedang menghisap nektar di bunga-bunga yang ditanam ibu. 

“Bolehkah aku bertanya kepada nenek?” tanyaku.

“Tentang apa?” jawab nenek sambil pandangannya bergeser ke arahku.

“Kenapa orang-orang melarang anak-anaknya untuk pergi bermain di dekat sumur yang ada di dekat Danau Seda? Dan, ada apa dengan sumur itu, sampai-sampai menengoknya saja tidak boleh?”  

“Sumur itu sangat berbahaya. Konon katanya ada sebuah kerajaan jin di sana. Kamu masih ingat kematian tetangga Parmin? Para warga meyakini kematiannya karena ulah jin penunggu sumur itu dan tentu saja, karena ulahnya sendiri,” ucap nenek.

“Kenapa dengan Parmin?” tanyaku.

“Ketika pergi ia sehat bugar, tetapi setelah pulang ke sumur itu, ia menjadi gila kemudian mati secara mendadak. Nenek yakin pasti itu, karena Parmin menengok ke dalam sumur itu, kemudian dengan sengaja, mengencinginya,” jawab nenek.

“Apakah itu ulah jin yang ada di dalam sumur itu, Nek?”

“Barangkali seperti itu. Makanya, tidak hanya di sumur itu, kamu harus bersikap sopan, di tempat lain, kamu juga harus sopan,” tutur nenek. Aku terdiam mendengar penuturan nenek. Perempuan berusia hampir satu abad itu kemudian menoleh ke hadapanku. 

“Mungkin karena mereka terganggu atau merasa terhina dengan ulah Parmin. Seperti kita, apabila kita merasa terganggu, atau terhina, maka kita akan berusaha untuk menolak semua itu,” sambung nenek. 

Tidak terasa, matahari pun tenggelam. Langit seperti gumpalan gelap. Lampu-lampu jalan dan rumah-rumah warga mulai dinyalakan. Aku melihat sekawan burung kecil terbang ke sana ke mari, mencari sarang untuk bermalam. Pun dengan segerombolan capung terbang tak tahu arah. 

Berita Terkait :  Catatan Seorang Anak

“Seperti sekawan burung kecil itu, tentu mereka tidak mau diganggu kehidupannya. Mereka akan menunggu fajar dan beristirahat, melupakan kejadian hari ini. Hari esok adalah rahasia. Mereka adalah makhluk pandai bersyukur,” ucap Nenek. Aku terdiam, melihat langit yang kemerah-merahan.

***

Jarum jam di dinding terus mengarungi waktu, diiringi oleh suara jangkrik, kodok khas pedesaan. Malam ini, aku berniat tidur agak lebih awal dari biasanya. Aku masuk kamar, menutup pintu tetapi tak terkunci. Berjalan beberapa langkah menuju tepat pada depan jendela bagian dalam. Membuka gorden biru abu-abu dan jendela. Angin menyambut rambutnya. Semilirnya menjalar ke ruangan. Tiba-tiba, aku teringat temanku.

Beberapa hari yang lalu, temanku mengajakku untuk pergi ke sumur itu, tetapi, aku menolak dengan alasan tempat itu berbahaya, seperti yang dikatakan oleh nenek. Tetapi, apa mungkin tempat itu benar-benar berbahaya seperti yang dikatakan oleh nenek dan orang-orang? Barangkali, jika di tempat itu tidak melakukan sesuatu yang buruk, mungkin tidak ada yang perlu dirisaukan. Baiklah, besok aku akan ke sana dengan temanku, gumanku.

Aku memandang di luar jendela. Rumah-rumah, jalanan, pabrik semen seperti kunang-kunang. Lampu-lampu itu selalu menghias malam di desanya, indah dan cantik. Suara kereta api terdengar dari kejauhan, “pasti itu kereta api Semarang-Madiun,” gumamku.

