Stanza Rumus Luka | Puisi Firmansyah Evangelia

Stanza Rumus Luka
(Puisi, Firmansyah Evangelia)

Riwayat Puisi

;An-Naufil

Bolehkah ku terjemahkan tangismu di jantung matahari
Bilamana, mata langit senantiasa mengasah sisis di dada musim
Lalu, gerimis mimpi-mimpi
Mencipta hujan tak kunjung usai di mataku

Sobat, harus dengan majas dan diksi apalagi yang mesti ku eja
Agar puisi-puisi yang hendak ku persembahkan
Mencapai seribu mata purnama di harianmu

Haruskah ku utus metafora
Untuk segera tunduk di kakimu?
Haruskah ku lepas personifikasi
Untuk menjumpai sajak-sajakmu yang  suci?
Bilanglah, sobat
Agar selama ingatan bangkit
Aku tak getir dan ragu-ragu pula merindukanmu

Sobat, sejatinya
Aku tak pernah pasrah
Melepas terali sakral, dari kesucian hidup di pekarangan sunyi
Sebab, aku masih ingin lama lagi
Mengasah dan bermain-main harapan di matamu
Tetapi, waktu terlalu singakat, Mengutukku untuk pergi darimu

Sabarlah sobat, selama ikan dan laut menyatu
Aku akan tetap senantisa bersamamu.

Annuqayah,2019

Surat kepada Istriku

;Neng Ozara

Pulanglah, Ozara
Pangkuanku masih perawan untukmu
Sebab, rumus-rumus bahagia
Telah sempurna kita cipta

Sejatinya, gilaku tak kunjung reda mencintaimu
Meski, berungkali tangis tandang tak henti-henti di mata
Menyisakan denyar resah di dada malam
Perih, ngeri-ngeri menganga di sekujur tubuh
Tetapi, aku akan tetap senantiasa tabah, Ozara
Sebagaimana ombak
Kerap setia bergemuruh di lautan

Maka, tinggal ku tanggalkan segenap ruang
Bahwa mencintaimu
Adalah belajar menanam tetumbuhan di ladang-ladang.

Annuqayah,2019

Nostalgia paling Baka

I/Ada lagi nostalgia, yang berdenyar lebih getar
Mengirim riak debar pada dada, hingga gemericik kisah dusta
Kunjung lagi di beranda mataku
Darah, kompas cemas semakin ranggas di kepalaku
Menangis pada gemuruh gelombang
Ritmis gersang di cakrawala, mengabadikan gelora mata nyalangku

Senapan apalagi yang mesti di takutkan
Pabila pacul petani, makin mengerang di tubuh sawah-sawah
Matahari berkisah pada langit, lembah, gunung-gunung retak
Urung pasung sebagai bayang-bayang dari kakekku
Menebas luka-luka, resah di sungai-sungai air mata
Dangkal, kerikil-kerikil nya sebagaimana kota-kota menjulang
Dan memanjang di latar gusar paling kasar
Lantas, tragedi kelaparan menganga di tubuh rakyat
Menggali debu-debu cukup taji di curam nadi
Melengking parau desau kebisingan kerbau
Bahkan, kemarau berlari lesat di liang pori-pori
Menerjemahkan girang pecundang, mentri
Juga polisi tak lupa ku baca

Berita Terkait :  Yang Pergi Adalah Waktu

Sejenak dalam diam, tiba-tiba ada yang berbunyi
Di mana! aku bertanya-tanya?
Bom-bom meledak, peluncuran nuklir dari gaza
Gempur Israel, hingga menyisakan tugu-tugu rapuh jadi debu
Berkunjunglah, Tuan
Sebab, derap kaki yang kau hentakkan
Kedamaian perang tercipta jua di negeriku

II/Lihatlah, bendera-bendera telah merdeka
Rantau, subur tembakau-tembakau di seluruh pelosok desa, hutan rimba
Juga ladang tempatku riang memainkan layang-layang

Kini, pandangilah keringat karat di tubuhku
Memasung rumus mimpi, segenap harap dan angan-angan yang kerap kau janjikan
Maka, aku akan segera ber ploklamasi tentang gesa korupsi yang kau asah
Biarkan, kau sangka aku adalah pengkhinat, penebar hoax, dan segala macam ocean
Aku kan tetap senantiasa mengatakan pada rakyat kecil:
Bahwa otakmu, lebih buruk dari tikus yang kelaparan

III/Tunngu! Amarahku
Di depan arak dan bir-bir yang terlanjur tumpah di tubuhmu.

