SMAN 7 Semarang Gelar Kampanye Budaya Damai bersama Wahid Foundation

-

Berita Baru, Jakarta – SMA Negeri 7 Semarang bekerjasama dengan Wahid Foundation menggelar kampanye Budaya Damai secara virtual bertajuk “Menumbuhkembangkan Karakter Generasi Muda yang Sehat dan Toleran dalam Bingkai Keberagaman”, Kamis (10/12).

Kegiatan ini melibatkan beberapa elemen organisasi lintas agama di bawah naungan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) seperti Farisma (organisasi siswa Islam), Persik Melody (organisasi siswa Kristen), Katosev (organisasi siswa Katolik), dan perwakilan siswa beragama Buddha.

Dalam kampanye tersebut, perwakilan Wahid Foundation Sarah Hajar Mahmudah kembali menyinggung keberagaman Indonesia, baik dari sisi etnis, bahasa maupun agama. Namun, menurut Sarah, tidak mudah mengelola kerukunan di tengah masyarakat yang mempunyai beragam latar belakang.

“Kita bisa melihat berbagai insiden konflik yang bernuansa perbedaan suku, agama, maupun ras sering kali terjadi,” tutur Sarah.

Menurutnya, gesekan antara kelompok masyarakat yang berbeda identitas itu tidak hanya terjadi dalam kehidupan nyata sehari-hari, namun juga terlihat dalam aktivitas warga Indonesia di media sosial.

Lebih Lanjut Sarah menggaris bawahi tantangan untuk mengelola kerukunan semakin serius terutama bagi lembaga pendidikan di Indonesia. Mengutip hasil survei The Asian Parent Insight tahun 2014, Sarah menyebut pengguna smartphone lebih banyak di kalangan anak-anak muda.

Secara khusus Wahid Foundation menilai hal ini sangat berbahaya jika anak muda sebagai mayoritas pengguna smartphone mengalami gagap dengan keberagaman yang ada di lingkungannya dan tidak dibekali penguatan pendidikan nilai pancasila dan kebhinekaan.

“Salah satu peluang untuk mempertahankan dan merawat semua itu adalah para pemuda harus berani menjadi penggerak dimanapun mereka tinggal,” lanjut perempuan yang juga menjabat sebagai anggota Divisi Advokasi PC Fatayat NU Banten tersebut.

Menurut Sarah, dengan mengedepankan asas toleransi dan menghargai pluralitas, peran seorang pemimpin tidak lagi ditentukan oleh syarat normatif yang diukur dari usia ataupun identitas agama atau keyakinannya.

“Hari ini, sudah banyak anak muda yang diterima dan diakui untuk menjadi ‘young leader’ dalam berbagai sektor. Namun, jika diamati ulang, belum banyak ruang dan peran untuk pelajar (terutama tingkat SMA/SMK_red.) dalam ruang publik,” imbuhnya.

Webinar ini, jelas Sarah, digelar oleh Wahid Foundation untuk mengajak dan merangkul lebih banyak lagi anak muda agar dapat memahami apa itu semangat multikulturalisme dan bagaimana membawa nilai pancasila ke dalam ruang pendidikan dan ranah sosial.

“Sudah saatnya para pelajar, generasi bangsa ini, mampu mengambil peran positif baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah,” tandas Sarah.

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

Facebook Comments