Sejenak aku teringat kembali dengan rencananya pergi ke sumur tua. Kata nenek dan orang-orang desa, sumur tua itu sebagai tempat pembuangan mayat oleh kelompok-kelompok pemberontak. Tetapi, sebenarnya, aku tidak benar-benar tak percaya jika sumur tua itu adalah tempat pembuangan mayat. Aku juga tidak benar-benar percaya, jika sumur itu berbahaya.

Apa yang berbahaya dari sumur tua itu? Apakah sumur tua itu bisa berjalan mengejar orang, menangkapnya lalu memasukkan ke dalamnya? Semua kata orang menjadikanku lebih penasaran. Malam semakin larut. Memadamkan lampu. Kemudian aku mulai beranjak depan jendela menuju tempat tidur. Merobohkan tubuh ke kasur sambil menatap langit-langit, bersembunyi dibalik selimut, dengan iringan doa kecil sebelum tidur. Tetapi aku tidak bisa tidur. Kemudian aku bangkit kembali. Barangkali jika malam hari, aku tidak ada yang melarang pergi ke sana, sebab semua orang sudah tertidur.

Berita Terkait :  Monster dan Burung-Burung Nasar

***

“Kenapa kau membawaku ke tempat ini?” tanyanya, jari telunjuknya menunjuk ke sumur tua. Sumur tua itu tertutup kabut tipis. Udara dingin menyusup di sela-sela pori-pori. Rimbun pepohonan membuat suasana semakin gelap. Suara burung gagak terdengar mengerikan, saling bersahutan dari serangga malam.

“Apa ini sumur tua itu?” tanya temanku, memastikan. 

“Iya, ini adalah sumur tua itu. Aku rasa tidak ada yang membuat istimewa dari sumur tua ini. Tidak seperti apa yang dikatakan orang-orang, jika sumur tua ini adalah sumur yang angker,” jawabku. 

Kami beranjak menuju ke sumur tua itu. Sumur tua itu tertutup oleh kayu yang berbentuk melingkar menutupi lubang sumur. Kami saling pandang. Ada perasaan ragu dan ada rasa penasaran di benak kami. Tanganku memegang lingkaran kayu itu. 

“Apa aku harus membukanya?” tanyaku. Ia hanya diam. Sebenarnya, ia juga penasaran.

Aku terdiam. Dari raut wajahnya mengisyaratkan jika ia sebenarnya ragu, bahkan ia sebenarnya takut kalau sumur itu dibuka. Sempat terbesit pikiran-pikiran yang membuatku takut, karena orang-orang, bahkan nenek dan ibu sudah melarangnya untuk tidak sekali-kali datang ke tempat ini, terlebih membuka sumur tua itu. 

“Kenapa sumur ini dijadikan tempat membuang mayat? Mengapa ada pembunuhan masal?” pikirku.

“Kenapa sumur ini ditutup?” tanyanya.

“Apa kita pergi saja dari tempat ini?” sambungnya.

“Kenapa? Kita sudah berjalan kaki satu kilo lebih untuk mengetahui dasar sumur ini,” ucapku.

“Perasaanku tidak enak. Ayo kita pulang saja,” ucapnya.

“Tidak. Aku harus membuka kayu itu terlebih dahulu,” jawabku.

“Baik, kalau begitu aku akan lari meninggalkan,” pungkasnya. 

Ia berlari. Sementara aku masih di depan sumur, berdiri hendak membuka kayu penutup sumur dengan perasaan penasaran, sekaligus ragu dan takut. Tetapi pada akhirnya, aku berlari terbirit-birit meninggalkan sumur tua itu menyusul temanku yang belum terlampau jauh dariku.


Anas S. Malo, lahir di Bojonegoro, belajar di Universitas Nahdhlatul Ulama Yogyakarta Prodi Teknologi Hasil Pertanian. Karya-karyanya sudah tersiar di media lokal maupun nasional. Antologi cerpennya diterbitkan Belibis Pustaka berjudul Si Penembak Jitu, 2020