Annuqayah,2019

Nyolo[1]

;lelaki pesisir madura

Berawal dari nyala bulan yang memancar di ruas-ruas dada, sesekali, aku harus menyesaki kerikil-kerikil tajam untuk beranjak, menyusuri jalan-jalan retak, diantara celah sebongkah harap di kepala, Menggenggam segenap bara api menari di tungku colog[2] dan serangkap salendheng[3] di tanganku.

Di belantara laut, ku tatap langit dengan tengadah, mengalirkan Kristal bening do’a-do’a pada tuhan, Agar pada salendheng yang ku pasang, ikan-ikan senantiasa riang jumpalitan

deru gemuruh debur ombak menyapaku, mengajariku cara menerjang sekeranjang karang,  Mematahkan asin resah di lidah, serta mematikan nyalang lelah pada mata, Sebab jeram inginku, setajam sauh-sauh yang menancap di tubuh batu.

Walau penat kian pekat, hingga tubuh tak henti-henti mengalirkan peluh, tetap ku selami hasrat dan niat diatas pasir penindasan, meski sering desing suara-suara perahu, mencumbuiku di ujung waktu.

Ikhwal getar mencipta denyar di darahku, mengalir pada hilir pesisisr batin, bermuara di sungai ruh, melepas desah dari kembang mimpi, maka disitulah, aku tak lagi bisa membedakan, antara gemerlap bintang, dan kebatilan jiwa di tubuhku.

Sebagai penikmat laut, aku mesti tabah dan pasrah pada setiap nasib hidung: busuk tinja, air tuba, serakan sampah, lumpur, kencing nelayan dan muntah manusia, Semuanya larut ku nikmati, dan yang tersisa di dadaku biru keyakinan, tak kenal surut untuk merdeka dari pilihan.

Berita Terkait :  Tiga Anak Rendra Bakal Baca Puisi di Sastra Bulan Purnama Tembi

Semilir angin mendesir-desir menyisir meniup ubun-ubun takdir, mendiami berbagai buih sakral di benakku, meremas sum-sum,  serta meretas girang perih paling taji di curam nadi, Sebab risalah keberuntungan, masihlah akhir dari jawaban.

Fajar menyingsing kemerah-merahan di mataku, gema subuh mengajakku pulang pada peluk anak-istri, padahal, aku masih ingin lama lagi mengasah berkah bersamamu, Tapi bagaimanapun, aku harus segera luruh, Khusyu’ dalam sembahyang ku.

Annuqayah,2019

Hukum Drastis

Semua bilang
Aku adalah lelaki yang kurang paham tentang demokrasi
Menentang peradaban
Serta, menikam raga-raga para pecundang

Whekakartha…
Aku ingin bersumpah
Pada lembah, gunung dan lautan
Bahkan, kekuasaan dewa-dewa di langit biru
Bahwa rekah, resah, pasrah memasung di palung dada

Whekakartha…
Mestinya mala mini aku harus paham
Nuansa riau di dadaku batu-batu
Mengabadikan luka paling sempurna

Whekakartha…
Laskar reformasi
Telah ku pajang dan ku merdekakan poligami, korupsi,
pencopetan di mana-mana
agar wejangan mimpi-mimpi petani, tak asing lagi di kepalaku

whekakartha…
memang aku tak perkasa seperti mentri, insitektur apalagi kapten perang
tapi, aku lebih perkasa, leluasa di angkasa
handai pandai serupa emosi badai
takkan getir, meski segumpal desir khinat musim
kerap mencipta kemarau di mataku

whekakartha…
lebih baik tubuhku terapung di sungai sedarah
serta pecah berkeping-keping di santap kepiting
dari pada, harus menjadi budak di negerimu.

Annuqayah, 2019

Percakapan Seorang Penyair

; Abay Viezcanzello

Di sepertiga malam
aku suntuk di bawah pepohonan rindang
mengasah riwayat tawa diantara sunyi
serta, belajar mengeja majas dan diksi-diksi dari puisi
lalu, diantara mereka berkata:
“aku gigil”
Dengan seketika aku menjawab:
“ini adalah gigil dari perjuangan, tempat kita menempuh jalan dan harapan, yang sudah semestinya di tuntaskan”.

Annuqayah,2019

Stanza Rumus Luka

“Jangan pernah bertanya tentang sajakku yang terluka
Tanyakanlah, luka ini sebab siapa?”

Risau apalagi yang ingin ku jamah
Bila sesak di dadaku
Mencipta kemarau paling ganas ber kepanjangan

Aku terlanjur menikmati tatap matamu
Aku terlanjur meresapi senyum di bibirmu
Bahkan, aku berlebihan
Memuja rembulan yang brerdiam di pipimu

Tuhan,
Jangan takdirkan rumahku luka
Tempat nyenyak pedih
Perih berduri paling taji di nadi
lantas, sempurna mencipta kabar buruk
Berkali-kali dalam segenap mimpiku

Berita Terkait :  Api Perlawanan

Neng, aku mohon maaf
Jika harapku selama ini
Terlalu salah bagimu
Sebab, aku tak tau lagi harus bagaimana
Cara menerjemahkan risalah rasa
yang bukan lagi lumbung dari sandiwara

Neng, surut sudah sungai-sungai di belantara jiwaku
Mengering, tinggal kerikil dan batu-batunya yang tersisa
Masihkah ku sanggup bertahan?

Neng, kali ini engkau merubah segalanya
Padahal, masih banyak yang ingin ku kisahkan padamu
Di antaranya; gerimis hujan dan rahasia senja di pulauku
Tetapi, takdir terlalu singkat
Memisahkan panjang percakapan kita
Neng, mungkin kali ini
Aku telah menjadi api di matamu
Kerap mengasah panas
Dan kobar bara tak kunjung ranggas

Neng, ternyata aku baru paham dan mengerti
Bahwa penyandar bahagiamu
Adalah sosok lelaki yang sempat berjuang denganku.

Annuqayah,2019

Tentang Penulis

Firmansah Evangelia, nama pena dari Andre Yansyah , lahir di pulau giliyang,12 September 2002 ,tepatnya di dusun baru desa banra’as RT:03 RW:06. Alumni MI, MTs pondok pesantren Nurul Iman, menyukai puisi dan tater sejak aktif di beberapa komunitas , di antaranya:PERSI (penyisir sastra iksabad ), LSA (lesehan sastra annuqayah), Ngaji puisi, Mangsen puisi , Sanggar kotemang, poar ikstida.

Beberapa karyanya pernah di muat di : Radar Madura, Nusantara News, Majalah Sastra Simalaba, Buletin Leluhur,Buletin Bindhara, Majalah Pentas, Potrey Prairey, Harian pringadi,dll. Buku puisinya : Duri-duri bunga mawar(FAM publising 2019),Rubaiyat Rindu(Jendela Sastra Indonesia 2019),Entah Apa Yang Merasukimu?(JSI jilid I 2019), Kekasih (Sanggar Sastra Indonesia 2019) Rindu (Tasik Zone 2019), Kenangan (lintang Indonesia 2019).

pernah dinobatkan sebagai juara 1 Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional di jendela Sastra Indonesia 2019, juara 1 Lomba Cipta Puisi Spontan Class Meething yang di selenggarakan MA 1 Annuqayah 2019. menjadi penulis terbaik dalam Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional yang di selenggarakan Sanggar Sastra Indonesia 2019.

Menjadi penulis terpilih dalam Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional yang di selenggarakan lintang Indonesia 2019, menjadi penulis kontributor dalam Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional yang di selenggarakan Tasik Zone 2019. 


[1] Adalah budaya orang Madura ketika mencari ikan tengah malam

[2] Adalah obor untuk menerangi ikan bagi tokang nyolo

[3] Adalah tempat untuk memasukkan ikan yang telah di rangkul

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan